Menutupi Rekam Jejak Masa Lalu

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id —- Konon segala sesuatu mengenai siapa kita itu ada tanda-tandanya. Ada metodologi tertentu untuk mendeteksi apakah seseorang tersebut merupakan mantan jebolan aktivis dugem, berkemungkinan sebagai pengedar narkoba, hingga jangan-jangan sebagai dalang provokasi fitnah-fitnah dan siapa tahu sekaligus sebagai aktor utama pembunuhan yang sadis terhadap sesama pesaing bisnis.

Dari deteksi kecil-kecilan dan yang ringan-ringan kemudiaan tentunya jika itu masalah serius seperti narkoba atau pembunuhan pastinya akan ditelusuri lebih lanjut mengenai bukti nyata, hasil wawancara, dan seterusnya. Tidak bisa dan tidak boleh orang berani menyimpulkan baik buruk seseorang sebelum bertanya, menelusuri, apalagi hanya dari tanda-tanda fisik belaka. Harus ada bukti konkret. Dan untuk menuju bukti konkret inilah terkadang segala sesuatunya menjadi sekedar rasan-rasan serta sekedar isu terhangat yang muncul sesaat karena terbukti nonsense alias omong kosong.

“Tapi aku yakin dia itu pelaku. Meskipun karena sesuatu hal tak mungkin kita punya bukti konkretnya,” begitu biasanya bunyi rasan-rasan prasangka kelas warung kopi.

Kita semua tahu bahwa kabar buruk sangat gampang menyebar dibandingkan kabar baik. Berita hoax tak jelas sumbernya lebih cepat di-share kemana-mana. Kesederhanaan dan kebersahajaan sangat jarang terpublikasi di televisi atau media apapun, sehingga kemewahan seakan-akan menjadi keharusan dan kewajaran.

“Banyak hal dianggap benar dan wajar belaka karena pergaulan yang dia ikuti terus menerus,” kata seorang penikmat kopi dalam sebuah tulisannya. Ia lantas melanjutkan: “Gaya hidup orang yang menyukai artis, mem-follow selebritis, berbeda dengan kalian yang sukanya mengikuti gelandangan, mengikuti aktivis yang terbuang, apalagi jika kalian nge-fans sama tokoh yang tidak mau masuk televisi. Kalian akan kampungan. Untuk modern kita harus mengikuti mereka-mereka itu. Jangan tanya siapa yang aku maksud mereka-mereka itu. Jika kalian bertanya mengenai siapa mereka-mereka itu, maka kalian sungguh sangat old, ketinggalan jauh, dan tidak now sama sekali…”

Kata-kata tersebut sengaja ia tuliskan dan pembacanya dianggap sebagai lawan bicaranya. Kalau tidak ia tuliskan, dan andai malah ia ucapkan, jadinya ia akan ngomong-ngomong sendiri sehingga biasanya tampak jelas tanda-tanda buruknya: jangan-jangan isi dompetnya sudah mulai menipis.

Akan tetapi di suatu siang ia pernah nekat mengemukakan kepada seseorang: “Demi nama baik dan karier masa depan, sebaiknya Sampeyan menutupi rekam jejak masa lalu Sampeyan yang oleh banyak orang telah dianggap buruk.”

Maksud dianggap buruk itu karena bisa jadi bagi orang lain dianggap wajar saja. Akan tetapi bagi mantan preman, sekedar pegang pisau saja bisa dicurigai: “Sepertinya dia mau berakasi lagi seperti dulu…” Sehingga kita bisa melawak: “Bagi mantan preman hindari pegang piasu apalagi foto pakai pisau, hehehe…”

So, marilah kita menunggu kehebatan mantan narapidana koruptor yang sedang menyakinkan masyarakat luas bahwa ia bukan lagi seperti yang dulu, juga marilah kita tunggu bersama bagaimana pula kehebatan orang yang kemarin dapat predikat baik, ia tetap baik hingga hari ini. Padahal setiap perubahan hari senantiasa memungkinkan bahwa yang baik bisa buruk dan yang buruk bisa baik. (Banyuwangi, 18 September 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.