Foto Selfie atau Mati…?

MEPNews.id – Saat berdiri di tepi tebing indah atau di atas air terjun, ambil foto selfie. Siapa tahu itu bisa menjadi kenangan terakhir?

Tentu saja, jangan sembarangan. Selfie harus hati-hati. Harus tetap perhitungkan keselamatan diri sendiri dan pihak lain. Mengapa? Allyson Chiu, dalam The Washington Post edisi 4 Oktober 2018, mengabarkan sudah lebih dari 250 orang di seluruh dunia mati saat memotret diri sendiri dalam enam tahun terakhir.

Chiu melansir studi dari para peneliti yang terkait dengan All India Institute of Medical Sciences yakni sekelompok perguruan tinggi medis publik yang berbasis di New Delhi. Mereka adalah Agam Bansal, Abhijith Pakhare, dan Samiksha Gupta yang berbasis di Bhopal, serta Chandan Garg dari Department of Civil Engineering di IIT Kanpur.

Mereka menganalisis laporan-laporan berita tentang 259 kematian yang berkaitan dengan selfie dari Oktober 2011 hingga November 2017. Hasilnya diterbitkan dalam Journal of Family Medicine and Primary Care edisi Juli-Agustus dengan judul ‘Selfies: A boon or bane?’

Dari 259 kematian, peneliti menemukan penyebab utamanya adalah tenggelam, kemudian kecelakaan transportasi (misalnya, selfie di depan kereta yang akan lewat), lalu jatuh dari ketinggian. Penyebab lain kematian terkait selfie termasuk diserang hewan, senjata api dan tersengat listrik.

“Kematian selfie menjadi masalah besar dalam kesehatan masyarakat,” kata Agam Bansal, dikutip Chiu di The Washington Post.

Penelitian ini menemukan, India memiliki jumlah kematian selfie tertinggi di dunia. Sementara, beberapa laporan tentang insiden selfie fatal juga dari Rusia, Amerika Serikat dan Pakistan.

Bansal mencatat, tindakan sederhana mengambil selfie sebenarnya tidak mematikan. Namun, bahaya bisa muncul ketika orang berani mengambil risiko mencoba mendapatkan bidikan sempurna tapi tidak memperhatikan sekelilingnya.

“Jika Anda hanya berdiri, hanya mengambil gambar dengan selebritas atau sesuatu, itu tidak berbahaya,” katanya. “Tapi, jika selfie disertai perilaku berisiko tinggi, maka itu yang membuatnya jadi berbahaya.”

Bansal prihatin tentang banyaknya korban jiwa akibat selfie yang melibatkan orang-orang muda. Menurutnya, lebih dari 85 persen korban berusia antara 10 dan 30 tahun. “Yang paling membuat saya prihatin adalah penyebab kematian itu sebenarnya dapat dicegah. Oke lah jika Anda ingin selfie sempurna sehingga banyak mendapat like atau share di Facebook, Twitter atau media sosial lainnya. Tapi, ya jangan sampai mengorbankan kehidupan untuk hal-hal seperti itu.”

Jumlah kematian yang dilaporkan dalam penelitian ini mungkin tampak tinggi. Tapi, menurut Bansal, ada lebih banyak lagi kasus yang belum didokumentasikan karena ada masalah dengan pelaporannya.

Pada 2018 saja, ada beberapa kematian terkait selfie. Mei, seorang pria di India mencoba mengambil foto selfie dengan beruang tapi ia justru terluka dan teraniaya sampai mati. Agustus, dua orang meninggal di Amerika Serikat dalam kasus terpisah akibat selfie. Pada 5 September, seorang pejalan kaki berusia 18 tahun dari Yerusalem meninggal setelah jatuh dari tebing 243 meter di Taman Nasional Yosemite. Ibunya mengatakan dia telah mengambil foto selfie di tepi Nevada Fall. Dua minggu kemudian, seorang wanita California berusia 32 tahun di Pictured Rocks National Lakeshore di Michigan terpeleset dan jatuh dari ketinggi 61 meter setelah beberapa selfie.

Mohit Jain, ahli bedah ortopedi yang tidak terlibat dalam penelitian itu tetapi telah melakukan penelitian sendiri atas kematian selfie, menggambarkan, “Hasil penelitian itu benar-benar perlu untuk membuat orang sadar bahwa bisa mati saat mengambil foto selfie.”

Jain, yang menerbitkan studinya sendiri tahun lalu tentang kematian selfie di International Journal of Injury Control and Safety Promotion, mengatakan, “Terkadang mata tidak melihat apakah pikiran Anda tidak tahu.”

Penelitian Jain menemukan, 75 orang meninggal saat mencoba mengambil foto selfie dari 2014 hingga pertengahan 2016. “Ini seperti bencana buatan manusia. Ini bukan bencana alam.”

Salah satu cara yang mungkin untuk mencegah kematian akibat selfie, menurut Bansal, adalah dibentuknya ‘zona larangan selfie’ yang mencegah orang mengambil foto sendiri di daerah-daerah tertentu antara lain badan air, puncak gunung, dan puncak gedung tinggi.

Upaya untuk mencegah orang mengambil foto selfie berbahaya telah dicoba di banyak negara, termasuk India, Rusia, dan Indonesia. Tiga tahun lalu, Rusia meluncurkan kampanye ‘Safe Selfie’ yang menampilkan slogan “Bahkan satu juta like di media sosial tidak layak untuk mengganti nyawa dan kesejahteraan Anda.”

Jain, dalam studinya, mencatat grafis informasi dengan ikon ‘bad selfie ideas’ yang menggambarkan figur tongkat berpose pada tiang listrik dan sambil memegang senjata.

Pada 2016, Mumbai membentuk 16 ‘no selfie zones’ di seluruh kota setelah kematian yang berhubungan dengan selfie. Awal tahun ini, Pantai Telawas di Lombok akan disediakan tempat aman untuk berfoto setelah ada sepasang kekasih tewas terseret ombak saat selfie.

Facebook Comments

POST A COMMENT.