Si Pungguk Pergi ke Bulan

oleh: Aluna

oleh: Aluna

MEPNews.id – Udara malam di bulan Agustus tahun ini terasa dingin dan menggigit kulit. Di luar rumah, angin berhembus cukup kencang. Pohon mangga di halaman menari-nari laksana penari Kecak Bali, hingga merontokkan putik bunga. Pohon bambu di pinggir sungai pun menari-nari bak putri kraton, lemah gemulai. Di langit bulan bersinar sangat indah. Bintang-bintang, yang entah berapa juta jumlahnya, berkedip-kedip menghiasi angkasa.

Ngguk……..! Ngguk………! Ngguk! Terdengar suara burung pungguk di antara dahan pohon mahoni yang tertiup angin. Ngguk……..! Ngguk………! Ngguk! Suaranya terdengar semakin jelas di telinga. Si Pungguk sedang memandang indahnya bulan dengan tatapan sayu. Matanya yang hitam tak berkedip. Ada yang resah ada yang gundah. Sesekali dikibaskan tubuh hingga bulu-bulunya yang sangat halus jadi tegak, mengusir dinginnya malam. Ngguk……..! Ngguk………! Ngguk!

Tapi, malam berlalu begitu saja. Yang tertinggal hanya dinginnya udara ketika puncak malam semakin tinggi.

Malam berikutnya, Si Pungguk bertengger di dahan yang sama. Kali ini ia tidak sendirian. Ada induknya. Rupanya Si Pungguk ingin menyampaikan sesuatu. Itu bisa dilihat dari gerakan kakinya yang melangkah ke kiri dan ke kanan berulang-ulang dengan gelisah.

“Anakku, apa yang sesungguhnya engkau pikirkan?” tanya Si Induk Pungguk melihat kegelisahan anaknya. “Beberapa hari ini, Ibu melihat engkau gelisah, enggan makan, enggan bekerja. Apa yang sesungguhnya terjadi, Anakku? Cobalah ceritakan pada Ibu.”

“Ibu, sudah berhari-hari ini aku memperhatikan bulan di sana,” jawab Si Pungguk sambil menelengkan kepala ke arah bulan. “Betapa aku ingin pergi ke sana, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya.”

Ibunya terdiam sejenak. Mencerna apa yang dikatakan anaknya barusan.

“Anakku, bagaimana engkau bisa mencapai bulan sedangkan sayapmu terlalu lemah untuk terbang setinggi itu? Bagaimana engkau bisa membuka matamu di saat matahari menyilaukanmu dengan sinarnya?” jawab Sang Induk Pungguk dengan lemah lembut.

“Ngguk……..! Ngguk………! Ngguk!” suara Si Pungguk memelas sambil matanya memandang bulan. Terdengar helaan napasnya lirih,mencerna perkataan ibunya. Semua apa yang dikatakan ibunya belum bisa diterima. “Benarkah apa yang dikatakan ibu?”

Dilihatnya kedua sayapnya. Bulu-bulu halus ini mampukah digunakan untuk terbang mencapai bulan? Maka, dikepakkan sayapnya. Pertama perlahan-lahan. Kemudian, makin lama, dikepakkkannya agak kuat dan lebih kuat lagi. Cengkeraman kakinya pada dahan pohon dilepaskan. Ia mencoba untuk terbang dengan seluruh kekuatannya. Matanya ditajamkan menembus gelapnya malam. Berusaha untuk terbang setinggi-tingginya. Terbang dan terbang. Namun dia harus menghentikan usahanya, karena keletihan.

Tak sadar, apa yang dilakukan Si Pungguk dilihat oleh sepasang mata sangat tajam. Mata Elang!
Dengan perlahan, Si Elang menghampiri.

“Hai…, Pungguk!” sapanya

“Eh… Hai, Paman Elang,”jawab Si Pungguk agak kaget, karena tak mengira ada yang menyapanya.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Elang.

“Saya ingin sekali ke bulan.”

“Oh, aku tahu caranya. Kalau begitu, maukah engkau bersama-sama pergi denganku?” ajak Elang.

Sebelum Si Pungguk mengiyakan, Elang sudah terbang lebih dahulu. Dengan sedikit ragu, Pungguk mengikuti Elang terbang. Mereka beriringan terbang melayang-layang dengan kecepatan tinggi ke angkasa. Ke Bulan!

Keduanya terbang hingga menembus awan tinggiiii sekali. “Paman….! Paman Elang…… tolonglah berhenti sejenak. Aku capek,” teriak pungguk sambil terengah-engah.

“Baiklah. Jjika engkau capek, naiklah ke punggungku,” ujar Elang.

Si Pungguk naik ke punggung Elang. Dengan kecepatan tinggi, Pungguk digendong Elang terbang. Entah berapa lama mereka terbang. Pungguk tak merasakan itu. Satu tujuannya, dia ingin sekali bertemu dengan bulan.

Tiba-tiba datanglah badai dan awan yang sangat berbahaya. Pungguk ketakutan luar biasa. Matanya dipejamkan rapat-rapat. Dipegangnya punggung Elang erat-erat.

Elang terus melanjutkan terbangnya. Sampai suatu saat mereka berdua tak lagi bisa melihat bulan.
Pungguk bingung ke mana perginya bulan? Dengan kecemasan luar biasa, dia tak sadar melepaskan pegangannya pada punggung Elang. Ia terbang sendiri mencari bulan. Teriakan Elang tak didengar dan dihiraukannya.

“Pungguk…… berhentilah! Kita tak bisa melanjutkan perjalanan. Ini sangat berbahaya.”

Namun Pungguk tetap terbang tanpa memikirkan risikonya.

Tak terasa, hari sudah menjelang fajar. Pungguk tak sadar bahwa sinar matahari yang panas akan menyilaukan matanya dan bisa mengakibatkan kebutaan.

“Bulan….. Bulaaan!! Di mana engkau?” jerit Pungguk memanggil-manggil. Sungguh dia tak memikirkan apa yang terjadi dengan keselamatan dirinya. Yang diinginkan adalah bertemu bulan.

Sampai akhirnya semua terlihat gelap. Pungguk tak bisa melihat apa-apa lagi di depannya. Ya, mata Pungguk terkena paparan sinar matahari. Matanya menjadi buta.

Pungguk terbang tak mengenal arah, hingga tak melihat ada pohon besar di hadapannya. Ditabraknya pohon itu dengan keras. Tewaslah Si Pungguk.

_______________________
Hikmah dari cerita ini:
Bercita-cita setinggi langit, boleh-boleh saja. Berani bermimpi, itu juga sesuatu yang luar bisa. Namun, kita harus memperhitungkan kekuatan dan kelemahan yang kita miliki.
_______________________

Penulis adalah siswi SD Islamiyah Magetan
Tulisan ini pernah diikutkan dalam acara lomba Menulis oleh Islamic International School

Facebook Comments

POST A COMMENT.