Bahasamu Refleksi Jiwamu

Oleh: Djuwari

Language is a mirror of mind in a deep and significant sense. It is a product of human intelligence … By studying the properties of natural languages, their structure, organization, and use, we may hope to learn something about human nature” (Noam Chomsky, 1975).

MEPNews.id — Pakar lingusitik Amerika, Noam Chomsky, adalah pakar bahasa serba bisa. Setelah istirahat di bidang bahasa, dia masuk dunia politik. Dan, sekarang akhirnya kembali lagi menekuni dunia kebahasaan. Kutipan di atas mengingatkan kejadian akhir-akhir ini di media sosial. Banyak kata-kata, kalimat, dan berbagai ujaran yang bertebaran. Semua hampir penuh dengan hujatan, cemohan, ejekan, dan berbagai jenis ujaran serta kepalsuan.
Di media sosial, para penggunanya sering membaca juga model bahasa yang buruk. Perlu dipahami, bahwa bahasa itu cerminan jiwa yang mengucapkan (a mirror of mind). Jadi, apa yang kita ucapkan atau sampaikan itu adalah cerminan jiwa kita. Bahasa itu sebagai refleksi kecerdasan manusia (product of intelligence). Jadi, apa yang kita sampaikan dalam bentuk bahasa itu merupakan gambaran tingkat kecerdasan kita.
Bahasa itu cerminan bahkan jiwa dan budaya secara keseluruhan alamiah manusia itu sendiri. Bahkan, jika bersama-sama, manusia itu memiliki ciri budaya kelompok. Karakter komunitas. Perkumpulan jiwa, budaya, pikiran, dan karakter manusia pengguna bahasa itu (the human nature).
Jika kita urai, maka di dalam jiwa manusia itu bisa saja manusianya menyimpam masalah. Ada juga dalam pikiran manusia berisi pikiran-pikiran negatif. Ada juga di dalam hati manusia itu niat-niat buruk. Ada juga dalam jiwa manusia itu pengalaman-pengalaman hidup buruk. Semua keburukan mengumpul dan mengendap. Secara alamiah, jika manusia tidak terkontrol kecerdasannya (intelligence), maka semua akan terrefelksikan dalam bahasa.
Bahasa yang akan disampaikan berupa reflkesi semua itu. Pengalaman hidup baik dan buruk terungkapkan. Budaya rendah dan pikiran tidak sehat bisa terucapkan. Bahasa juga dalam tulisan. Namun, baik lisan maupun tulisan, bahasa itu tetap refleksi jiwa dan pikiran manusia yang menyampaikan. Pada dasarnya, semua pengalaman itu ada dalam bahasa manusia termasu pengalaman hidup di hutan.
Contoh gampang, ketika kita nonton fiml Tarzan, maka kita bisa menyaksikan bahasanya yang dipakai adalah bahasa hewan. Itu merupakan pengalaman hidup selama dia terbuang di hutan. Karena tidak pernah berhubungan dengan manusia normal, si Tarzan berbahasa layaknya bahasa hewan. Dia bisa memanggil semua hewan.
Intinya, bahasa itu refleksi jiwa dan pengalaman hidup. Sebagai manusia kita semua memiliki pengalaman hidup. Hidup pahit, getir, enak, mewah, senang berbahagia, semua jadi satu. Namun, pengalaman secara spsikologis dan budaya itu bergantung juga ligkungannya. Jadi, bahasa itu tidak sekadar cerminan jiwa (a mirror of mind) tetapi juga refleksi budaya kehidupan semasa hidup manusia itu sendiri (human nature).
Intinya, di mana manusia itu terekspos dunia hidupnya, di situlah jiwa dan intelegensinya terbentuk. Bahasanya akan merefelksikan pengalaman itu. Media sosial memiliki peranan penting dalam membentuk ligkungan masyarakat digital. Dahulu kala, masyarakat berbentuk secara fisik tatap muka di dalam wilayah atau daerah. Sekarang, ada masyarakat digital yang luas. Di sinilah, manusia akan terbentuk dengan berbagai ragam pengalaman hidup.
Bahasa setiap orang disampaikan di media sosial memiliki andil dalam pembentukan jiwa, budaya, dan karakter manusia. Chomsky (1975) menegaskan bahwa memang benar kapasitas berpikir manusia (human cognitive capacity) merupakan karakter dari kelompok manusia itu (the most remarkable characteristic of the species).
Kalau masyarakat digital yang luas ini berpegaruh pada bentukan jiwa, pikrian, dan intelegensi, maka sudah waktunya, media sosial dipakai untuk membetuk karakter baik. Bahasanya khusus orang dewasa dan terdidik hendaknya merefleksikan kecerdasannya (inteligence).
Penulis adalah : Pengamat Pendidikan dan Sosial,  President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER), Dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.