Pembinaan Spiritual Anak Berguna Saat Dewasa

MEPNews.id – Bunda, Ayah, mari sempatkan waktu untuk membina spiritualitas anak pada era tak menentu seperti sekarang ini. Selain seruan agama, manfaat pembinaan spiritual ini juga didukung hasil riset ilmiah. Menurut penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Epidemiology, pembinaan spiritual selama masa kanak-kanak dan remaja dapat membantu menyangga sejumlah kesejahteraan fisik dan psikis ketika masuk masa dewasa awal.

Traci Pedersen di PsychCentral edisi 16 September 2018 mengabarkan, peneliti di Harvard T. H. Chan School of Public Health di Amerika Serikat menemukan, orang yang menghadiri layanan keagamaan mingguan atau rutin menjalankan ritual keagamaan harian atau bermeditasi di masa muda mengaku mendapatkan kepuasan hidup lebih besar dan positif dalam usia 20-an. Mereka juga cenderung tidak mengalami gejala depresi, merokok, menggunakan obat-obatan terlarang, atau masalah infeksi menular seksual, dibandingkan dengan mereka yang dibesarkan dengan kebiasaan spiritual kurang teratur.

“Temuan ini penting untuk pemahaman kita tentang kesehatan dan tentang praktik parenting,” kata Dr. Ying Chen, yang baru menuntaskan program beasiswa post-doctoral di Harvard Chan School, sekaligus penulis hasil penelitian. “Banyak anak-anak dibesarkan secara religious. Menurut hasil penelitian kami, ini dapat mempengaruhi perilaku kesehatan, kesehatan mental, kebahagiaan, dan kesejahteraan mereka secara keseluruhan.”

Penelitian sebelumnya menunjukkan hubungan antara keterlibatan agama orang dewasa dengan hasil kesehatan dan kesejahteraan yang lebih baik, termasuk rendahnya risiko kematian dini. Untuk studi baru ini, Dr Chen dan penulis senior Dr Tyler VanderWeele yang baru ditunjuk menjadi John L. Loeb and Frances Lehman Loeb Professor of Epidemiology, menganalisis data kesehatan para ibu dalam Nurses’ Health Study II (NHSII) dan anak-anak mereka dalam Growing Up Today Study (GUTS). Sampelnya lebih dari 5.000 pemuda yang dilacak selama 8 hingga 14 tahun. Para peneliti mengendalikan banyak variabel antara lain kesehatan ibu, status sosial ekonomi, dan riwayat penyalahgunaan narkoba atau gejala depresi, untuk memisahkan faktor spesifik dari pendidikan agama.

Temuan mengungkapkan, orang yang menghadiri layanan keagamaan setidaknya setiap minggu pada masa kanak-kanak dan remaja kira-kira 18 persen lebih mungkin melaporkan kebahagiaan lebih besar saat jadi orang dewasa muda (usia 23-30), daripada mereka yang tidak pernah menghadiri layanan keagamaan. Mereka juga 29 persen lebih mungkin menjadi relawan di komunitas dan 33 persen lebih kecil kemungkinannya menggunakan obat-obatan terlarang.

Peserta yang pada masa anak-anak dan remaja setiap hari mendekatkan diri pada Tuhan atau bermeditasi 16 persen lebih banyak melaporkan kebahagiaan lebih besar sebagai orang dewasa muda, 30 persen lebih kecil kemungkinannya untuk mulai berhubungan seks pada usia muda, dan 40% lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami infeksi menular seksual, jika dibandingkan kepada mereka yang tidak pernah berdoa atau bermeditasi.

“Memang, keputusan tentang agama tidak dibentuk semata-mata oleh pertimbangan kesehatan. Namun, remaja yang sudah memegang keyakinan agama, biasa hadir ke layanan keagaman, dan secara individual sudah mempraktikkan nilai-nila agama, semua itu dapat menjadi sarana yang berarti untuk melindungi diri terhadap beberapa ancaman bahaya bagi remaja. Antara lain ancaman depresi, penyalahgunaan narkoba, atau pengambilan risiko tanpa rasio. Selain itu, praktik-praktik spiritual ini berkontribusi positif terhadap rasa kebahagiaan, suka rela membantu warga sekitar, punya misi dan tujuan yang lebih besar, dan mau memaafkan,” kata VanderWeele.

Satu keterbatasan studi terbaru ini adalah terutama melacak anak-anak perempuan kulit putih dengan status sosial ekonomi keluarga relatif tinggi. Hasil itu mungkin tidak dapat digeneralisasikan ke populasi lebih luas, meskipun penelitian sebelumnya oleh VanderWeele menunjukkan efek lebih besar kehadiran layanan keagamaan terhadap orang dewasa kulit hitam, dibandingkan dengan populasi kulit putih.

Keterbatasan lain adalah penelitian ini tidak menyelidiki pengaruh orang tua dan teman sebaya pada keputusan agama remaja. Sementara, penelitian sebelumnya pada populasi orang dewasa menemukan kehadiran layanan keagamaan yang cenderung memiliki hubungan lebih besar dengan kesehatan dan kesejahteraan lebih baik daripada berdoa atau meditasi. Penelitian terbaru terhadap remaja ini menemukan, praktik spiritual komunal dan pribadi memiliki manfaat yang kurang lebih sama.

Facebook Comments

POST A COMMENT.