Mengapa Halaman Buku Jadi Menguning?

MEPNews.id – Jika melihat kliping koran lama, dokumen kertas yang sudah tua, atau buku-buku yang sudah melewati masa jayanya, Anda akan melihat mereka cenderung memiliki warna kuning kecokelatan. Pertanyaannya, mengapa produk kertas yang menua berubah warna?

Kertas terbuat dari komponen yang bisa menguning seiring waktu; setidaknya ketika terkena oksigen. Begitu penjelasan Susan Richardson, profesor kimia di University of South Carolina di Amerika Serikat, dikutip Aylin Woodward kontributor LiveScience pada 22 September 2018.

Kebanyakan kertas terbuat dari kayu. Kayu sebagian besar terdiri dari selulosa dan komponen alami yang disebut lignin. Lignin ini memberi dinding sel pada tanaman darat sehingga bisa kaku dan kuat. Selulosa zat tak berwarna tapi sangat bagus memantulkan cahaya, yang kita mengartikannya sebagai warna putih. Inilah sebabnya mengapa kertas biasanya berwarna putih.

“Tapi, ketika lignin terkena cahaya dan udara sekitarnya, struktur molekulnya berubah. Lignin adalah polimer, yang berarti dibangun dari sekelompok satuan molekul yang sama dan diikat bersama. Dalam lignin, satuan pengulangan itu adalah alkohol yang terdiri dari oksigen dan hidrogen dengan atom karbon,” kata Richardson.

Lignin, dan sebagian selulosa, rentan terhadap oksidasi. Zat ini selalu siap mengambil molekul oksigen ekstra, lalu molekul-molekul itu mengubah struktur polimer. Molekul oksigen tambahan memecah ikatan yang menahan sub-unit alkohol itu, menciptakan wilayah molekuler yang disebut kromofor. Kromofor (yang dalam bahasa Yunani berarti ‘pembawa warna’) mencerminkan panjang gelombang cahaya tertentu yang dilihat mata kita sebagai warna. Dalam kasus oksidasi lignin, warnanya kuning atau coklat.

Proses oksidasi yang mirip juga membuat apel irisan berubah warna kecokelatan ketika ditinggalkan di meja. “Oksigen di udara bisa masuk ke jaringan buah, dan enzim yang disebut polifenol oksidase (PPO) mengoksidasi polifenol (senyawa organik sederhana) di kulit apel,” kata Lynne McLandsborough, profesor ilmu makanan di University of Massachusetts Amherst, dikutip Scientific American. Proses ini menghasilkan bahan kimia yang disebut o-quinones yang kemudian menghasilkan melanin berwarna coklat —pigmen gelap yang ada di kulit, mata, dan rambut kita.

Biasanya, produsen kertas mencoba menghilangkan sebanyak mungkin lignin dengan cara melakukan proses pemutihan. Semakin banyak lignin yang dibuang, semakin awet putihnya kertas. Tapi, kertas koran –yang dibuat dari bahan dengan murah– memiliki lebih banyak lignin daripada kertas buku teks. “Kertas koran lebih cepat berwarna kecoklatan daripada jenis kertas lain,” kata Richardson.

Menariknya, produsen kertas tas belanja dan kertas kardus justru memanfaatkan lignin karena produk mereka jadi lebih kuat. Produk-produk kertas ini sengaja tidak diputihkan, sehingga berwarna lebih coklat daripada kertas koran.

Menurut Richardson, “Secara teoritis, kita dapat membuat buku-buku sekolah dalam kondisi murni alias putih terus asalkan kita bisa menahannya oksigen dan cahaya. Oksigen itu musuh bagi putihnya kertas. Maka, simpan buku dalam kotak tertutup rapat. Ganti oksigen dengan nitrogen, argon atau gas lembam lainnya, yang tidak siap menjalani reaksi kimia.”

Selain oksigen, kebanyakan sinar matahari dan kelembaban juga dapat berdampak negatif terhadap pelestarian kertas. Buku apa pun yang dikelilingi oksigen akan berwarna kuning meski disimpan di ruangan gelap. “Sinar matahari mempercepat proses oksidasi,” kata Richardson.

Juru arsip dan petugas pemelihara hingga pustakawan terus berusaha keras melawan degradasi kertas akibat proses oksidasi. Melestarikan dokumen sejarah penting yang tertulis di kertas membutuhkan kesadaran tentang faktor lingkungan yang dapat merusak produk.

Facebook Comments

POST A COMMENT.