Kurikulum Tersembunyi dalam Pendidikan Pesantren

Oleh Masruri Abd Muhit

MEPNews.id —– Suatu ketika ada seorang calon wali santri, setelah mendaftarkan putrinya di bagian pendaftaran santri baru dia bertamu ke rumah saya. Beliau seorang guru pelajaran umum di lembaga pendidikan terkenal di kota Jember. Ketika saya tanya mengapa putrinya dimasukkan ke pesantren padahal latar belakang pendidikan bapak pendidikan umum tidak pernah di pesantren? Dia menjawab bahwa dia kagum melihat teman teman guru di lembaga tempatnya mengajar yang mempunyai latar belakang pendidikan pesantren, mereka setiap diberi tugas apa saja mereka selalu mampu menyelesaikan dengan baik, baik tugas itu linier dengan bidangnya atau tidak.

Semula saya menganggap wali santri itu lebai terlalu berlebihan, tetapi setelah saya renungkan dan saya lihat kenyataan yang terjadi pada kehidupan teman teman saya sesama alumni pesantren ternyata banyak diantara mereka yang sukses dalam banyak bidang yang sepertinya tidak ada kaitannya dengan bidang yang digelutinya di pesantren yaitu bidang pengetahuan agama, ada diantara mereka yang sukses menjadi direktur pengeboran minyak di Singapore, ada yang sukses dalam usaha ekonomi baik transportasi, keuangan, perdagangan, expor impor, ada yang sukses menggeluti bidang politik, pejabat pemerintahan dan lain sebagainya, apalagi tentu dalam bidang yang berkaitan dengan agama semacam dakwah, mengasuh pesantren, guru agama dan lain lain tentu lebih bisa dan itu biasa karena memang bidangnya.

Semua itu sebenarnya tidaklah mengherankan, karena sebagai orang yang pernah dididik di pesantren cukup lama (hampir sembilan tahun) bahkan saat ini juga berkecimpung di dalamnya, sebagai pengasuh pesantren kecil di daerah Bondowoso, saya mengetahui bahwa di dalam kurikulum pendidikan pesantren itu selain ada kurikulum yang nampak ada juga kurikulum yang tidak nampak atau kurikulum tersembunyi atau istilah kerennya hidden kurikulum.

Hampir semua pesantren di Indonesia saat ini didalamnya ada pendidikan formal yang menggunakan kurikulum pemerintah terutama yang berad a dibawah naungan kementrian agama, bahkan yang pendidikan formalnya tidak menggunakan kurikulum pemerintahpun seperti Gontor, Al Amin Prenduan, Sidogiri, termasuk pesantren kita Darul Istiqomah dan yang lain yang melaksanakan satuan pendidikan muadalah, sudah mendapatkan pengakuan dari pemerintah melalui peraturan mentri agama.

Keistimewaan pendidikan pesantren, karena peserta didiknya bertempat tinggal di dalam asrama selama 24 jam, maka selain adanya pendidikan formal didalamnya juga ada pendidikan non formal dengan kurikulum tersendiri baik yang nampak ataupun yang tidak nampak.

Kurikulum pendidikan non formal di pesantren selain kurikulum yang nampak seperti penguatan pengetahuan agama berupa penguasaan membaca dan memahami kitab kitab peninggalan ulama terdahulu (kutubutturots) atau yang sering disebut dengan kitab kuning, penguasaan kitab kitab alat (kitab kitab gramatika bahasa arab) atau nahwu, sorof dan balagoh baik bayan, ma’ani ataupun badi’, peningkatan penguasaan bahasa Arab dan Inggris berupa kursus kursus bahasa, kelompok kelompok bahasa, disiplin berbahasa Arab atau Inggris dan lain sebagainya, juga ada kurikulum yang tidak nampak (hidden kurikulum) yang semuanya berada dibalik kegiatan kegiatan serta aktifitas kehidupan sehari hari di dalam pesantren.

Salah satu prinsip pendidikan di pesantren adalah “apa yang didengar, dilihat dan dirasakan di pesantren adalah pendidikan” sehingga banyak sekali nilai-nilai pendidikan yang tidak kelihatan, yang tersembunyi dibalik semua aktifitas yang ada di pesantren, baik yang didengar atau dilihat ataupun dirasakan.

Suasana keikhlasan yang menjiwai kehidupan dalam pesantren, kyai yang ikhlas berjuang dalam menghidupkan pesantren, ikhlas dalam melakukan aktifitas pendidikan baik dalam mengajar, mengaji ataupun menegur dan mendidik, para ustadz mengajar dengan penuh keikhlasan tanpa pamrih, pengurus yang mengatur kehidupan para santri menunaikan tugas mereka dengan penuh dedikasi dan keikhlasan, semua itu akan mempengaruhi kehidupan santri sehingga mereka akan melakukan semua peraturan pesantren dan kegiatan belajar serta arahan pesantren dengan penuh keikhlasan, sehingga akan tercipta kehidupan yang harmonis yang diliputi suasana keikhlasan yang akhirnya semuanya akan nyambung seperti kata Imam Gozali “Minal qolbi ilal qolbi rosulun” (Sesuatu yang disampaikan dari hati ke hati akan nyambung). Dan keikhlasan ini akan terus terpatri dalam kehidupan para santri dan menjiwainya sampai ketika mereka sudah tidak berada dipesantren.

