Senam Pagi dan Sepatu Darurat

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id —- Ternyata daya penghormatan saya kepada dunia olah raga dan kesehatan sangat rendah sekali. Bayangkan, saya ini tidak punya sepatu olah raga. Sehingga pagi-pagi saya harus heboh dan ribet soal sepatu olah raga tatkala ada acara senam pagi yang diselenggarakan oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) kabupaten Banyuwangi dengan tajuk Senam Awas dan Deklarasi “Kalah Terhormat, Menang Bermartabat” di Gesibu Banyuwangi, 23 September 2018.

Untunglah akhirnya saya tertolong juga oleh sepatu bludru yang sangat darurat. Sambil bismillah saya pakai, semoga tak ada yang melihat, memfoto, dan menggunggahnya di  medsos, lantas meledek saya. Kalau sampai ada yang membully sepatu saya yang darurat itu, gawatlah citra hamba. “Aib itu harus disembunyikan bung. Jangan sampai dimedsoskan. Apalagi aib ekonomi bung, wajib ain untuk sembunyikan, hahahaha…” Ujar seseorang suatu ketika.

Teman-teman kanan kiri sangat ekspresif ketika senam, sedangkan saya belingsatan terus. Kalau ada yang kebetulan lihat saya, saya teriaki duluan: “Saya lagi pemanasan ini, hahaha…” Dan saya pemanasan terus hingga senam usai. Lantas menepi, menekan-nekan keyboard HP bak seorang wartawan, agar kelihatan tak salah tingkah.

Acara diakhiri dengan nyanyi bersama. Beberapa teman-teman naik panggung. Ada yang nyanyi Salah Tompo, Bojo Galak, Birunya Cinta, dan lain-lain. Saya pura-pura jeprat-jepret foto-foto. Ada yang menoleh seolah bilang: “Ayok joget…” Saya langsung tunjuk kaca mata saya sambil bilang: “Bisa jatuh kacamata saya ini, hehehe…”

Tak terasa hari ini, Minggu 23 September 2018, start kampanye para calon Legislatif 2019 dari tingkat RI hingga Kabupaten mulai berjalan. Semua orang, tak hanya para calon Legislator, terhadap sebuah kemenangan, pasti sudah sangat siap. Tapi kalau soal kekalahan, betapa tak semua orang dengan ringan menerimanya. Butuh kesiapan mental dan penataan diri sejak sedini mungkin, yang tak main-main.

Sesungguhnya seseorang memiliki kemenangan dan kekalahan setiap hari dalam hal-hal yang selalu berbeda-beda. Terkadang sesulit, serumit, sesakit apapun kehidupan yang kita jalani ini, kenikmatan berupa bisa bernafas hari ini, hendaknya benar-benar disadari dan disyukuri sebagai anugerah dari Yang Kuasa bahwa orang yang paling sangat kaya raya di dunia ini pun belum tentu memilikinya di hari ini.

“Meskipun kita lari sangat kencang ke utara, tapi kalau Allah menghendaki kita ke selatan, maka ya ada saja jalan yang membuat kita ke selatan,” kata saya suatu hari sok menasehati seseorang.

“Dan sepertinya,” batin saya kali ini, “Tuhan sedang sangat romantis dengan sepatu saya yang sangat darurat ini.” (Banyuwangi, 23 September 2018)

Facebook Comments

POST A COMMENT.