Asam Urat; Karena Diet atau Genetik?

MEPNews.id – Ada keyakinan yang dipegang luas bahwa gout disebabkan terutama oleh diet. Tapi, keyakinan itu mendapat tantangan oleh penelitian yang baru diterbitkan di The BMJ dan dirilis EurekAlert! edisi 10 Oktober 2018. Dikatakan, diet secara substansial kurang penting daripada unsur gentika dalam pengembangan tingkat serum urat tinggi, yang sering mendahului terjadinya gout.

Gout adalah gangguan persendian yang menyebabkan rasa sakit dan pembengkakan ekstrim. Penyakit ini sering terjadi pada pria berusia 40 atau lebih tua. Penyebabnya, kelebihan asam urat dalam darah (dikenal sebagai hyperuricaemia) sehingga membentuk kristal yang terkumpul di sekitar sendi.

Selama berabad-abad, diet dilihat sebagai faktor risiko untuk pengembangan kelebihan asam urat. Studi terbaru menunjukkan makanan tertentu (misalnya; daging, kerang, alkohol dan minuman ringan bergula) dikaitkan dengan risiko gout lebih tinggi, sementara yang lain (misalnya buah, sayuran, produk susu rendah lemak dan kopi) memiliki efek perlindungan. Studi ini juga menunjukkan faktor genetik memainkan peran lebih penting.

Untuk lebih memahami bagaimana diet dan gen dapat mempengaruhi perkembangan kelebihan asam urat, tim peneliti yang berbasis di Selandia Baru menganalisis data survei diet untuk 8.414 pria dan 8.346 wanita keturunan Eropa dari lima penelitian kohort Amerika Serikat.

Peserta berusia di atas 18 tahun tanpa penyakit ginjal atau asam urat, dan tidak menggunakan obat penurun asam urat atau diuretik. Pengukuran kadar asam urat dalam darah dan profil genetik dicatat. Faktor-faktor yang bisa mempengaruhi hasil, antara lain jenis kelamin, usia, indeks massa tubuh, asupan kalori harian, pendidikan, tingkat latihan, dan status merokok, juga diperhitungkan.

Analisis diet mengungkapkan, tujuh makanan yang berhubungan dengan peningkatan kadar asam urat (bir, minuman keras, anggur, kentang, unggas, minuman ringan, dan daging) dan delapan makanan yang berhubungan dengan penurunan kadar asam urat (telur, kacang tanah, sereal dingin, susu skim, keju, roti coklat , margarin, dan buah non-sitrus).

Namun, masing-masing makanan ini hanya mengungkapkan kurang dari 1% variasi kadar asam urat dalam darah.

Demikian pula, tiga skor diet, berdasarkan pedoman diet sehat, memang terkait dengan kadar asam urat lebih rendah. Yang keempat, berdasarkan diet tinggi makanan tidak sehat, juga terkait dengan peningkatan kadar asam urat. Namun, sekali lagi, masing-masing skor diet ini hanya menjelaskan sangat sedikit (kurang dari 0,3%) varians dalam kadar urat.

Sebaliknya, analisis genetik mengungkapkan faktor genetik umum bisa menjelaskan hampir seperempat (23,9%) variasi dalam kadar urat.

Para peneliti menunjukkan beberapa keterbatasan, antara lain penggunaan kuesioner makanan yang berbeda antara studi, dan fakta bahwa penelitian ini terbatas pada individu keturunan Eropa tanpa asam urat, sehingga temuan ini mungkin tidak dapat digeneralisasi untuk populasi lain atau penderita gout.

Namun demikian, peneliti mengatakan data mereka “penting dalam menunjukkan kontribusi relatif dari diet secara keseluruhan dan warisan faktor genetik pada varians populasi tingkat serum asam urat.”

Mereka menyimpulkan: “Data kami menantang persepsi masyarakat secara luas bahwa hiperurisemia terutama disebabkan oleh diet. Data kami menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa varian genetik memiliki kontribusi jauh lebih besar terhadap hiperurisemia daripada sekadar diet.”

Dalam editorial terkait, para peneliti di Universitas Keel menunjukkan penderita gout sering mengalami stigma dari kesalahpahaman bahwa itu adalah kondisi diri yang disebabkan gaya hidup tidak sehat. Skibatnya, mereka sering enggan untuk mencari bantuan medis.

Penelitian ini memberikan bukti penting bahwa banyak pasien hiperurisemia dan kelebihan asam urat tidak dapat diubah dengan diet. “Ini melawan pandangan dan praktik yang berbahaya tetapi mapan, dan memberikan kesempatan untuk mengatasi hambatan serius untuk mengurangi beban kondisi umum. Gout sebenarnya mudah diobati,” kata peneliti di The BMJ.

Facebook Comments

POST A COMMENT.