Jumat di Tanah Lot Bali

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id —  Akhirnya sampai juga saya di Tanah Lot Bali, Jumat 21 September 2018. Begitu sampai lokasi saya spontan ingin menulis mengenai sabar dan ilmu, bahwa sabar dan ilmu merupakan dua hal yang berbeda. Meskipun sudah sangat sabar, tapi kalau tidak memiliki tambahan informasi ilmu untuk mengerjakan sawah, maka kegagalan merupakan ancaman logis yang akan menyertainya. Dalam hal lain, banyak orang sering kena fitnah terus menerus karena memang ia tidak pernah memiliki informasi tambahan pengetahuan mengenai berbagai hal yang membuatnya sangat logis disangka negatif oleh orang lain, dituduh sangat keji, termasuk difitnah, dicaci maki, dan seterusnya. Padahal ia sudah sangat sabar dan menancapkan dalam hati dan fikirannya: La tahzan, innallaha ma’ana. Jangan bersedih karena sesungguhnya Allah bersama kita.

Harta melimpah berkecukupan memang seakan bagai segala-galanya. Orang bisa sangat tidak takut di-bully, dicaci-maki pun bodoh amat, hanya dengan satu pertimbangan: “Wong saya makan nggak pernah minta ke orang kok. Sehingga saya ngomong suka-suka saya dong. Saya bertindak juga suka-suka saya. Ngapain orang ngurus saya? Pokoknya saya sekarang sibuk bekerja keras cari uang sejak pagi sebanyak-banyaknya tanpa peduli kanan kiri dan nggak saya fikir omongan orang mengenai saya…”

Dan yang gemar caci maki juga bersikukuh dengan argumentasi yang sama: “Ngapain orang ngurus saya? Apa saya pernah minta makan? Tidak kan? Jadi, suka-suka saya dong. Saya mau caci maki terus menerus juga suka-suka saya. Hak-hak saya. Kalau orang tak mau diatur, ngapain ngatur mulut saya? Pokoknya saya adalah saya. Jangan ngurus saya. Saya ingin menjadi diri saya sendiri. Tak peduli apakah menjadi diri sendiri berdasarkan ego dan kebodohan saya sendiri, ataukah menjadi diri sendiri berdasarkan ilmu dan cahaya yang sejati, saya nggak peduli. Bodoh amat…”

Sampai disitu handphone saya mati. Saya menikmati udara dan alam semesta Tanah Lot Bali hingga Sabtu siang saya baru cabut, pulang ke Banyuwangi. Sekitar Isya’ sampai rumah. Lantas tepar dan istirahat. Meskipun saat mau istirahat itu ada saja ide yang mendadak lewat dan seakan berharap untuk ditulis, tapi tenaga saya sudah sangat tinggal 5 watt. Saya cancel semua yang ada di fikiran dan on the way tidur.

Lantas, dalam rangka acara apakah saya ke Tanah Lot Bali itu? Ah, sepertinya belum waktunya saya ceritakan disini. Kapan-kapan saja insya Allah kalau hati saya sudah sreg, saya ceritakan. Sepertinya untuk sekarang belum waktunya. Ini memang sok kakehan gaya saya. Tapi memang ini aslinya serius, bahwa tak semua hal bisa dan boleh diceritakan, boleh dibuka untuk umum, apalagi dimedsoskan dengan disaksikan sebegitu banyak mata pandang, dari tetangga, anak-anak, saudara, dan lain-lain. Tapi kalau sekedar menikmati Mie Ayam di warung kecil di daerah Tabanan Bali, boleh jugalah diceritakan.

Awal masuk Tanah Lot itu, andai handphone saya tak harus mati, saya akan menulis dengan ending begini: tak selamanya harta benda kekayaan mampu melindungi seseorang dari kekebalan rasa sakit hati oleh sebuah kritik yang overdosis menjadi caci maki, sehingga sekaya raya apapun seseorang suatu saat akan benar-benar terluka dan tersayat hatinya dan batinnya oleh sebuah kritik, fitnah, atau caci maki. Demi uang terkadang orang sangat cuek, masa bodoh dan bermuka tembok. Tapi ada saatnya, rasa malu dan terhina tak bisa dibendung meskipun uang ditangan milyaran rupiah. Meskipun makan tak pernah minta ke orang. So, berhati-hatilah dan pelajarilah sebab akibat. Seseorang tersebut bisa politisi, bisa pengusaha, atau siapa saja yang sedang merasa terhormat dan kaya raya.

Untungnya handphone saya mati saat itu. Jadinya tak bisa saya tulis. Dan sekarang saya belagak pilon sambil mengenang nikmatnya menyantap Mie Ayam di Tabanan sebelum masuk Tanah Lot itu. (Banyuwangi, 24 September 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.