Oleh: Fa’iz Rafi Adnan Syarif
mepnews.id – Sejak zaman dahulu sampai sekarang, makhluk hidup memiliki cara untuk berkomunikasi. Manusia punya berbagai bahasa untuk berkomunikasi. Beda daerah beda pula beberapa suku katanya. Berbeda pulau, negara, benua apa lagi. Hewan pun memiliki ragam suara dan cara berkomunikasi. Dengan raungan, kicauan, auman, lolongan, pekikan dan lain sebagainya.
Dalam pembelajaran, tentunya ada interaksi dan komunikasi antara guru dan peserta didik. Sejak tahun 2022, berdasarkan keputusan Mendikbudristek nomor 56 tahun 2022, Indonesia menggunakan metode pembelajaran yang berfokus kepada peserta didik. Beberapa puluh tahun lalu, menggunakan metode pembelajaran yang berfokus kepada guru.
Salah satu penyebabnya adalah kesadaran akan perubahan dan perkembangan zaman. Hal tersebut semakin terasa saat dan pasca Pandemi COVID-19. Masyarakat, yang sebelumnya biasa dengan pembelajaran di ruang kelas, menjadi harus membiasakan diri belajar menggunakan jaringan internet. Tentunya ada dampak positif dan negatif dari cara belajar yang mengalami perubahan tersebut.
Kemudian, pada masa sekarang, pemerintah telah “menyempurnakan” metode atau cara pembelajaran sehingga mengutamakan interaksi dan komunikasi yang aktif. Guru tidak lagi menjadi sumber utama ilmu pengetahuan, tetapi sebagai mediator atau pendamping peserta didik untuk menggali ilmu yang dibahas serta potensi dirinya. Mereka sangat dianjurkan mengutarakan pendapat dan menyampaikan pertanyaan.
Dengan metode ini, diharapkan pembelajaran tidak membosankan dan justru menarik fokus mereka mengasah kreatifitas. Lebih dari itu, pembelajaran yang aktif ini menghidupkan suasana kelas sehingga ada adrenalin atau semangat dalam mengikuti mata pelajaran.
Mengambil kondisi saat pandemi, tak jarang materi pelajaran yang disampaikan guru melalui aplikasi Zoom, Google Meet, Google Classroom, Edmodo dan lain sebagainya kurang diperhatikan dan dipahami peserta didik. Hal ini mendorong peserta didik yang niat belajar untuk mencari penjelasan lain di internet. Beberapa mungkin mendiskusikan kembali dengan guru di luar jam pelajaran sekolah. Namun, banyak juga peserta didik yang mengeluh banyaknya tugas yang diberikan selama pembelajaran secara daring (dalam jaringan). Hal ini terjadi karena tidak terbiasanya mengerjakan soal yang belum dipahami disertai kecemasan terhadap Virus Corona.
Kembali ke tema pembahasan bahwa pembelajaran aktif sangat diperlukan dan menguntungkan bagi guru dan peserta didik. Mengapa? Karena metode ini membangun suasana kelas yang ceria dan meluaskan wawasan belajar namun tetap tertata karena dampingan guru. Keaktifan tentu bisa meminimalisasi peserta didik mengantuk dan justru bisa mengembangkan diri menjadi lebih kreatif dan inovatif. Guru yang mengampu juga dapat bersama belajar jika ada pengetahuan baru yang disampaikan peserta didik melalui data valid dari internet lewat hasil penelitian, buku ilmiah dan lain sebaginya. Keefisienan dan keefektifan belajar juga semakin berkembang karena materi pebelajaran yang dirasa membosankan bisa lebih berkesan kepada peserta didik.
Selain nilai pembelajaran yang mengalami peningkatan, hal positif dalam hubungan sosialnya adalah peserta didik menjadi lebih percaya diri dan bisa lebih baik dalam berinteraksi dengan orang lain. Hal ini bisa didapatkan ketika peserta didik terbiasa berbicara untuk menyampaikan pendapat, sanggahan dan lain sebagainya kepada guru dan teman-teman sekelas.
Lebih jauh, kemampuan public speaking peserta didik makin terasah dan kelak sangat berguna untuk menjadi bagian dalam masyarakat. Hal lain yang berkembang adalah sikap untuk senantiasa berpikir kritis, membongkar permasalahan dan mencari solusinya. Kemudian jiwa kerja sama juga berkembang karena mereka belajar dengan sebuah kelompok di kelas tersebut.
Akhir kata, kemanfaatan dari pembelajaran aktif sangat terasa ketika guru dan peserta didik memiliki rasa ingin tahu yang besar, jiwa saling menghormati pendapat dan menerima kebenaran dari hal yang didiskusikan bersama.
Mari, di dalam berdiskusi, kita meneladani sikap Imam Asy Syafi’i. Di dalam kitabnya, Imam Syafi’i menuliskan bahwa tujuan berdebat adalah mencari kebenaran, tidak peduli kebenaran itu keluar dari lisan sendiri atau lisan lawan debatnya. Hal ini menunjukan kerendahan hatinya.
Wallahu’alam bishshowwab.
- penulis adalah mahasiswa semester V dan pengurus Himapro Pendidikan Agama Islam [PAI] STAIMAS Wonogiri


