Seberapa Kuat Gempa Bisa Bikin Tsunami?

MEPNews.id – Gempa berkekuatan 7,4 SR berpusat di kedalaman 10 km di bawah Kecamatan Sirenja di Kabupaten Donggala memicu tsunami dari laut lepas membawa air setinggi hampir 3 meter memasuki teluk Poso pada sore 29 September 2018. Akibatnya, banyak korban tewas akibat tersapu air dan banyak bangunan rusak akibat guncangan.

Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menjelaskan, tsunami adalah gelombang laut yang dipicu gempa bumi besar di dekat atau di bawah lautan, letusan gunung berapi, tanah longsor bawah laut, dan tanah longsor di darat yang sejumlah besar puing jatuh ke dalam air. Para ilmuwan tidak menggunakan istilah ‘gelombang pasang’ karena ini tidak disebabkan oleh pasang surut.

Gelombang tsunami tidak seperti gelombang lautan khas yang ditimbulkan oleh angin dan badai. Sebagian besar tsunami tidak ‘pecah’ seperti ombak yang melengkung dan berangin yang populer di kalangan peselancar. Tsunami biasanya terdiri dari beberapa gelombang yang mengalir ke darat yang naik cepat dengan arus kuat. Gelombang tsunami dapat masuk lebih jauh ke pedalaman daripada gelombang normal.

Ketika mendekati pantai, tsunami berperilaku seperti arus yang bergerak sangat cepat yang meluas jauh ke daratan. “Jika Anda melihat tsunami, maka sudah terlambat untuk berlari lebih cepat daripada kecepatan arus air itu. Bahkan, tsunami kecil setinggi tak sampai satu meter menghasilkan arus kuat yang mampu menjatuhkan seseorang,” begitu peringatan di situs usgs.gov.

Seberapa kuat suatu gempa untuk bisa menyebabkan tsunami?

Besaran gempa tentu menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pembentukan tsunami. Namun, ada sejumlah faktor penting lain yang perlu dipertimbangkan. Misalnya, jarak dari episentrum. Berikut ini pedoman umum berdasarkan pengamatan historis dan sesuai dengan prosedur Pusat Peringatan Tsunami Pasifik;

• Besaran di bawah 6,5; gempa sebesar ini sangat tidak mungkin memicu tsunami.

• Besaran antara 6,5 dan 7,5; Biasanya tidak menghasilkan tsunami yang merusak. Namun, perubahan permukaan laut dapat diamati di sekitar episentrum. Meski tidak selalu menghasilkan kerusakan atau korban, tsunami dalam kisaran besar ini bisa menyebabkan efek sekunder.

• Besaran antara 7,6 dan 7,8; dapat menghasilkan tsunami yang merusak terutama di dekat episentrum. Pada jarak lebih jauh, perubahan permukaan laut kecil dapat diamati. Tsunami yang mampu menghasilkan kerusakan pada jarak sangat jauh jarang terjadi dalam rentang besarnya.

• Magnitude 7.9 dan lebih besar; tsunami lokal yang merusak dimungkinkan di dekat episentrum. Perubahan permukaan laut signifikan dan kerusakan dapat terjadi di wilayah lebih luas. Jika gempa berkekuatan 9,0, besar kemungkinan terjadi gempa susulan hingga besaran melebihi 7,5.

Facebook Comments

POST A COMMENT.