Belajar Bikin Bisnis Kecil Mulai Awal

Oleh: Teguh W. Utomo

Oleh: Teguh W. Utomo

MEPNews.id – Banyak perusahaan yang kini besar atau meraksasa dulunya diawali dari usaha kecil. Banyak boss-boss besar yang dulunya merintis bisnis dari sangat bawah. Mungkin, awalnya hanya modal mimpi dengan sumber-sumber sangat terbatas. Akhirnya menjadi bisnis yang sukses. Bisnis raksasa Gudang Garam berawal dari rokok linting rumahan Inghwie. Eka Cipta Wijaya dibesarkan dari toko kelontong kecil ayahnya di Makassar. Mark Zuckerberg membuka bisnis facebook dari garasi.

Pertanyaanya, bagaimana mereka bisa membuka bisnis kecil lalu sukses mengembangkannya jadi bisnis raksasa? Meski bisnis kecil, pijakannya harus disusun jauh-jauh hari sehingga kuat dan tahan banting. Pijakan disusun lewat keyakinan akan mukjizat dari Tuhan, penggemblengan mental diri sendiri, dan menggalang sumber-sumber besar dari sekitar. Metodenya tentu berkembang berdasarkan kondisi masing-masing.

Tentu, orang tahu Nadiem Makarim. Posisinya cukup kuat dan aman di Zalora, namun bersedia babat alas untuk GoJek dan membuatnya jadi raksasa jasa angkut online di Indonesia. Silakan Anda mengikuti jejak Nadiem Makarim jika yakin bisnis kecil yang Anda dirikan bisa segera mapan. Jika belum terlalu yakin, ada baiknya Anda membuat pijakan kuat dulu sambil meminimalkan risiko keuangan.

Jangan keluar dulu dari pekerjaan harian Anda, sampai bisnis Anda bisa berkembang dan stabil. Maka, disiplinkan diri untuk berbagi. Misalnya, Anda bekerja di kantor dari 09.00 sampai 17.00. Anda harus memblok waktu khusus setiap hari untuk mengurus embrio bisnis kecil Anda. Anggap saja, 19.00-22.00 adalah waktu terbaik. Yang penting, atur waktu dan jaga tingkat stres agar tetap rendah.

Jika sudah mulai berjalan, pegang kuat-kuat prinsip bisnis ‘keluarkan uang lebih sedikit, masukkan uang lebih banyak.’ Temukan cara untuk memotong anggaran di semua tempat dan kesempatan, dan mendapatkan masukan sebesar mungkin. Jika bisa dikerjakan sendiri, jangan mempekerjakan orang lain. Jika bisa numpang di rumah, jangan dulu sewa kantor. Selain itu, jangan campurkan keuangan perusahaan yang masih muda ini dengan keuangan pribadi. Bisa runyam akibatnya.

Lalu, temukan ‘malaikat penolong’. Sambil tetap bekerja ikut orang, manfaatkan jaringan untuk mencari investor sebagai sumber pendanaan membesarkan bisnis kecil Anda. Manfaatkan koneksi. Semakin banyak orang yang Anda ajak bicara, semakin besar peluang untuk menemukan mitra yang dapat membantu atau memperkenalkan Anda kepada orang yang dapat membantu.

Pergilah ke bank meski Anda tidak terlalu perlu. Mengapa? Datang ke bank saat Anda tidak memiliki apa-apa sering kali menempatkan Anda pada posisi rentan. Jadi, jauh di awal, lebih baik Anda sudah membina hubungan baik dengan bank. Misalnya, sekadar buka rekening dan rutin menabung. Tuntaskan dokumen terkait perbankan lebih awal. Nah, ketika sudah saatnya harus kontak lebih intensif dengan bank, termasuk saat banyak transfer atau butuh dana pinjaman, Anda sudah lancar mengurusnya dan bank lebih siap membuka pintu.

Saat yakin bisnis mulai berkembang dan mapan, maka Anda harus fokus. Tinggalkan hal-hal yang tidak perlu atau menghambat; termasuk tinggalkan pekerjaan harian yang ada. Lakukan apa yang Anda ketahui cara melakukannya di bisnis Anda sendiri, dan beri kesempatan orang lain menangani hal-hal lain. Bagilah tugas dengan karyawan, bahkan dengan investor. Atur agar orang yang ahli pada bidang tertentu memaksimalkan pekerjaan di bidang itu. Pengaturannya tentu lewat dokumen kerja yang pakem.

Saat sudah mulai berjalan, anggaplah bisnis muda ini bayi Anda. Anda adalah orang yang bertanggung jawab penuh untuk memastikan bayi ini hidup dan berkembang jadi besar. Jangan mengeluh bila sesekali bayi Anda rewel. Tapi, cari tahu cara untuk memperbaiki permasalahannya. Pastikan semua tersedia, maka bayi akan lebih kooperatif dan lebih mudah untuk berkembang dengan sendirinya.

Meski demikian, jaga diri agar otak tidak terlalu panas dan tubuh terlalu capek. Ketika masih jadi karyawan, ada jam khusus untuk bekerja dan selebihnya bisa untuk urusan lain. Saat memulai bisnis sendiri, bisa-bisa seluruh waktu Anda tercurah untuk membesarkannya. Tidak lagi ada yang namanya pulang pukul 17.00. Anda bisa bekerja sepanjang hari siang dan malam. Anda tentu tidak akan memiliki banyak waktu luang lagi.

Nah, itu lah sebabnya Anda harus menjadwalkan waktu untuk off. Tentukan sendiri waktu istirahat untuk menghindari otak meledak dan tubuh loyo. Sekadar jalan-jalan ke taman saat sore, atau ke luar kota akhir bulan. Anda harus ‘break’ kerja. Waktu istirahat ini memungkinkan Anda mengisi ulang energi, dan bahkan sering memberi perspektif baru terhadap gambaran besar bisnis Anda.

Prinsip terpenting berikutnya adalah ‘ketahui ke mana uang mengalir’. Setiap bisnis selalu dimulai dengan apa yang diyakini sebagai konsep hebat. Si pendiri atau pemilik bisnis percaya bahwa orang-orang di luar sana akan rela mati untuk menggunakan bisnis ini. Tapi, kenyataan tidak sesederhana itu. Pasar akan dengan cepat memberi tahu Anda apa yang berhasil dan apa yang tidak.

Maka, Anda harus cepat mempelajari arus aliran uang yang terkait bisnis Anda. Berpalinglah dengan cepat mengikuti atau melawan arus uang itu agar bisa menjaring sebagian. Ingat, setiap perusahaan selalu beradaptasi dengan kondisi lingkungannya. Banyak perusahaan raksasa level dunia bahkan berevolusi dengan cara sangat radikal. Twitter awalnya layanan podcast. Pabrik ponsel Nokia dulu pabrik kayu. Djarum sekarang tidak lagi bertopang pada rokok.

Untuk prinsip ini, fokuslah pada apa yang berhasil. Namun, jangan terlalu sombong untuk mengesampingkan gagasan lain yang tampaknya biasa-biasa saja. Revolusi di jagad bisnis kadang membutuhkan ide-ide radikal.

Penulis adalah
• praktisi media massa dan trainer motivasional
• Bisa ditengok di cilukbha@gmail.com, Facebook.com/teguh.w.utomo, dan Instagram.com@teguh_w_utomo

Facebook Comments

POST A COMMENT.