Propaganda Demokrasi Masyarakat Digital

Oleh: Djuwari

MEPNews.id —– “Nearly all men can stand adversity, but if you want to test a man’s character, give him power.” Abraham Lincoln (1808-1865),

Dengan selesainya undian nomor urut Capres di negeri, berarti sudah siap propaganda politik dalam demokrasi. Demokrasi masyarakat digital itu paling seru. Bagaimanakah keyakinan kita pada kedua calon tersebut? Kita semua mulai diuji. Dan, ujian ini bisa berubah-ubah bergantung siapa yang menang berpropaganda. Kita yakinkan siapa di antara dua calon itu yang memiliki keyakinan kepribadian yang kuat?
Manusia yang baik diharapkan mampu menghadapi godaan dan tantangan. Apa pun yang bergelimang. Termasuk, dia berusaha mampu berjuang demi rakyat alias bawahan dengan tantangan apa pun yang dihadapinya. Namun, kata Abraham lincoln (1808-1865), bahwa hampir semua manusia bisa berpendirian berbeda-beda. Mereka bisa bertahan juga dengan tantangan. Namun, itu bergantung kapan dan di mana. Itu sebabnya, untuk menguji manusia berpendiri kuat dengan tantangan, maka berilah dia kekuasaan.
Secara tersirat, ada makna bahwa manusia kelihatan aslinya ketika dia mendapatkan kekuasaan. Ketika dia sebagai orang biasa, bawahan, sering dia menyampaikan gagasan-gagasannya yang cemerlang dan bernapaskan kerakyatan. Ketika di sebuah perusahaan atau kantor belum memperoleh kedudukan, sering berteriak dan bersuara ke sana-sini tentang perjuangan kaum lemah. Namun, ketika diberi kekuasaan dan wewenang di pucak pimpinan, justru bisa saja bersikap sebaliknya. Dia lupa apa yang telah diyakininya. Lupa dengan janjinya.
Mengingatkan kutipan Prsiden Amerika, Abraham Lincoln, manusia memiliki kepribadian yang kuat. Namun, bisa saja berubah setelah memperoleh kekuasaan. Dalam pesta demokrasi menghadapi pilihan presiden di negeri, kita dihadapkan pada keyakinan. Keyakinan itu kita tujukan kepada siapa calon itu yang kita nilai mampu bertahan (can stand) pendirian, termasuk janji-janji yang diucapkan nanti.
Kita dihadapkan pada pilihan kepada siapa di antara dua calon itu yang kita anggap mampu memiliki kepribadian kuat. Kepribadian yang sungguh-sungguh demi kemajuan bangsa secara total. Demi kemakmuran rakyat secara nyata dan jelas dengan angka-angka riel matemetika. Bukan berupa data dengan kekuatan retorikan dan argumen belaka.
Masyarakat digital yang besar tanpa bentuk akan dijadikan alat “berperang.” Propaganda dan penyebaran isu-isu hangat dan panas pun bertebaran. Kedua kubu dengan gencar berjuang agar pilihannya bisa sebagai orang nomor satu di negeri ini. Para gerakan relawan dan pendukungnya sudah mulai bergerilya. Di media sosial, postingan-postingan beraneka ragam. Merekalah yang akan memberi warna dunia kehidupan masyarakat digital.
Berbagai hinaan. Berbagai pernyataan. Berbagai propaganda saling menyerang. Dunia internet dengan bentukan masyarakat digital mulai memanas. Panasnya suasana komunitas digital ini seiring dengan maraknya para pedukung yang khawatir kekalahan calon yang didukungnya. Inilah sebenarnya demokrasi bebas tanpa batas: berbahaya.
Mereka ikut lupa bersikap dan berperilaku menyimpang. Menyimpang dalam arti menghina. Menyimpang dalam arti bisa memfitna. Menyimpang dengan cara-cara mendiskritkan para oposisinya. Anehnya, jika kita amati bukanlah orang-orang berendidikan rendah. Malah ada yang sebaliknya. Mereka bisa juga berpendidikan tinggi. Mereka ikut lupa dan andil dalam propaganda yang bisa juga merendahkan orang lain. Menghina, mencaci, dan memaki. Apa pun dengan predikat dirinya mereka bisa lupa. Seakan sama dengan rakyat biasa yang nota bene tanpa mengenyam pendidikan.
Di sinilah, kita dipertaruhkan. Bagaimana kita meyakinkan pilihan kita? Jalan yang terbaik adalah dengan menahan diri. Sebagai orang yang dewasa, mereka tentu tahu pilihan itu bergantung sejauh mana kita menilai calon pemimpin. Namun, tidaklah selalu percaya propaganda semua. Propaganda dalam era masyarakat digital sering dimenangkan para pemodal besar. Merekalah yang bisa berkreatif dan berpropaganda ria dengan bervariasi informasi.
Keyakinan memang butuh bukti. Keyakinan memang butuh referensi. Keyakinan memang memerlukan data dan catatan. Namun, dunia masyarakat digital itu heterogin. Datanya heterogin. Hoax dan kepalsuan bisa saja seperti tampak benar.
Di sinilah tantangan rakyat dalam menumbuhkan keyakinan untuk keputusan mencoblos pilihan. Yakinkan bahwa di antara kedua calon itu, hanya ada satu yang bisa berpendirian kuat terhadap bermacam-macam tantangan dari dalam dan luar. Itulah the test of character.

Penulis adalah : Pengamat Pendidikan dan Sosial,President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER), Dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.