Jangan Salah Fokus

Menyambut Tahun Baru Hijriyyah 1440 H

Oleh Masruri Abd Muhit

MEPNews.id —- Waktu terus berjalan, dari menit ke menit, dari jam ke jam, dari hari ke hari, dari pekan ke pekan, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun, dari satu fase ke fase yang lain, dari milenium ke milenium yang lain, dan kadang kadang seseorang tidak merasa dan menyadari bahwa tiba-tiba sudah datang waktu harus berpulang, terkejut menyesali ketidaksiapan menghadapi ajal yang sudah di hadapan, tanpa bekal yang memadai untuk kehidupan di alam keabadian, alam akherat, yang bila dalam kebahagiaan akan bahagia selamanya, dan bila dalam kesengsaraan akan sengsara selamanya. Wal iyadz billah.

Kebahagiaan atau kesengsaraan di alam keabadian ditentukan pada ketaatan dan mujahadah mengikuti syareat aturan Allah di kehidupan alam dunia, semakin taat dan bermujahadah di kehidupan alam dunia akan semakin menemukan kebahagiaan di dalam kehidupan alam keabadian akherat, sebaliknya semakin bermaksiat tidak taat dan malas bahkan menolak berusaha untuk mengikuti syareat aturan Allah di kehidupan alam dunia, maka semakin menemukan kesengsaraan selamanya di alam keabadian akherat.

Kita harus selalu waspada dan selalu menyadari perjalanan hidup di alam dunia ini, perjalanan menuju kematian dan kehidupan dalam alam keabadian akherat yang kita tidak tahu kapan sampai ajal kematian dan kehidupan dalam alam keabadian itu, maka kita harus selalu mempersiapkan bekal yang cukup sehingga menjadi siap bila saat itu sampai. Wong urip marani patine, sak jeruning urip toto-toto pirantine, orang hidup menuju kematiannya dan selama hidup siap siap bekal dan kelengkapannya.

Untuk itu kita harus selalu melakukan muhasabah, introspeksi diri, setiap saat secara berkala, baik harian atau pekanan, atau bulanan, atau tahunan seperti pada hari ini tahun baru hijriyyah. Lakukan muhasabah (introspeksi) pada diri kalian sebelum dilakukan muhasabah (intrograsi) atas kalian. Hasibu anfusakum qobla an tuhasabu.

Kita hidup ini bukanlah sampai di dunia ini saja, tetapi sesudah kehidupan dunia ini ada kehidupan akherat, kehidupan di dunia ini bukanlah tujuan akhir tetapi tujuan akhirnya adalah kehidupan akherat.

Maka dalam kehidupan dunia, kita harus fokus pada tujuan akherat, jangan hanya sibuk dengan kehidupan itu saja. Kata almarhum KH Zainuddin MZ, bila kita menanam padi maka kita selain akan panen padi juga akan panen rumput, tetapi bila kita menanam rumput tidak mungkin kita panen padi, atau ibarat kita pergi ke pasar berniat membeli sapi, maka kita akan pulang membawa sapi dengan tali tamparnya, tapi kalau berniat membeli tali tampar maka kita akan pulang dengan tali tampar tanpa sapi. Allah swt berfirman

مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ

Barang siapa menginginkan tanaman akherat, akan Kami berikan tambahan bonus tambahan, dan barang siapa menginginkan kehidupan akherat Kami akan memberi sebagian dari dunia itu, sementara dia di akhirat tidak mendapatkan bagian. QS. Assyuro 19.

Imam Ibnu Hajar Al Asqolani, seorang qodil qudot, kepala hakim, suatu ketika beliau mengendarai kudanya yang gagah dengan pakaian kebesarannya dihadang oleh seorang Yahudi miskin dengan penampilan dan pakaian yang lusuh mengajukan protes, ya syaikhol islam, nabi tuan mengatakan bahwa dunia ini penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir, penjara macam apa keadaan anda dan surga apa keadaan saya yang kafir ini?!. Dengan tenang sang imam menjawab, kemewahan yang diberikan Allah pada orang beriman di dunia semewah apapun tidak ada apa apanya dibandingkan surga yang disiapkan oleh Allah yang tidak pernah terlihat oleh mata tidak pernah terdengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas dalam bayangan manusia, sehingga dunia menjadi seperti penjara, sementara kesulitan dan kesengsaraan dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan kesulitan dan kesengsaraan yang disiapkan oleh Allah untuk orang kafir yang siksa paling ringan saja kaki menyentuh krikil neraka ubun ubun bisa mendidih, sehingga dunia itu seperti surga.

Bagi orang beriman, kehidupan dunia tidaklah ada apa apanya dibandingkan kehidupan akherat, sehingga fokus orang beriman pada kehidupan akherat, maka bagi mereka yang beriman kesulitan dan perjuangan seberat apa pun akan mereka terjang dan mereka hadapi demi mendapatkan kenikmatan puncak berupa surga Allah swt, mereka telah mengikat kontrak dengan Allah untuk mengorbankan bondo, bahu, pikir lek perlu sak nyawane pisan, berkorban harta, tenaga, pikiran dan kalau perlu nyawa sekalian.

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang orang beriman jiwa dan harta mereka dengan imbalan bagi mereka surga. Mereka bertempur di jalan Allah, membunuh dan dibunuh, sebagai janji yang benar dalam Taurot, Injil dan Alqur’an, dan tidak ada yang lebih memenuhi janjinya dari Allah, maka bergembiralah kalian dengan perniagaan yang kalian lakukan, dan itulah kemenangan yang agung. QS. Attaubah 111

Orang beriman meyakini dan mengetahui bahwa seberat dan sebesar apapun pengorbanan dan perjuangan yang harus dihadapinya dalam kehidupan dunia ini tidak akan ada apa apanya dibandingkan imbalan kenikmatan dan kebahagiaan yang akan didapatinya berupa kenikmatan puncak surga Allah swt, begitu juga baginya kenikmatan dan kemewahan sehebat apa pun dalam kehidupan dunia ini tak akan menggiurkannya bila hal itu akan menjerumuskan dirinya ke dalam adzab dan kesengsaraan abadi dalam kehidupan akherat.

Orang beriman akan selalu berusaha untuk selalu fokus pada tujuan hidupnya yakni kebahagiaan dalam kehidupan akherat, dengan selalu sadar menyiapkan bekal selama dalam kehidupan dunia sebanyak banyaknya dan sebaik baiknya dengan selalu melakukan evaluasi dan introspeksi muhasabah diri mengambil pelajaran dari pengalaman masa lalu, sehingga hari harinya selalu meningkat dan lebih baik dari sebelumnya sehingga akhirnya menuju kesempurnaan mendapatkan husnul khotimah.

مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِّنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُوْنٌ وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِّنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُوْنٌ (الطبراني)

Barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin maka dia beruntung, barang siapa yang hari ini sama dengan kemarin dia merugi, dan barang siapa yang hari ini lebih jelek dari kemarin dia terlaknat. HR Thobroni.

Semoga awal tahun hijriyyah ini menjadikan kita selalu dalam berhijrah dari kekurang baikan menuju kebaikan dan dari kebaikan menuju yang lebih baik, karena setelah fathu makkah sudah tidak ada lagi hijrah fisik, tapi hijrah dari keburukan menuju kebaikan.

Semoga bermanfaat dan berkah.

Daris, 3 Muharrom 1440

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.