Lagu “Bohoso Moto” di Emperan Jalan

Oleh: Moh. Husen
MEPNews.id–Gara-gara lima orang pengamen beserta perkusi sederhananya, saya jadi jatuh cinta dengan lagu Banyuwangen yang berjudul Bohoso Moto. Para pengamen itu menyanyikan lagu Bohoso Moto ini dengan kompak. Mulanya saya tidak tahu apa judul lagu itu. Setelah tanya ke teman kanan kiri saya baru tahu kalau lagu tersebut berjudul Bohoso Moto.

Selang beberapa lama lantas saya browsing. Saya cek, ternyata penciptanya Koming. Saya download. Saya pilih aransemen yang kalem vokalnya Nanda Feraro. Penyayi yang lain juga banyak yang menyanyikan. Ternyata, saya pernah dengar lagu ini beberapa waktu yang lalu. Saya baru jelas minggu-minggu ini ketika dinyanyikan teman-teman pengamen itu. Lagu ini sudah agak lama. Saya saja yang ketinggalan kurang update.

Yang spontan saya hafal setelah browsing itu adalah reffreinnya: “Mesti byaen kangelan, riko mbusek aran isun teko ati, isun siji-sijine, wong hang biso ngerteni atin riko welas riko.” (Sudah semestinya saja susah, kamu menghapusku dari hati,
aku satu-satunya orang yang bisa mengerti, hatimu (dan) cintamu).

Reffrein berikutnya: “Sepi mesti nekani, mayungi roso noring ati, sepiro pinter riko nutup-nutupi roso, tetepo ketoro.” (Sepi selalu mendatangi, memayungi rasa di dalam hati, seberapa pintar kamu menutup-nutupi rasa, tetap saja terlihat).

Selengkapnya silahkan browsing saja. Kalau intronya begini: “Nong moto biso isun woco, paran hang riko karepno, nong ati biso sun rungoni, sopo hang riko pikiri.” (Di mata bisa aku baca, apa yang kamu inginkan, di hati bisa ku dengarkan,
siapa yang kamu pikirkan).

Sedang enak-enaknya saya menikmati Mie Goreng di warung emperan jalan, para pengamen itu datang menghampiri, membawakan lagu itu. Mereka kompak dengan suara yang serasa pas. Kalau saya kaya raya lantas bersedia marung di emperan semacam itu, “fitnah” bahwa saya low profile dan gaya hidup saya sederhana tidak bermewah-mewah bisa berpotensi menimpa saya. So, syarat disebut sederhana adalah kaya raya. Kalau tidak kaya: ya jelas dan wajar saja kalau di emperan. Kalau sampai terlihat di restoran mahal, “fitnahnya” adalah: “Siapa tuh yang mbayari kok bisa makan di restoran semahal itu?”

Kita semua sudah lama tahu bahwa lagu Islami tidaklah harus berbahasa Arab. Berbahasa apapun jika mengajari kebaikan dan cinta, maka dia Islami. Berbahasa apapun jika mengajari kebencian dan kejahatan, tentu pasti tak Islami. Lagu Islami tidak hanya berisi mencintai Allah dan Kanjeng Nabi. Lagu mencintai manusia, berpesan tidak merusak alam, menyebarkan perdamaian dan kerukunan adalah merupakan lagu-lagu Islami meskipun disampaikan dengan bahasa daerah yang terpencil sekalipun.

Membaca lagu Banyuwangen Bohoso Moto ini, merupakan hiburan atau istirahat jeda sejenak di hari libur alias weekend. Selanjutnya marilah kita baca kembali dengan hati yang jernih dan akal sehat mengenai persoalan-persoalan gempa dan tsunami di Palu, Donggala dan Lombok. Marilah kita membaca kembali mengenai yatim piatu, pendidikan, kesehatan, juga kesejahteraan. Marilah kita baca kembali ketidaktahuan diri kita sendiri.

Dan karena saya sedang sangat nge-fans dengan lagu Bohoso Moto ini, dengan senyum bahagia serta riang gembira saya mengulang kembali reffreinnya: “Mesti byaen kangelan, riko mbusek aran isun teko ati, isun siji-sijine, wong hang biso ngerteni atin riko welas riko.” (Banyuwangi, 7 Oktober 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.