Sulitnya Belajar Percaya

Catatan Oase :

MEPNews.id —- Sebagai orang yang selalu bergerak dalam membantu orang lain menyelesaikan masalah, saya selalu akhirnya banyak belajar dari karakter dan cara bekerja bersama orang. Suatu saat saya mendapati keluhan berkaitan dengan ketidak mampuan seseorang untuk keluar dari masalah keluarga setelah mengalami musibah dikhianati oleh orang lain dan menyebabkan keluarganya diambang perpecahan.

Dari dialog dan konsultasi yang dilakukan saya mendapatkan nalar narasi seperti ini :
Tumbuh dari lingkungan yang keras dan tak beraturan, saya selalu bermasalah dengan yang namanya “kepercayaan”. Sayangnya, hal ini lalu berimbas pada suami saya. Beliau susah sekali untuk dapat mempercayai seseorang. sepertinya telah menjadi tabiat yang saya bawa sepanjang hidup. Saya bahkan memiliki pendapat yang telah saya anggap sebagai sebuah kebenaran, “Tak seorangpun yang dapat dipercaya kecuali Tuhan.

Saya menolak untuk dapat mempercayai seseorang itu semata mata sebagai bentuk saya melindungi diri, atau setidaknya saya pikir itu melindungi saya. Tapi apakah benar seperti itu? Ternyata tidak selalu benar. Karena akhirnya saya merasakan dan menyadari bahwa membatasi kepercayaan kepada orang lain ternyata lebih banyak kita merasa sakit, karena selalu dibatasi oleh kecurigaan dan syak wasangka dan akibatnya kita harus menahan sakit lebih banyak daripada memberikannya secara bebas.

Kita semua pastilah menyadari bahwa tak ada manusia yang sempurna, sehingga dengan menyadari ketidaksempurnaan itu seharusnya kita bisa memberi ruang lain terhadap sesuatu yang mempengaruhi asumsi tentang ketidak sempurnaan yang dimiliki orang lain. Tidaklah bijak, kita meminta orang lain sempurna sementara kita tak mau berusaha untuk menjadi sempurna.

Kembali pada persoalan ketidaksempurnaan dan kepercayaan, mengapa bisa terjadi? Harus disadari bahwa seringkali pengalaman masa lalu kita bersama orang lain yang kelam, menyebabkan penilaian kita terhadap orang lain juga kelam. Kalau anda pernah dikhianati orang, pastilah anda akan selalu was was dan tidak percaya kepada orang lain.

Sejatinya pemikiran seperti ini wajar sebagai kewaspadaan, tetapi kalau kemudian tidak ada orang lain yang bisa dipercaya, lalu selalu kita tanamkan rasa curiga terhadap orang lain, maka yang terjadi adalah kita merusak pikiran dengan hal hal yang belum tentu terjadi. Kita akan lebih banyak hidup dari asumsi, meramu narasi sendiri sesuai dengan pengalaman sendiri, padahal orang lain tidak seperti yang dipikirkan. Narasi narasi seperti itu justru akan membuka siapakah kita dan seperti apa masa lalu kita. Dalam situasi seperti ini kita telah merusak jalan yang sudah dibangun sendiri. Dalam Al Qur’an diibaratkan oleh Allah seperti orang yang memintal benang menjadi kain, setelah jadi kain maka diurai lagi. Menggambarkan sebuah pekerjaan yang sia sia.

Ketidakpercayaan kita kepada orang lain justru akan menjadi beban diri, karena belum tentu orang lain itu punya pengalaman yang sama dengan kita. Ketidakpercayaan akan menjadikan kita kehilangan banyak hal, karena momentum momentum yang seharusnya bisa diambil menjadi terlepas, karena orang yang yang kita curigai akan membiarkan lepasnya momentum itu, kita menjadi sia sia.

Keberanian kita belajar mempercayai orang adalah hal penting dalam membangun sebuah relasi. Lalu bagaimana kita bisa menyemai kepercayaan? Keberanian kita belajar dengan pengalaman baru dan orang baru merupakan cara kita keluar dari kubangan khianat dan ketidakpercayaan. Kemampuan belajar berubah dan mempercayaai seseorang sejatinya kemampuan orang dewasa.Tapi sayangnya ego kita selalu mengajak kita berpikir seperti anak anak, selalu minta perhatian, selalu ingin menangnya sendiri.

Ketidakpercayaan yang kita semai kepada setiap orang sejatinya adalah wujud ketidakdewasaan. Sehingga percaya kepada orang bukanlah hal yang mudah, kecuali mereka yang cara berpikirnya beranjak dewasa, bijak dalam memperlakukan orang.

Assalammualaikum wr wb, Selamat menebar kebaikan dengan pikiran yang baik tanpa prasangka.

Surabaya, 14 September 2018

M. Isa Ansori

Dosen dan Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak Jatim

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.