Bisa Laba-laba Australia untuk Kanker Kulit

MEPNews.id – Jangan keburu jijik atau takut pada hewan-hewan yang berbisa mematikan. Tak jarang, pada hewan seperti itu justru ditemukan peptida yang berpotensi menyelamatkan kehidupan manusia. Kalajengking, ular derik, hingga laba-laba telah memberi para ilmuwan bahan untuk obat-obatan generasi berikut. Funnel-web spider (laba-laba yang sarangnya berbentuk corong) dari Australia dapat mengeluarkan bisa yang di dalamnya terdapat senyawa pembunuh ampuh sel-sel melanoma (kanker kulit).

Nick Lavars dalam NewAtlas edisi 8 Oktober mengabarkan, para ilmuwan di lembaga penelitian QIMR Berghofer dan University of Queensland di Australia terinspirasi oleh peptida yang ditemukan pada laba-laba Acanthoscurria gomesiana di Brasil. Peptida yang disebut Gomesin ini diketahui memiliki sifat melawan kanker. Nah, karena funnel-web spider di Australia membawa peptida yang memiliki sifat kimia serupa, tim peneliti menganggapnya bermanfaat untuk melihat bagaimana melawan kanker kulit.

“Dalam percobaan laboratorium, kami menemukan peptida pada laba-laba Australia lebih baik dalam membunuh dan menghentikan penyebaran sel-sel kanker melanoma, daripada peptida laba-laba Brasil,” kata Dr Maria Ikonomopoulou, yang memimpin penelitian. “Selain itu, peptida laba-laba Australia tidak memiliki efek toksik pada sel kulit sehat. Ketika kami menguji dalam laboratorium, peptida laba-laba Australia bisa membunuh sebagian besar sel melanoma manusia. Kami juga menemukan peptida ini memperlambat pertumbuhan melanoma pada tikus.”

Menariknya, peptida yang ditemukan ini memiliki efek positif bagi makhluk lain asli dari Australia yakni Tasmanian devil. Hewan marsupial pemakan daging ini sering mengalami penyakit yang disebut tumor wajah Tasmanian devil (DFTD). Penyakit menular ini menyebar melalui gigitan yang sering menyebabkan kematian Tasmanian devil. Begitu banyaknya kematian, spesies Tasmanian devil sekarang terdaftar sebagai terancam punah.

Para ilmuwan mengekstraksi sel-sel dari DFTD dan menguji seberapa efektif senyawa peptida laba-laba mampu membunuh mereka. Seperti pada sel melanoma, senyawa peptida itu mampu menghancurkan sel-sel tumor DFTD dengan lebih cepat. Maka, tim peneliti mulai bereksperimen dengan susunan kimia peptida itu untuk melihat apakah variasinya bisa terbukti lebih kuat.

“Ketika kami mengubah dua asam amino tertentu dalam rantai peptida, senyawa itu menjadi jauh lebih kuat dalam menghancurkan sel DFTD,” kata Ikonomopoulou. “Namun, penelitian ini masih pada tahap sangat awal meski hasilnya sangat menjanjikan. Masih ada banyak tahun-tahun kerja ke depan. Yang pasti, kami berharap senyawa ini di masa depan dapat dikembangkan menjadi pengobatan baru untuk melanoma dan DFTD.”

Tim peneliti mengatakan, penemuan mereka memberikan dorongan baru untuk terus mengeksplorasi bagaimana senyawa bioaktif dalam bisa atau racun binatang dapat digunakan untuk mengobati bukan hanya kanker tetapi juga penyakit liver, obesitas dan gangguan yang berkaitan dengan metabolisme.

Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Scientific Report dengan judul ‘Gomesin inhibits melanoma growth by manipulating key signaling cascades that control cell death and proliferation’ oleh Maria P. Ikonomopoulou, Manuel A. Fernandez-Rojo, Sandy S. Pineda, Pablo Cabezas-Sainz, Brit Winnen, Rodrigo A. V. Morales, Andreas Brust, Laura Sánchez, Paul F. Alewood, Grant A. Ramm, John J. Miles & Glenn F. King, dan dalam jurnal Cell Death & Disease dengan judul ‘The antiproliferative and apoptotic profile of gomesin against DFTD’ oleh Maria P. Ikonomopoulou dan Manuel A. Fernandez-Rojo.

Facebook Comments

POST A COMMENT.