Bikin Bayi Bisa dari Sel Kulit atau Darah

MEPNews.id – “Bye, bye, sexual intercourse.” Entah apa yang bakal terjadi nanti. Sains membuka jalan bagi proses ‘membuat bayi’ tanpa harus lewat hubungan seksual yang melibatkan sel sperma dan sel telur alami. Tentu ada orang-orang tertentu yang bisa tertolong. Tapi, ada juga yang merasa kehilangan. Belum lagi masalah moral dan kemanusiaan.

David Grossman, dalam Popular Mechanics edisi 22 September 2018, mengabarkan para ilmuwan di Jepang membuat langkah besar menuju ‘gametogenesis in vitro’(menciptakan sel telur dan sel sperma dalam cawan laboratorium). Para peneliti dari Universitas Kyoto dan Universitas Kyushu berhasil menciptakan oogonium manusia dari sel induk.

Oogonia adalah sel-sel reproduktif belum matang pada wanita. Sel-sel diploid kecil ini terbentuk selama tahap awal perkembangan janin. Sebagai sel diploid, mereka memiliki salinan dari kromosom ibu dan kromosom ayah. Di alam, mereka terbentuk dari sel-sel germinal primordial dan dapat dilihat sebagai awalan bagi terbentuknya sel telur. Mereka muncul selama trimester pertama kehamilan.

Penemuan baru ini berpangkal dari temuan lebih dari satu dekade yang lalu bahwa sel kulit biasa atau sel darah dapat diprogram ulang menjadi sel induk yang mampu berkembang menjadi semua jenis jaringan dalam tubuh. Penemuan tentang sel induk ini menjadi salah satu batas yang paling menggiurkan dalam penelitian biomedis.

Mitinori Saitou, peneliti sel induk di Universitas Kyoto di Jepang, memimpin penelitian yang hasilnya diterbitkan di Science. Saitou bersama Chika Yamashiro bekerja bertahun-tahun menerapkan pendekatan sel induk itu pada sel telur dan sperma. Dalam percobaan terbaru, mereka menciptakan sel induk dari sel darah dan kemudian mengarahkannya untuk berkembang menjadi sel reproduksi germinal primordial pada tahap awal perkembangan sel telur.

Mereka menginduksi sel-sel tersebut ke dalam sel-sel seperti sel germinal primordial manusia (dengan akronim hPGCLCs). Tim ini mampu memelihara hPGCLCs tetap hidup selama empat bulan dengan cara menginkubasi mereka dalam cawan laboratorium dengan sel-sel ovarium tikus. Dalam periode waktu itu, hPGCLCs mampu berkembang menjadi oogonia manusia.

“Keberhasilan terhadap sel-sel manusia hanya masalah waktu. Kita memang belum sampai di sana sekarang. Tapi, tidak dapat disangkal, ini langkah lanjut spektakuler,” kata Eli Adashi, mantan dekan kedokteran dan ilmu biologi di Brown University yang tidak terlibat dalam penelitian ini, dikutip The Washington Post. “Dengan mempertimbangkan betapa sulitnya oogonia terjadi pada manusia, penelitian baru ini ibarat sudah memecahkan es. Ketika saya menyaksikannya, saya berkata dalam hati, ‘Ah, bidang ini sedang bergerak maju’.”

“Hasil penelitian ini lebih jauh daripada yang pernah didapat dengan telur manusia sebelumnya, tetapi masih belum menjadi telur,” kata Henry Greely, direktur pusat hukum dan biosains di Stanford University, dikutip The Washington Post.

Rekayasa genetika memang mengalami kemajuan pesat, terutama dalam hal kesuburan manusia. Bertahun-tahun, Jepang punya masalah dengan tingkat kelahiran yang rendah dengan berbagai alasan. Selain alasan psikis antara lain stress kerja, rendahnya angka kelahiran mungkin disebabkan infertilitas kaum pria. Kini, satu dari setiap 20 bayi di Jepang dilahirkan melalui fertilisasi in vitro (bayi tabung). Ini menunjukkan Jepang terbuka untuk metode kehamilan non-tradisional. Awal 2018, diumumkan seorang wanita akan menjalani terapi donor mitokondria; pada intinya untuk membuat kehamilan hingga tiga orang.

Facebook Comments

POST A COMMENT.