Kehidupan sederhana yang menjiwai kehidupan dalam pesantren, mulai dari pakaian sederhana yang dikenakan oleh para kyai, ustadz, santri dan semua komponen yang ada dalam pesantren yang apa adanya tidak ada kepalsuan dan kepura-puraan, sarana asrama dan tempat tinggal yang penuh dengan kesederhanaan baik untuk para santri atau para ustadz juga kyai, tempat belajar dan cara mengajar yang juga sederahana tidak neko-neko tidak dibuat-buat, makan minum yang jauh dari kata mewah dan berlebihan bahkan untuk mendapatkan makanan yang sederhana itu harus melalui antrian yang cukup panjang, kebiasaan tidur dengan hanya beralaskan tikar atau kasur tipis, pergaulan yang terjalin dalam kehidupan sehari- hari yang cukup sederhana dan lain-lainnya akan menempa santri menjadi sosok yang tahan banting dan tahan uji di dalam menghadapi kerasnya perjuangan hidup, ketika mereka harus hidup sulit nantinya maka mereka akan mudah menghadapi dan menjalaninya karena sudah terbiasa untuk itu, sebaliknya ketika mereka nanti menemui kehidupan yang mudah mereka akan tetap tidak sombong dan boros.

Dibalik jiwa sederhana ada nilai kehidupan yang luhur, sederhana bukan berarti miskin, kehidupan adalah prinsip dan usaha sungguh-sungguh dalam memperjuangkan prinsip itu. Innal hayata aqidatun wa jihadun (Sesungguhnya hidup itu ideologi dan memperjuangkannya).

Hidup dalam pesantren yang terpisah dan jauh dari orang tua memaksa santri untuk terbiasa hidup mandiri, mengurus keperluan hidupnya sendiri, mencuci pakaiannya sendiri, membersihkan dan merapikan kamarnya sendiri, bahkan untuk kebersihan lingkungan oleh pesantren dijadikan sarana pendidikan yaitu dengan itu menjadi tanggung jawab santri dan mereka harus melakukannya sendiri, kebanyakan pesantren tidak menggunakan jasa tukang kebun yang hal itu disengaja sebagai sarana pendidikan kemandirian.

Kebiasaan hidup mandiri ini lama-lama akan menjadi karakter sehingga santri akan bisa hidup mandiri dan menolong diri sendiri dimanapun dan kapanpun. Bagaimana jadinya santri yang diharapkan nantinya menjadi pribadi pribadi yang bisa menolong orang lain kalau mereka tidak mandiri tidak bisa menolong dirinya sendiri ?! Kata hikmah dalam bahasa Arab “Faqidussyaii la yu’thi ( Orang yang tidak mempunyai tidak bisa memberi)”.

Daerah asal peserta didik pesantren yang bermacam-macam menjadikan kehidupan di dalamnya kehidupan yang hidrogin, namun kesamaan mereka dalam agama dan tujuan serta keharusan mereka hidup dalam satu komuniti menjadikan mereka menjalin rasa ukhuwwah islamiyyah (persaudaraan Islam), saling tolong menolong, bekerjasama dalam banyak kegiatan dan aktifitas yang semuanya itu berlangsung dalam waktu cukup lama selama keberadaan mereka dengan orang yang bermacam macam, beraneka suku, beraneka adat dan pengertian, pemaaf dan lain lainnya.

Penugasan dari pesantren kepada para santri senior untuk menjadi pengurus organesasi, lurah pondok, pengurus kooperasi, bahkan pengurus blok, bahkan pengurus kamar atau amanah-amanah yang lain dimaksudkan untuk mendidik mereka untuk menjadi manusia-manusia yang jujur dan amanah dapat dipercaya, dan tentu saja masih banyak lagi kegiatan kegiatan yang lain yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.

Pendek kata semua kegiatan dan aktifitas serta suasana yang ditemui di pesantren dibaliknya ada tujuan pendidikan tersembunyi berupa pembentukan watak dan karakter yang merupakan live skill ataupun mental skill yang semuanya sangat bermanfaat bagi santri untuk kesuksesan kehidupan mereka di masa yang akan datang bukan hanya sekedar job skill.

Maka ketika suatu ketika ada wali santri yang mengeluhkan putranya yang tidak betah hanya karena ada temannya yang kurang sejalan saya katakan bahwa justru sebenarnya disitulah salah satu keistemawaan pendidikan pesantren bila anak bapak mau bertahan dan mau menghadapi semua itu.

Dan tidak salah kalau ada orang yang mengatakan bahwa pesantren itu madrosatul hayah al haqiqiyyah sekolah kehidupan yang sesungguhnya.

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.