“Nyepam Omongan” Pendidik di Status Sosial Media

By: Syaifulloh

Penikmat Pendidikan

MEPNews.id —- Sosial media dengan berbagai macam perkembangan dan kemajuan telah membantu hubungan manusia semakin mudah dan lebih membantu berbagai macam aktivitasnya baik formal maupun informal.

Hubungan kekerabatan formal telah menunjukkan evektivitasnya dengan munculnya berbagai macam group dari akun-akun penyedia layanan pertemanan sebagai ajang untuk mengalir kan hobi berdasarkan kebutuhannya.

Bagi pendidik dengan adanya akun sosial media telah membantu komunikasi yang cepat dan mudah diakses oleh para pendidik dalam membantu aktivitas proses belajar mengajar di kelas dan luar kelas. Kemudahan yang dapat menjadikan hubungan belajar mengajar bisa terus mengalami perbaikan untuk mencapai kompetensi yang di inginkan.

Berbagai layanan akun yang tersedia telah merasuki jiwa pendidik dengan sempurna. Ada pendidik yang begitu aktif melakukan kegiatan bersosial media tanpa menghiraukan waktu. Terjadi terus menerus online tanpa henti yang berakibat menurunnya mutu belajar mengajar. Kadang tanpa disadarinya sambil mengajar terus sambil tersenyum.

Ada cerita dari sekolah-sekolah yang memiliki type guru semacam ini, yang terus tersenyum tanpa henti sambil asyik membuka Hp-nya baik ketika mengajar maupun tidak mengajar. Ketika istirahat malah lebih seru kegiatan di ruang guru. Tidak ada waktu untuk saling berkolabreasi dalam memecahkan masalah-masalah kesulitan belajar siswa, kemajuan sekolah ataupun sekedar selingan guyonan antar Guru.

Secara individu mereka akan asyik dengan dunianya sendiri bermain Whatsapp ataupun akun lain untuk menunjukkan eksistensi dirinya di dunia maya. Begitu aktifnya bermain peran di dunia maya sampai menjadikan “nyepam omongan” terus dilakukan dengan berbagai maksud dan tujuannya.

“Nyepam Omongan” melalui status pendidik di berbagai status sosial media bisa menunjukkan kepribadian secara utuh melalui tulisan-tulisannya setiap hari yang selalu berganti. Situasi dan kondisi apapun yang sesuai dan tidak sesuai dengan dirinya akan menjadi status di sosial media.

Status yang berjejer tiada henti dan dibuat untuk update kepribadian bisa menunjukkan secara tidak langsung kualitas dan kapasitas pendidik dalam melaksanakan Profesionalnya mencapai kompetensi sesuai aturan pemerintah.

Status yang dibuat oleh pendidik bagi kepala Sekolah dan Yayasan pemilik sekolah, bisa dijadikan bahan komprehensif dalam mengukur kepribadian dan kesetabilan proses kerja melalui prosedur proses belajar mengajar esperte STEM yang membutuhkan stempel.

Chaerul Rochan mengutip Muhammad Abdul Kholiq menyebut pengertian kepribadian secara terminologis, yaitu kepribadian (syakhshiyyah) adalah majmu’ah ash-shifah al-‘aqliyyah wa al-khulqiyyah al-lati yamtazu biha asy-syakhshu ‘an ghairih (sekumpulan sifat yang bersifat akliyah dan perilaku yang dapat membedakan seseorang dengan orang lain).

Menurut Duane P. Schultz dalam Theries of Personality; terdapat lima bentuk kepribadian yang mendasari perilaku individu, yaitu: pertama, neuroticism yang menyangkut kestabilan emosi dan identik dengan segala bentuk emosi yang negatif, seperti munculnya perasaan cemas, sedih, tegang, dan gugup. Kedua, adalah extraversion yang merupakan perilaku individu terhadap dunia luarnya (orang lain) baik tertutup (introvet) maupun terbuka (ekstrovet). Ketiga, openness merupakan bentuk pribadi yang menyenangkan, kreatif, tenang, dan santai. Keempat, agreeableness merupakan pribadi yang berorientasi pada keterusterangan, rendah hati, kesabaran dan suka menolong. Dan yang kelima adalah conscientiousness mengidentifikasikan sejauh mana individu memiliki sikap yang hati-hati dalam mencapai suatu tujuan tertentu yang termanifestasikan dalam sikap dan perilaku mereka.

Bagi kepala Sekolah dan Yayasan bisa menggunakan lima kepribadian di atas dalam menyikapi “nyepam omongan” dari para pendidiknya. Kalau ingin melihat pendidik yang menyerang dengan sembunyi-sembunyi atau secara frontal bisa melihat statusnya para pendidik.

Tapi nyepam omongan juga tidak akan bisa berhenti apabila secara individu memang masih membutuhkan itu sebagai aktualisasi dirinya melalaui dunia maya yang tidak berdampak pada profesionalismenya sebagai pendidik yang memiliki tantangan besar menyiapkan generasi insan kamil pda masa yang akan datang.

Kesabaran dan kesadaran pendidikan untuk tidak “nyepam omongan” bisa menjadi salah satu indikator keberhasilan sertifikasi guru yang sudah berjalan sekian lama tapi secara kasat mata belum menunjukkan hasil pendidikan yang menggembirakan baik langsung maupun tidak langsung.

Wassalam

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.