Terapi Peluk; Bisa Dicoba

MEPNews.id – Ini cara murah namun cukup menguatkan bagi orng yang sedang bermasalah dalam kehidupan. Memeluk tidak hanya membuat keadaan yang baik jadi lebih baik tetapi juga bisa membantu mengurangi perasaan negatif setelah terkena konflik.

Sadhana Bharanidharan dalam MedicalDaily edisi 4 Oktober 2018 mengabarkan penelitian di Carnegie Mellon University, Pennsylvania, Amerika Serikat. Penelitian berjudul ‘Receiving a hug is associated with the attenuation of negative mood that occurs on days with interpersonal conflict’ diterbitkan dalam jurnal PLOS ONE pada 3 Oktober.

Penelitian dalam bidang kesehatan semakin banyak mengeksplorasi dampak pada sentuhan interpersonal non-seksual. Misalnya, ada penelitian oleh tim dari University of Colorado Boulder dan University of Haifa yang diterbitkan awal tahun ini mengungkapkan bagaimana tindakan memegang tangan dapat mengurangi intensitas nyeri hingga sekitar 34 persen. Nah, studi baru oleh Michael L. M. Murphy, Denise Janicki-Deverts, Sheldon Cohen dari Carnegie Mellon mengeksplorasi efek terapeutik potensial dari pelukan.

Lebih dari 400 responden direkrut dan dilacak perkembangannya selama lebih dari dua minggu. Pada awal penelitian, setiap orang menjalani pemeriksaan fisik dan menjawab sejumlah pertanyaan mengenai kesehatan mereka dan jaringan sosial mereka. Kemudian, selama dua minggu ke depan atau lebih, setiap responden memberikan ringkasan harian tentang aktivitas mereka, suasana hati mereka, interaksi mereka, pengalaman atau konflik buruk, dan apakah mereka menerima pelukan.

Temuan menunjukkan, orang mengalami lebih banyak perasaan positif ketika mereka menerima pelukan, bahkan jika mereka telah bertengkar atau menghadapi semacam adu mulut hari itu. Faktor-faktor seperti usia dan jenis kelamin tidak menunjukkan banyak pengaruh pada efek pelukan. Namun, para wanita melaporkan jumlah pelukan lebih tinggi daripada pria secara keseluruhan.

“Perilaku yang sangat sederhana dan lugas, yakni berpelukan, mungkin bisa menjadi cara efektif untuk mendukung pria atau wanita yang mengalami konflik dalam hubungan mereka,” kata Michael Murphy, peneliti postdoctoral di Departemen Psikologi di Carnegie Mellon University .

Lebih jauh, asosiasi menguntungkan itu tetap bertahan tak peduli apakah orang-orang yang berpelukan itu terlibat secara romantis atau tidak saat berpelukan. Kata para peneliti, sifat hubungan antara pemberi pelukan dan penerima pelukan itu harus dieksplorasi lebih detail.

“Meski demikian, kurangnya kekhususan mengenai dari siapa individu menerima pelukan juga membatasi kemampuan kami untuk mengidentifikasi apakah pelukan dari jenis mitra sosial tertentu lebih efektif daripada pelukan dari orang lain,” jelas para peneliti dalam laporan mereka.

Maka, penelitian di masa depan dapat mencari perbedaan dengan mengkategorikan pemberi pelukan sebagai orang yang dikenal baik, orang asing, orang tua, saudara kandung, teman dekat, atau pasangan romantis. Bahkan, dampak dari katagori ini juga dapat dibandingkan dengan dipeluk oleh orang yang terlibat dalam konflik.

“Pelukan, setidaknya di antara orang-orang yang dekat, bisa menjadi cara sederhana, lugas, dan efektif untuk menunjukkan dukungan kepada seseorang yang Anda sayangi saat mengalami konflik dalam hidup mereka,” begitu kesimpulan Murphy. (*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.