Gempa Palu: Bantuan Pendidikan Berdatangan

Palu thumbnailMEPNews.id – Gempa, tsunami dan likufakasi tanah memberi pukulan sangat telak pada sektor pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah khususnya di ibukota Palu, Donggala, Sigi dan Parigi Mutong. Tercatat, 2.736 gedung sekolah mengalami rusak ringan hingga hancur total. Seiring itu, aktivitas 20 ribu guru dan 100 ribu pelajar juga terdampak.

Meski demikian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ambil tindakan cepat. Mendikbud Muhajir Effendy di Yogyakarta pada 3 Oktober 2018 menyatakan, “Yang penting anak-anak masuk sekolah dulu. Kalau pelajaran belum berjalan baik, adakan kegiatan rekreatif sambil menghibur dan memulihkan kondisi psikologis.”

Ada tiga tahap untuk proses pemulihan pendidikan di Palu dan sekitarnya. Pertama, Kementerian segera membangun kelas darurat dengan standar UNICEF. Kemudian, pemerintah melalui Kementerian PUPR akan membangun sekolah darurat setidaknya dalam tiga bulan. Lalu, membangun kembali sekolah permanen dalam waktu setahun.

Sementara itu, Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan mengambil langkah taktis atas masalah pendidikan di provinsi tetangganya. Kadisdik Sulsel Irman Yasin Limpo menandatangani instruksi Nomor 0045/6517-bidang SMA.1/Disdik pada 4 Oktober ditujukan kepada Kepala Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Sulsel. Tujuannya mengatasi persoalan siswa di Sulteng yang tidak dapat melanjutkan pelajaran karena bencana.

KCD diminta menerima peserta didik yang terkena bencana alam, khususnya dari Palu, Donggala, dan Sigi. Status penerimaan mereka adalah siswa titipan untuk sementara waktu. Bagi ingin menjadi siswa tetap di Makassar, dipertimbangkan aspek kebutuhan rasio proses belajar mengajar di sekolah. “Siswa titipan sementara agar tidak dimintai kelengkapan administrasi dan seragam sekolah,” jelas Irman.

Bantuan serupa juga datang bahkan jauh dari Tasikmalaya di Jawa Barat. Pemkab Tasikmalaya membuka akses pendidikan untuk pelajar korban bencana di Sulawesi Tengah. Selama mengungsi di Tasikmalaya, pelajar diterima masuk di sekolah terdekat.

Sebagian korban bencana di Sulteng merupakan warga asal Sukamenak, Sukaresik, di Tasikmalaya. Mereka kembali ke kampung halaman karena tempat tinggal mereka hancur. Dari 26 orang yang kembali ke kampung halaman, sebagian anak usia sekolah dasar.

Selain itu, sekolah-sekolah di Kalimantan Utara menggalang dana bantuan untuk korban bencana Sulteng. Terkumpul uang Rp 247.093.000 yang diserahkan Kepala Disdikbud Kalimantan Utara Sigit Muryono kepada Kepala BPBD Kalimantan Utara Mohammad Pandi.

Pandi menjelaskan, bantuan dana tersebut sebagian digunakan untuk membeli logistik atau bahan makanan untuk korban gempa di Sulten. Selebihnya diserahkan dalam bentuk tunai di posko utama di Sulteng. “Insyaallah, kami cari logistik kemudian diberangkatkan ke Palu dan Donggala dari Pelabuhan Tarakan bersama relawan,” sebutnya.

Gubernur Irianto Lambrie mengapresiasi langkah para tenaga pendidik, staf, pegawai Dinas Pendidikan, dan utamanya para siswa yang menunjukkan solidaritas pada korban bencana. “Kami sangat mengapresiasi apa yang dilakukan jajaran Dinas Pendidikan. Selain itu, kalangan masyarakat umum di Kalimantan Utara juga banyak menggalang dana,” kata Irianto. (*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.