Suci

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id —-Ditulis dengan huruf kapital semua karena ia, menurut penulisnya, merupakan kepanjangan dari Suguhan Untuk Cinta Ilahi, disingkat SUCI. Apakah tiba-tiba atau ndilalah klop dengan pemahaman bahwa apa saja yang niatnya disuguhkan atau dipersembahkan hanya untuk atau kepada Ilahi adalah menjadi sesuatu yang suci? Apakah kekotoran yang kembali ke Tuhan berarti ia telah suci kembali? Apakah begitu sesungguhnya maksudnya? Hanya penulisnya yang tahu.

Sebuah buku yang oleh penulisnya diberi judul SUCI. Beberapa orang diberinya secara gratisan. Isi dari buku tersebut merupakan kumpulan tulisan dari penulisnya sendiri yang ia publikasikan di akun media sosial pribadinya dalam rentang tahun 2016 hingga tahun 2017. Ada sekitar 73 judul dalam buku tersebut. Sebut saja diantaranya ada judul Senyum Putri Indonesia, Malam Bulan Purnama, Takut Memandang Artis, Iseng-iseng Ngerasani Media, dan lain-lain.

Mereka yang mendapat buku tersebut, oleh penulisnya diminta satu hal: “Janganlah buku yang telah aku kasihkan ini diunggah di medsos.” Penulisnya ini memang agak rewel mengenai unggah mengunggah di medsos. Baginya tidak semua hal layak diunggah di medsos. “Orang zaman sekarang ini terkadang sudah tak lagi mempunyai kepekaan dan rasa malu mengenai mana yang pantas diunggah di medsos, dan mana yang sebaiknya dikonsumsi secara pribadi. Apalagi jika ia termasuk figur yang dijadikan contoh tauladan bagi banyak orang. Tauladan bagi anak-anak hingga orang tua. Betapa bahayanya jika keburukan dicontoh banyak orang…” Demikianlah ia suatu ketika selalu rewel bab medsos.

Sehingga sepertinya perlu diguyoni bahwa jangan-jangan menurut penulisnya sendiri, bukunya ini termasuk aib atau aurat yang jangan sampai banyak orang mengetahui. Apalagi sampai mencontohnya. Makanya semua yang ia kasih bukunya itu ia wanti-wanti untuk jangan dipublikasikan di medsos. “Pokoknya jangan diunggah di medsos,” katanya. Tentunya ada pertimbangan lain yang tak ingin orang lain mengetahui. Khusus kalangan sendiri saja yang tahu, khalayak ramai tak boleh tahu.

Yang jelas bukan karena seperti seorang maha guru puisi yang mana saat kumpulan puisinya mau diterbitkan, seluruh berkas-berkas puisi tersebut ia curi sendiri dari kantor percetakan sehingga tak pernah jadi terbit hingga sekarang. Sedangkan murid-murid sang maha guru puisi tersebut telah sukses melahirkan ribuan karya yang luar biasa serta bermanfaat bagi umat manusia.

“Gini saja sudah,” kata penulis buku SUCI ini, “jangan terlalu kepo atau sok ingin tahu banyak kenapa aku melarang mengunggah buku ini di medsos. Kalau bukuku yang lain sangat boleh dan recommended banget untuk di ekspose. Sekarang mending kita berdiskusi mengenai pentingnya meningkatkan minat baca, terutama bagi kaum akademisi. Repot ini kalau mereka justru minim minat bacanya, apalagi minim bacaannya. Kalau orang tak pernah baca huruf A dia selamanya tak mengerti A. Jika membacanya hanya sampai A saja, maka selamanya dia tidak pernah mengerti B. Jangan hanya bisanya mengutuk, menghujat dan membenci saja kepada mereka yang tak mengerti B, tapi marilah kita turut menuntun mereka untuk mengerti dan sampai ke B. So, marilah kita menggerakkan semangat membaca dan belajar bersama kepada siapa saja.”

Kalau sudah beralasan seperti ini, teman-temannya akan malas untuk mendebat: “menggerakkan kaum akademisi membaca apa bung? Kalau membaca tulisan hayal-hayal, tidak mengikuti isu kekinian dan tak jelas seperti ini, mending ya kita ngopi-ngopi saja bung. Meskipun kita jangan sampai digiring oleh isu kekinian. Tidak setiap isu kekinian harus ditanggapi, diikuti, apalagi diviralkan. Diam dalam isu kekinian dan kita tinggal ngopi-ngopi saja juga tidak masalah bung. Hidup kok selalu dikendalikan oleh yang serba kekinian, hehehehe…” (Banyuwangi, 12 September 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.