Memahamkan Ortu-Guru: Masalah Anak Tantrum di Sekolah dan Terapi Suwuk

By: Syaifulloh
Penikmat Pendidikan

MEPNews.id —- Kecepatan perkembangan di berbagai bidang pendidikan dengan segala macam kelebihan dan kekurangan telah membentuk perjalan yang penuh makan menuju tujuan pendidkan untuk membentuk manusia cerdas, sehat dan bisa mengikuti perkembangan jaman yang dilandasi nilai-nilai spiritual.

Langkah ideal ini tentunya diusahakan oleh setiap satuan pendidikan untuk dapat mencapainya sesuai dengan kondisi siswa. Bila siswa memiliki bakat terpendam, maka bakat itu bisa dimaksimalkan agar anak bisa berkembang dengan maksimal.

Salah satu bakat anak yang terkadang ada pada siswa di sekolah adalah anak tanrum, anak tantrum dengan kelebihan terpendam ini membutuhkan penanganan terbaik agar dapat berkembang dengan baik sesuai usia perkembangannya.

La Forge (dalam Zaviera, 2008) menilai bahwa tantrum adalah suatu perilaku yang masih tergolong normal yang merupakan bagian dari proses perkembangan, suatu periode dalam perkembangan fisik, kognitif, dan emosi. Sebagai periode dari perkembangan, tantrum pasti akan berakhir.

Dikutip dari wikepidea bahasa indonesia: Tantrum (atau tantrum temper) adalah ledakan emosi, biasanya dikaitkan dengan anak-anak atau orang-orang dalam kesulitan emosional, yang biasanya ditandai dengan sikap keras kepala, menangis, menjerit, berteriak, menjerit-jerit, pembangkangan, mengomel marah, resistensi terhadap upaya untuk menenangkan dan, dalam beberapa kasus, kekerasan. Kendali fisik bisa hilang, orang tersebut mungkin tidak dapat tetap diam, dan bahkan jika “tujuan” orang tersebut dipenuhi dia mungkin tetap tidak tenang.

Kondisi anak tantrum di sekolah bisa menimbulkan berkah dan bisa juga menimbulkan masalah, tergantung dari sudut pandang masing-masing dengan melihat kebutuhan setiap individu Guru.

Bagi guru yang memiliki kelemahan pikir dan fisik, melihat anak tantrum atau anak autis lainnya akan cenderung acuh tak acuh dan tidak memiliki perhatian sama sekali dalam membantu mengatasi bakat terpendam berupa tantrum tersebut. Bisa juga guru tersebut akan terus berdendang membahas kelemahan-kelemahan anak tersebut tanpa menyadari di setiap kelemahan pasti Ada kelebihan yang terpendam.

Model guru semacam ini akan menyulitkan diri sendiri bila tidak menyadari bahwa setiap anak membutuhkan niat baik berupa doa secara kontinyu pada setiap shalatnya agar segera disembuhkan oleh Alloh SWT. Kondisi ini akan menimbulkan aura positif di sekolah dan aura positif ini akan terus mengalir menyentuh relung hati terdalam setiap siswa.

Memahamkan orang tua yang memiliki anak tantrum itu lebih sulit lagi. Kebanyakan orang tua memiliki penilaian berlebihan dalam mengukur kemampuan anaknya. Ketika melaporkan kondisi awal pda masalah kognitif, afektif dan paikomotorik para Ortu akan menyampaikan capaian kompetensi yang berlebihan. Anaknya dianggap mampu melakukan segala macam pengetahuan dasar dan afektif yang bisa menyesuaikan dengan libgkungannya.

Pemahaman kepada Ortu ini penting agar tuntutan dalam pembelajaran tidak melampaui program pendidkan individu (PPI) yang dirancang oleh ahlinya dalam mengatasi masalah tantrum tersebut. Pemahaman Ortu ini memiliki nilai signifikan karena bisa menjadikan keterpautan hati antara wali kelas dan Ortu. Kecepatan belajar yang tidak sama dengan teman lainnya akan diterima dengan baik dan benar.

Banyak teori dari berbagai pakar kesehatan dan psikologi mengatasi anak tantrum agar bisa berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya. Hasil dari penerapan berbagai teorintersehut juga tergantung dari seberapa besar kesabaran masing-masing yang terlibat pda terapi anak tantrum tersebut.

Salah satu terapi yang perlu dicoba adalah dengan terapi suwuk. Terapi suwuk ini adalah terapi yangbsederhana dan bisa dilakukan oleh siapapun pada kondisi apapun dan dimanapun. Hanya membutuhkan keikhlasan dari penerapi untuk melakukannya pada jam-jam tertentu.

Pegang merica 3 biji lalu letakkan diantara jari jempol lalu putar perlahan sebanyak 10 kali, pastikan anak merasa nyaman ketika melakukan perlakuan ini dan merasa membutuhkan ketika menerima sentuhan ini.

Pegang kepala dengan kedua telapak tangan dengan lembut lalu tipu perlahan di ubun-ubunnya, pastikan anak merasa nyaman ketika menerima tiupan ini dan meminta lagi. Bila s anak meminta lagi tiupan ini, kemungkinan anak akan mengalami perkembangan untuk meninggalkan tantrumnya semakin cepat.

Wassalam

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.