Gempa Palu; Likuifaksi Tanah Sangat Merusak

MEPNews.id – Likuifaksi tanah (tanah yang padat menjadi lumer seperti lumpur) menghancurkan banyak rumah di dan sekitar kota Palu seiring gempa pada 28 September 2018. Henry Fountain, jurnalis spesialis bencana, menulis di New York Times 1 Oktober, menyebut itu salah satu efek paling merusak dari gempa bumi.

Selain menyebabkan tanah mengalir seperti cairan, dalam hal ini seperti longsoran lumpur, likuifaksi juga dapat membuat tanah tenggelam. Pelumeran terjadi saat tanah relatif longgar karena banyak kandungan pasir di dalamnya. Pada saat yang sama, tanah tergenang air yang dalam hal ini karena tsunami. Kemudian, tanah juga diguncang keras dalam hal ini karena gempa 7,5 SR dan berbagai gempa susulan

Di tanah tergenang, ruang mikroskopis di sekitar butiran sedimen terisi dengan air. Getaran gempa menyebabkan butiran-butiran tanah memadat sehingga meningkatkan tekanan air. Pada saat itu, tanah menjadi tidak stabil dan bisa tenggelam secara tidak merata. “Tanah kehilangan kemampuan menopang struktur yang dibangun di atas atau di dalamnya. Akibatnya, pepohonan, rumah, dermaga dan pondasi jembatan, seolah-olah hanyut atau tenggelam dalam tanah. Dampaknya bisa mematikan,” tulis Fountain.

Pada gempa San Francisco 1906, misalnya, banyak kerusakan terjadi di tanah reklamasi yang dipenuhi sedimen dari Teluk San Francisco. Pelumeran tanah ini menyebabkan bangunan runtuh. Posisi kota San Francisco di mulut teluk sangat miri dengan kota Palu yang juga di mulut teluk. Tanah yang tidak stabil dan berair bisa mengalir sebagai lumpur. Bahkan tanah yang landai bisa runtuh dan tenggelam.

Dalam gempa kuat, air bertekanan dapat dipaksa keluar dari sedimen. Ini antara lain terjadi pada gempa 9,2 SR tahun 1964 di Valdez, Alaska. Kota ini dibangun di atas endapan glasial yang lepas. Saat terjadi gempa besar, penduduk menyaksikan lembaran air menyemburkan hingga 15 meter ke udara saat tanah berguncang. Kadang-kadang pasir berair bisa keluar juga. Fenomena ini disebut pasir mendidih.

Proses likuifaksi tanah juga terjadi dalam gempa Niigata, di Jepang, pada 16 Juni 1964. Seiring gempa 7,5 SR, deretan bangunan apartemen amblas mengalir atau masuk ke dalam tanah. Dilaporkan, sekitar 2.000 rumah hancur total.

Gempa 6,3 SR pada 25 Februari 2011 di Christchurch, Selandia Baru, juga mengakibatkan likuifaksi. Sejumlah bangunan miring dan rusak akibat likuifaksi.

Pada 15 November 2017, juga terjadi likuifaksi tanah di kota industri Pohang di Korea Selatan. Setelah gempa, lima wilayah sekitar Pohang terkena pelumeran tanah. Meski ada sejumlah kerusakan, tapi tidak separah di Palu atau San Francisco.

Tanah lumer yang mengalir seperti lumpur juga terjadi di sejumlah kasus tanah lngsor di Jawa.

Facebook Comments

POST A COMMENT.