Peneliti Bikin Klasifikasi Ketidakhadiran di Kelas

MEPNews.id – Ada asumsi; siswa yang secara kronis absen dari sekolah cenderung sering berkinerja buruk secara akademis, dan lebih cenderung menjadi nakal, putus sekolah, atau terlibat dalam perilaku berisiko tinggi lainnya. Namun, belum ada ukuran ilmiah khusus untuk menganalisis ketidakhadiran itu.

Maka, penelitian baru di Amerika Serikat mencoba mengidentifikasi cara umum untuk mendefinisikan ketidakhadiran, dan mengklasifikasikan ketidakhadiran itu berdasarkan peringkat. Sebagaimana dirilis EurekAlert! edisi 28 September 2018, pengklasifikasian ketidakhadiran itu dilakukan para peneliti di University of Nebraska dan hasilnya muncul di Justice Evaluation Journal milik Akademi Ilmu Keadilan Pidana, dengan judul ‘Absenteeism Interventions: An Approach for Common Definitions in Statewide Program Evaluations’.

Berdasarkan klasifikasi itu, studi ini menemukan bahwa program intervensi khusus untuk siswa dengan tingkat ketidakhadiran tertinggi ternyata lebih berhasil daripada yang dilakukan pada siswa dengan ketidakhadiran lebih sedikit.

“Sangat sulit mengevaluasi program-program yang bertujuan mengurangi ketidakhadiran, karena ada banyak perbedaan dalam pengukuran ketidakhadiran,” jelas Anne Hobbs, direktur Institut Keadilan Anak di University of Nebraska-Omaha, sekaligus penulis utama studi. “Kami mengidentifikasi cara umum untuk mendefinisikan ketidakhadiran dan kemudian mengevaluasi program yang menangani berbagai tingkat ketidakhadiran. Ini dapat membantu kita dalam menentukan kapan harus campur tangan, bagaimana menanggapinya, dan kepada siapa intervensi harus diarahkan.”

Sebagai bagian dari evaluasi di seluruh negara bagian Nebraska untuk menilai efektivitas program dalam mengurangi ketidakhadiran, studi ini mengamati 12 program di 137 sekolah dan melibatkan 1.606 anak-anak dan remaja. Responden dalam penelitian ini berkisar antara 5 hingga 18 tahun dan berasal dari berbagai ras dan etnis. Sebagian besar siswa berkulit putih.

Peneliti mendefinisikan ketidakhadiran sebagai semua jenis tindakan tidak berada di dalam kelas (tidak hanya karena membolos). Ketidakhadiran ini dikategorikan ke dalam delapan jenis. Responnya diklasifikasikan ke dalam ‘diterima’ dan ‘tidak bisa diterima’.

Mereka juga menetapkan sistem pengukuran umum dan definisi umum untuk setiap jenis ketidakhadiran di seluruh negara bagian. Mereka juga membuat sistem entri data umum yang dapat diakses setiap program, memetakan kode kehadiran untuk setiap kategori ketidakhadiran, dan menyediakan program dengan bantuan teknis dalam menggunakan sistem baru.

Para responden dikelompokkan ke dalam tingkatan berdasarkan tingkat ketidakhadiran. Tingkat 1A berisi responden yang absen kurang dari 5% dari yang diwajibkan kelas. Tingkat 1B berisi responden yang absennya 6-10%. Yang absen 11-19% dimasukkan ke Tingkat 2. Tingkat 3 untuk absen 20% atau lebih.

Dengan data yang dikumpulkan menggunakan pendekatan ini, studi mengevaluasi program yang melayani berbagai responden mulai dari level intervensi dini hingga yang level terlibat dengan pengadilan. Studi juga mengkaji apakah mengklasifikasikan responden (berdasarkan tier alias tingkat) ini bisa menjelaskan peningkatan ketidakhadiran, dengan mempertimbangkan usia, ras, jenis kelamin, sekolah, dan program.

Untuk responden yang ambil bagian dalam program-program untuk mengurangi ketidakhadiran, penelitian ini menemukan bahwa mereka yang dengan tingkat ketidakhadiran tertinggi –baik yang bisa diterima maupun yang tidak diterima– memiliki peningkatan paling besar dalam mengurangi ketidakhadiran. Responden dengan ketidakhadiran lebih sedikit ternyata tidak meningkat secara signifikan meski diberi sejumlah program.

Sekolah juga memainkan peran, meskipun belum jelas karakteristik sekolah apa (ukurannya, caranya menangani ketidakhadiran, atau iklimnya) yang memiliki dampak paling besar.

Penelitian ini juga menemukan, reponden kulit hitam, keturunan India, dan yang diklasifikasikan sebagai ‘other’ (yang lain), dan responden yang berusia lebih tua, secara signifikan lebih mungkin diklasifikasikan dalam Tingkat 3 (yaitu, absen 20% atau lebih) daripada di tingkat lain. Responden kulit putih dan Hispanik terdistribusikan lebih merata di seluruh tingkat. Selain itu, laki-laki lebih cenderung dirujuk ke program intervensi lebih awal (pada Tingkat 1) daripada perempuan.

“Dengan menggunakan pengukuran umum untuk ketidakhadiran dan definisi umum untuk ketidakhadiran bisa mempermudah kita membandingkan pola kehadiran dan keberhasilan program di sekolah berbeda, distrik sekolah berbeda, dan negara bagian berbeda, di mana pengukuran kehadiran bisa sangat bervariasi,” saran Lindsey Wylie, koordinator penelitian di University of Nebraska-Lincoln, yang ikut menulis hasil penelitian. (*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.