3 Gubes UNAIR Ingatkan Pemanfaatan Maritim

MEPNews.id – Mendiskusikan potensi kemaritiman, Universitas Airlangga melalui Pusat Informasi dan Humas (PIH) menggelar diskusi bertajuk Gelar Inovasi Guru Besar pada 13 September 2016. Diskusi di Ruang Kahuripan 300, Kantor Manajemen UNAIR, Kampus C, itu bertema ”Pemanfaatan Kekayaan Maritim dalam Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia”.

Ketua PIH UNAIR, Dr. Suko Widodo, menyampaikan konsep kelautan sebagai masa depan bangsa memang muncul sejak dulu. Karena itu, diperlukan diskusi terkait sebagai upaya mewujudkannya secara bersama-sama. ”Diskusi ini sangat penting dilakukan, sebab Indonesia negara kepulauan terbesar di dunia,” ujarnya.

Profesor Dian Agustia

Profesor Dian Agustia

Gelar Inovasi Guru Besar kali ini menghadirkan tiga pakar dari tiga bidang keilmuan berbeda. Prof Ir Moch. Amin Alamsjah MSi PhD, guru besar Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK); Prof Dr Dian Agustia Dra Ak MSi CMA CA, guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB); dan Prof Dr Musta’in Mashud Drs MSi, guru besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Moderatornya Ainur Ahadi Abdillah SPi MSi. Peserta yang hadir dari berbagai elemen, antara lain unsur TNI Angkatan Laut, institusi pemerintahan, akademisi, dan masyarakat umum.

Dalam paparan pertama, Prof Dian menjelaskan pentingnya konsep Sustainable Development Goals (SDGs) saat memanfaatkan sumber daya dalam praktik ekonomi, khususnya dalam bidang kemaritiman. Praktik ekonomi kemaritiman sering menimbulkan masalah, terutama berkaitan dengan ekosistem. Misalnya, tuna sirip kuning diperkirakan punah dari laut pada rentang lima sampai sepuluh tahun ke depan. Perkiraan muncul setelah eksplotasi tuna sirip kuning karena benilai ekonomi tinggi.

Profesor Mustain

Profesor Musta’in Mashud

Karena itu, diperlukan konsep ‘tiga P’ dalam kegiatan ekonomi, yakni; public, place, dan planet. Artinya, kegiatan ekonomi mesti memperhatikan nilai-nilai sosial kemasyarakatn (public), perusahaan (place), dan ekosistem atau lingkungan (planet). ”Itulah kenapa diperlukan akuntabilitas dan transparansi aktivitas ekonomi dalam laporan keuangan dari perusahaan,” ujarnya.

Pakar sosiologi Prof Mustain menyoroti kondisi nelayan. Menurutnya, dalam sepuluh tahun terakhir, rumah tangga nelayan terus menurun; dari 1,6 juta kepala keluarga (KK) menjadi 800 ribu KK. Penyebab orang meninggalkan profesi nelayan antara lain semakin minimnya penghasilan dan besarnya risiko di laut. Sumber daya alam perikanan diserobot nelayan dari negara lain secara resmi maupun illegal. “Lapak tangkapan nelayan kita diserobot. Illegal fishing dengan kapal ukuran lebih besar juga marak. Teknologi lebih canggih juga membuat para nelayan kecil makin sulit mendapatkan ikan di laut,” kata ia.

Profesor Amin Alamsjah

Profesor Amin Alamsjah

Dari sisi kemaritiman, Prof. Amin Alamsjah menyatakan ada tiga potensi besar kelautan yang dimiliki Indonesia yakni produksi ikan tuna, udang, dan rumput laut. Produksi tuna dan udang menurun sejak tiga tahun terakhir. Sementara itu, Indonesia memproduksi rumput laut terbesar di dunia. Namun, 80 persen produksi masih dalam bentuk mentah. Diperlukan inovasi agar produk ekspor Indonesia diubah dalam bentuk yang lebih bermanfaat.

Prof. Amin menyarankan enam usulan strategis. Salah satunya adalah transfer teknologi yang dilakukan untuk semua sisi di level sederhana atau basic science, middle science, maupun technologic science. ”Semua harus bergerak bersama. Industri dan pihak obat-obatan juga harus bergerak dalam bidang teknologi. Pemerintahan dalam hal ini harus bisa mengomando. Kerja sama dengan universitas, balai riset, juga industri,” ujarnya. (PIH UNAIR)

Facebook Comments

POST A COMMENT.