Migrain dapat Dirawat tanpa Obat

MEPNews.id – Pusing? Sakit kepala sebelah? Itu migrain! Minumlah obat ini atau itu. Terbukti manjur sembuhkan sakit kepala sebelah.

Ah, itu kan iklan obat. Tapi, dikabarkan ScienceDaily edisi 4 Oktober 2018, beberapa pasien migrain dapat mengurangi konsumsi obat atau berhenti sama sekali. Menurut hasil studi percontohan baru-baru ini, inhaler segderhana bisa menyembuhkan migrain.

Penelitian percontohan ini dilakukan Cecilia H Fuglsang, Troels Johansen, Kai Kaila, Helge Kasch, Flemming W Bach. Hasil penelitian berjudul ‘Treatment of acute migraine by a partial rebreathing device: A randomized controlled pilot study’ diterbitkan di jurnal Cephalalgia.

Migrain dapat diatasi dengan mengubah komposisi udara yang kita hirup. Dengan sedikit mengubah molekul tubuh sendiri menggunakan inhaler kecil, pasien migrain tertentu dapat mengurangi atau meninggalkan obat sepenuhnya.

Pasien penderita migrain dengan aura, yakni yang mengalami gangguan sensorik atau visual sebelum mulai sakit di kepala, diperiksa dalam penelitian ini. Sebelas pasien berpartisipasi dalam studi percontohan, yang segera diikuti oleh uji klinis skala besar.

Salah satu penulisnya adalah Troels Johansen yang melakukan penelitian sebagai bagian dari program PhD-nya di Department of Clinical Medicine di Aarhus University dan Klinik Sakit Kepala di Aarhus University Hospital, Denmark.

Dia menjelaskan, migrain terjadi sebagai bagian dari reaksi berantai saat mana pembuluh darah di otak berkontraksi sehingga darah tidak dapat memasok oksigen yang cukup ke otak. Akibatnya, kepala jadi pusing di beberapa bagian tertentu.

“Kita menggunakan CO2 dan oksigen, yang merupakan molekul alami tubuh untuk memobilisasi pertahanan sendiri terhadap serangan migrain. Inhaler kami memperluas pembuluh darah yang memasok otak dengan oksigen hingga tujuh puluh persen. Dengan demikian, inhaler itu bisa membantu menghentikan reaksi berantai yang merusak,” kata Dr. Troels Johansen. “Efek perawatan dimulai setelah beberapa detik pemakaian.”

Studi percontohan ini dilakukan 2016-2017 dengan responden sebelas pasien penderita migrain dengan aura. Salah satu hasilnya adalah efek pereda nyeri meningkat secara signifikan pada setiap penggunaan inhaler. Empat puluh lima persen mengalami efek saat pertama kalinya menghirup, dan jumlahnya naik jadi 78 persen untuk kedua kalinya.

“Studi ini menunjukkan beberapa efek fisiologis sangat signifikan dalam tubuh,” kata Troels Johansen, yang saat ini mengajar di Aarhus University School of Engineering, dan bersama tim memasukkan inhaler ke dalam produksi melalui perusahaan BalancAir.

Karena proyek percontohan ini terbatas hanya pada kasus migrain dengan aura dan respondennya hanya terdiri dari sebelas pasien, Troels Johansen sekarang berencana melakukan uji klinis besar yang juga mencakup migrain tanpa aura dan migrain kronis.

Facebook Comments

POST A COMMENT.