#caknun

GOLDLIGHT DAN PELURU ASIMETRIS Oleh: Emha Ainun Nadjib

Saya sedang memproses modulasi spektrum mata saya ngelihat Reklamasi dll itu dalam simulasi ilmu waktu “Pendekar Khidlir mencekik anak kecil”. Hasilnya kacau. Saya menuduh Negeri ini semakin lama semakin berkabut, padahal mata saya sendiri yang kabur karena usia makin renta. Dan sudah lama terlanjur mufarraqah. Saya menuding Negara ini terbalik menentukan arah. Melihat apa-apa meleset

Read More

PRIBUMI Oleh: Emha Ainun Nadjib

Saya kok cemas melihat Reklamasi, Meikarta, serta banyak program dan kontrak-kontrak yang sejenis itu. Apa kita yakin hari esok pasti bisa kita rancang, laksanakan dan kendalikan. Tentu saja kecemasan saya ini tidak rasional. Karena yang saya cemaskan itu adalah bagian dari kecemerlangan prestasi Pemerintahan yang menurut lembaga-lembaga survei memuaskan 67% rakyat. Bahkan banyak yang meyakini

Read More

DI SELA-SELA HUJAN DERAS Oleh: Emha Ainun Nadjib

Setiap aku menulis, kemudian menengok keluar jendela, selalu lantas kusadari bahwa yang kutulis ini kurang tepat, terhampar beribu pengetahuan hidup yang belum kuketahui. Tetapi kubiarkan tulisan ini menjadi catatan untuk momentumnya. Yang penting aku bahagia, karena Tuhan “mencampakkan”ku ke tengah “mereka”. Siapa mereka? Ini juga bagian dari pengetahuan yang belum benar-benar kuketahui. Sehingga mustahil untuk

Read More

MAKNA KEADILAN Oleh: Emha Ainun Nadjib

Karena otak lèlèt, baru akhir-akhir ini saya memahami bahwa yang dimaksud oleh Indonesia dengan Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Materialisme. Sila kedua hingga keempat adalah Mesin Kapitalisme Liberal. Adapun Sila kelima Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia maknanya adalah Hedonisme. Kemakmuran fisik dan kemewahan cara hidup. Kalau menurut Islam mungkin “hubbud dunya” yang risikonya “karohiyatul

Read More

MEMBACA AMSAL Oleh: Emha Ainun Nadjib

Sejak kecil saya ini orang yang tidak jelas. Sering bertengkar dengan teman-teman. Gara-gara telinga saya ini agak kopoken, sehingga kurang terang mendengarkan. Jadinya sampai tua saya terlalu sering menyusahkan orang. Menjadi sangat parah kalau saya ketemu teman sesama kopoken. Dia menegur: “He, kamu pribumi ya?”. Tentu saja saya marah. “Jangan ngawur kamu. Saya ini asli

Read More

MELUDAHI WAJAH Oleh: Emha Ainun Nadjib

Pemuda belia Ali bin Abi Thalib, berduel meladeni tantangan Amr bin Abd Wad AlAmiri, mewakili Pasukan masing-masing. Pasukan apa? Jangan. Ini kisah tentang zaman di mana suatu bangsa bisa berperang besar di antara mereka karena mempertengkarkan satu kata. Misalnya: pribumi, radikal, kafir, makar, khilafah, dan lain-lain. Cukup beberapa episode pertarungan kecanggihan bermain pedang, Amr tergeletak,

Read More

Hantu dan Peci Reformasi (“Untuk Saya Saja, Ya…”)

Jadi hantu, kadang nikmat kadang capek. Orang pasang macam-macam wajah di mukaku, padahal aku hantu Si Mukarata. Kepalaku menggelinding-gelinding melewati pagar-pagar. Ada yang lari terbirit-birit karena dia bilang aku mengajaknya tertawa “mringis”, sehingga aku digelari Hantu Glundhung Pringis. Padahal aslinya aku menangis. Bagi diriku sendiri aku juga hantu. Kupikir aku kelapa, ternyata semangka. Tetapi di

Read More

MASYARAKAT TAHLIL (Pemimpin dan Pewaris) Oleh: Emha Ainun Nadjib

Bangsa Indonesia sedang terbelah dua. Ada kalangan masyarakat yang sangat bergembira, merasa beruntung, dan berpendapat bahwa kiprah Pemerintahan yang berlangsung ini sebuah kemajuan yang sangat berhasil di semua bidang kehidupan. Ada kalangan lain yang merasa sangat menderita, merasa semakin terpuruk dan berpendapat bahwa Pemerintahan saat ini melakukan penghancuran yang besar-besaran terutama di bidang kesejahteraan dan

Read More

NABI DI JAKARTA (Shiddiq Amanah Tabligh Fathonah)

SUDAH menjadi pengetahuan umum bahwa kalau Tuhan menyuruh kita pergi Haji, Tuhan sendiri tidak lantas mencontohi pergi Haji. Kalau Tuhan memerintahkan kita bayar zakat dan suka bersedekah, Tuhan sendiri jelas Maha Pemurah dan sangat nyah-nyoh. Kalau Tuhan menyuruh kita berpuasa, dalam makna tertentu Tuhan sendiri selalu sangat berpuasa, menahan diri, menunda hukuman. Kalau tidak, layaklah

Read More

TARZAN ABAD 21 (Kasyaf Intelligence) Oleh: Emha Ainun Nadjib

KOLOM ILMU KEHIDUPAN Ya Allah ya Rabbi ya Karim aku Tarzan abad 21. Aku bertanya kepada anak sulungku: “Dunia sudah sampai di mana, Nak?”. Ia menjawab enteng: “AI, Cak, Artificial Intelligence”, seperti menjawab di mana warung tongseng yang paling enak.“Apa itu?”, kukejar. Ia menjawab: “Kecerdasan buatan”. “Yang membuat siapa?” “Ya manusia, Cak, mosok kambing” “Dibuat

Read More