Dampak Ganja Lebih Buruk daripada Alkohol

MEPNews.id – Ada studi terbaru yang mengeksplorasi efek obat bius terhadap otak remaja yang sedang berkembang terutama terhadap fungsinya sebagai pengingat bagi pembuatan kebijakan. Analisis menemukan, dampak jangka pendek dan jangka panjang ganja terhadap daya kerja, kemampuan berpikir, dan kebiasaan remaja, ternyata lebih buruk daripada alkohol. Hasil studi ini dipublikasikan di American Journal of Psychiatry.

“Kami agak terkejut dengan temuan ini,” kata penulis utama penelitin, Patricia Conrod, dikutip Ben Schamisso di Newsy edisi 10 Oktober 2018. “Pada awal merancang penelitian hampir 10 tahun lalu, kami sebenarnya menduga alkohol memiliki efek lebih buruk terhadap perkembangan kognitif. Pada saat itu, lebih banyak diketahui tentang efek alkohol terhadap kognisi dan kurang diketahui tentang efek ganja. ”

Conrod adalah profesor psikiatri di Universitas Montreal di Kanada. Penelitiannya mensurvei dan menguji hampir 4.000 siswa di Montreal selama empat tahun, dimulai ketika mereka berusia sekitar 13 tahun.

Di kalangan remaja, efek negatif ganja lebih jelas daripada minum alkohol. Maka, tidak heran jika lebih banyak siswa melaporkan mengonsumsi alkohol daripada menggunakan ganja. Tapi, itu bisa berubah, kata Conrod. Alasannya, proses legalisasi ganja di Kanada dapat menyebabkan peningkatan penggunaannya.

“Orang dewasa dan orang muda menjadi lebih nyaman menggunakan ganja, memiliki pandangan yang lebih liberal tentang penggunaan ganja. Mereka bisa makin meningkatkan penggunaan ganja melalui proses itu,” kata Conrod.

Penelitian ini adalah satu-satunya yang melacak hubungan antara kemampuan kognitif remaja dengan penggunaan zat adiktif dari waktu ke waktu, serta mengungkapkan berapa lama efek berlangsung. “Studi ini menyoroti kebutuhan kaum untuk menunda penggunaan kanabis selama mungkin,” Conrod menyimpulkan.

Salah satu temuan penelitian yang paling meresahkan adalah remaja yang menggunakan ganja memiliki kontrol penghambatan lebih sedikit daripada mereka yang tidak. Padahal, kurangnya kontrol penghambatan, yang merupakan kemampuan menghentikan perilaku kebiasaan seseorang, berarti kemungkinan bakal lebih besar untuk menjadi kecanduan di kemudian hari.

Conrod mengatakan, “Ini bisa menjadi salah satu mekanisme awal saat mana penggunaan alkohol dan narkoba -terutama penggunaan ganja- terlibat dalam risiko masa depan bagi perilaku adiktif dan ketergantungan.”

Conrod menekankan, studinya bukan untuk secara moral mengutuk ganja -terutama saat semakin banyak orang Amerika melihatnya dengan cara lebih baik. Namun, studi ini mengungkapkan risiko kesehatan yang terkait dengan zat adiktif.

Penelitian lain baru-baru ini mengungkapkan hubungan antara penggunaan ganja di kalangan orang muda dengan defisit kognitif. Penelitian itu menunjukkan, penggunaan ganja di kalangan remaja dapat menyebabkan peningkatan upaya bunuh diri dan episode psikotik.

Facebook Comments

POST A COMMENT.