Algoritma Ungkap 4 Jenis Utama Kepribadian

MEPNews.id – Dengan menggunakan seperangkat data yang melibatkan lebih dari satu juta orang di seluruh dunia, para peneliti di Northwestern University, Illinois, Amerika Serikat, mengungkapkan apa yang mereka percayai sebagai empat tipe kepribadian utama manusia. Temuan ini memiliki potensi antara lain untuk digunakan para manajer perekrutan tenaga hingga penyedia perawatan kesehatan mental.

Sadhana Bharanidharan dalam Medical Daily edisi 18 September 2018 mengabarkan penelitian itu dilakukan oleh Martin Gerlach, Beatrice Farb, William Revelle dan Luís A. Nunes Amaral. Hasil penelitian berjudul ‘A robust data-driven approach identifies four personality types across four large data sets’ itu diterbitkan di jurnal Nature Human Behaviour pada 17 September.

Manusia suka mengenali kepribadian dengan serius atau iseng, bahkan lewat horoskop atau kuis internet. Di antara berbagai subjek-subjek umum, menentukan tipe kepribadian diri sendiri adalah yang paling mempesona. Perangkat populer untuk melakukannya adalah Myers-Briggs Type Indicator.

Tetapi para ilmuwan belum yakin apakah tes dan kategorisasi dari Myers-Briggs ini benar-benar akurat. “Manusia sudah mencoba mengklasifikasikan jenis-jenis kepribadian sejak zaman Hippocrates. Tapi, literatur ilmiah sebelumnya telah menemukan hampir semua itu tidak masuk akal,” kata William Revelle, profesor psikologi di Weinberg College of Arts and Sciences.

Tapi, meski skeptisisme menjadi dorongan awal dari studi baru ini, Revelle percaya temuan mereka menunjukkan kepadatan lebih tinggi dari tipe kepribadian tertentu dalam populasi manusia. Alasannya? Sebagai bagian dari studi, 1,5 juta orang dari seluruh dunia direkrut para peneliti untuk menjawab serangkaian pertanyaan. Jawaban mereka diolah melalui algoritma. Nah, algoritma ini membantu memplot sejumlah besar data dan kemudian mengidentifikasi empat tipe luas dari kepribadian; average (biasa-biasa saja), reserved (pendiam), role models (model peran bagi orang-orang lain), dan self-centered (lebih terorientasi mementingkan diri sendiri).

Sebelum menjelajahi apa yang diwakili oleh masing-masing jenis kepribadian utama ini, penting untuk mengetahui sifat-sifat dasar yang mendasari penilaian. Sifat-sifat dasar ini dikenal sebagai Lima Besar yakni neuroticism (kecenderungan jangka panjang untuk dalam keadaan cemas atau emosional negatif lainnya), extraversion (cenderung berperilaku enak bergaul, banyak bicara, energik), openness (terbuka), agreeableness (ramah dan mudah diajak kompromi), dan conscientiousness (ketelitian).

Pertama, average adalah tipe kepribadian yang paling umum. Kebiasaan yang rata-rata atau biasa-biasa saja. “Saya rasa rata-rata orang khas akan berada dalam kelompok ini,” kata penulis pertama studi, Martin Gerlach. “Orang dengan tipe ini mendapat skor tinggi dalam neuroticism dan extraversion, tetapi skor rendah dalam openness.”

Tipe role model, di sisi lain, mendapat skor rendah dalam neuroticism dan skor tinggi dalam semua ciri lainnya. Mau tahu contohnya? Jika pernah menonton film Captain America, mungkin ia cocok untuk kategori ini. Ia sangat dapat diandalkan dan memiliki kualitas sebagai pemimpin yang baik.

Selanjutnya, kategori reserved terdiri dari orang-orang yang secara emosional stabil tetapi mendapat skor rendah pada neuroticism dan openness. Meski mereka lumayan enak diajak bersetuju dan bersifat teliti, tapi tidak terlalu terbuka. Yang menarik, kategori ini paling banyak variasi dalam hal usia dan jenis kelamin.

Terakhir, tipe self-centered mencatat skor sangat tinggi dalam extraversion tapi skornya masih di bawah tipe average dalam sifat-sifat seperti openness, agreeableness, dan conscientiousness. “Ini jenis orang-orang yang Anda langsung enggan untuk ajak bergaul,” kata Revelle. “Remaja laki-laki cenderung terwakili dalam kelompok ini.”

Para peneliti menekankan, jenis kepribadian dapat berubah dari waktu ke waktu. Ini terutama terlihat ketika mengkaji bagaimana seseorang berubah pada periode antara remaja hingga usia 20-an. “Ketika mengkaji sekelompok besar manusia, jelas ada kecenderungan bahwa beberapa mungkin mengalami perubahan karakteristik dari waktu ke waktu,” kata Luís Amaral yang memimpin penelitian. “Ini bisa menjadi subjek penelitian masa depan.”

Facebook Comments

POST A COMMENT.