Apa Yang Terjadi Saat Anda Menahan Kentut?

Oleh: Clare Collins

Oleh: Clare Collins

MEPNews.id – Pernahkah Anda berada dalam situasi saat udara berbunyi atau berbau busuk bakal sangat memalukan sehingga Anda harus menahan kentut untuk beberapa saat? Tenang saja. Itu realita umum. Kita semua pernah mengalaminya.

Kentut sembarangan kadang tidak sopan. Tapi, mencoba menahan kentut itu tidak baik.

Menahan kentut dapat mengarah ke peningkatan tekanan dan ketidaknyamanan besar dalam sistem pencernaan bagian bawah. Pembentukan gas di usus dapat memicu distensi abdomen. Bahkan, beberapa gas dapat terserap kembali ke dalam sirkulasi darah lalu dihembuskan lewat napas. Menahan kentut terlalu lama berarti membangun timbunan gas usus yang pada akhirnya mencari jalan keluar berupa kentut yang tak terkendali.

Ada sejumlah penelitian terkait kentut. Namun, belum jelas apakah peningkatan tekanan di rektum bisa meningkatkan peluang Anda terkena kondisi yang disebut diverticulitis (kantong kecil berkembang di lapisan usus dan menjadi radang) – atau tidak masalah sama sekali.

Agar lebih paham, mari lebih dulu memahami apa itu flatus.

Flatus alias kentut adalah gas usus yang masuk ke rektum karena proses pencernaan gastrointestinal dan metabolisme tubuh yang biasa, dan kemudian keluar melalui anus.

Ketika tubuh mencerna makanan di usus kecil, komponen yang tidak dapat dipecah bergerak lebih jauh di sepanjang jalur gastrointestinal dan akhirnya masuk ke usus besar. Di sini, bakteri usus memecah sebagian isi komponen itu dengan proses fermentasi. Proses ini menghasilkan gas dan produk sela yang disebut asam lemak. Asam lemak diserap kembali dan digunakan dalam jalur metabolik terkait kekebalan dan mencegah perkembangan penyakit. Gas dapat diserap kembali melalui dinding usus ke dalam sirkulasi, dan akhirnya dihembuskan melalui paru-paru atau dikeluarkan melalui rektum sebagai kentut.

Seberapa banyak kentut yang normal?

Pertanyaan ini bisa menjadi tantangan tersendiri bagi para peneliti. Siapa orang yang mau mendaftar untuk eksperimen mengukur kentut?

Untungnya, ada sepuluh orang dewasa sehat secara sukarela memiliki sejumlah gas yang bisa diukur dalam sehari. Laporan penelitian J. Tomlin, C. Lowis, dan N. W. Read berjudul ‘Investigation of normal flatus production in healthy volunteers’ ini diterbitkan di Gut pada 1991.

Para peserta penelitian makan secara normal. Tapi, untuk memastikan dorongan produksi gas, mereka juga harus makan tambahan 200 gram kacang panggang. Dalam waktu 24 jam, semua flatus yang mereka keluarkan dikumpulkan melalui kateter rektal.

Para peserta penelitian menghasilkan volume total median 705 mililiter gas dalam 24 jam. Tapi, per orang berkisar dari 476 mililiter hingga 1.490 mililiter. Yang diproduksi dalam volume terbesar selama 24 jam adalah hidrogen yakni 361 mililiter, diikuti karbon dioksida 68 mililiter. Hanya tiga orang dewasa menghasilkan gas metana, yang berkisar dari 3 mililiter hingga 120 mililiter per 24 jam. Gas tersisa, diduga sebagian besar adalah nitrogen, menyumbang sekitar 213 mililiter per 24 jam.

Pria dan wanita menghasilkan jumlah gas yang kurang-lebih sama. Rata-rata mereka mengalami delapan episode flatus (sekali kentut atau serangkaian kentut) selama 24 jam. Volumenya bervariasi antara 33 dan 125 milliliter per kentut.

Jumlah lebih besar gas usus dikeluarkan pada periode jam setelah makan. Gas juga diproduksi saat tidur malam, tetapi hanya setengah dibandingkan dengan siang hari (median 16 mililiter per jam vs 34 mililiter per jam).

Apakah serat mempengaruhi kentut? Dalam studi tentang serat makanan dan kentut, ada yang menyelidiki apa yang terjadi pada produksi gas usus ketika orang sedang diet tinggi serat. Laporannya berjudul ‘Inhibitory actions of a high fibre diet on intestinal gas transit in healthy volunteers’ yang diterbitkan di Gut pada 2004.

S. Gonlachanvit, R. Coleski, C. Owyang, dan W. Hasler mendapat sepuluh relawan dewasa sehat untuk makan makanan normal mereka selama tujuh hari. Beriktunya, para peserta penelitian makan normal sambil mengonsumsi 30 gram psyllium sehari sebagai sumber serat larut. Pada pekan makan psyllium, mereka diminta menambah 10 gram untuk setiap kali makan.

Pada akhir setiap minggu, para peserta dibawa ke laboratorium. Dalam eksperimen yang dikontrol dengan hati-hati, mereka dipasangi kateter intra-rektal untuk mengukur bagaimana gas (dalam hal; volume, tekanan dan jumlah) bergerak melalui usus dalam beberapa jam. Para peneliti menemukan, diet tinggi serat psyllium menyebabkan retensi awal gas lebih lama, tetapi volumenya tetap sama. Ini berarti menghasilkan kentut lebih sedikit tetapi lebih besar.

Dari mana gas berasal?

Gas dalam usus berasal dari sumber berbeda. Itu bisa dari proses menelan udara. Bisa juga dari karbon dioksida yang dihasilkan ketika asam lambung bercampur dengan bikarbonat di usus halus. Gas juga dapat diproduksi oleh bakteri di usus besar.

Gas-gas ini umumnya dianggap melakukan tugas-tugas khusus yang berdampak baik bagi kesehatan. Namun, dalam kasus khusus, menghasilkan gas usus berlebihan dapat menyebabkan kembung, nyeri, borborygmus (suara gemuruh dalam perut), sendawa dan banyak kentut.

Kentut paling ganas adalah karena gasnya mengandung sulfur alias belerang. Jelas, bau banget. Hal ini dikonfirmasi dalam penelitian F. L. Suarez, J. Springfield, dan M. D. Levitt berjudul ‘Identification of gases responsible for the odour of human flatus and evaluation of a device purported to reduce this odour’ di Gut pada 1998. Penelitian dilakukan terhadap 16 orang dewasa sehat yang diberi kacang pinto dan laktulosa (karbohidrat tak terserap yang difermentasi di usus besar), dan intensitas bau dievaluasi dua orang penilai. Kabar baiknya, dalam percobaan lanjutan, peneliti mengidentifikasi bahwa arang dapat membantu mengurangi bau gas sulfur.

Tapi, ada juga kabar buruknya, terutama bagi penumpang pesawat jet. H. C. Pommergaard, J. Burcharth, A. Fischer, W. E. Thomas, dan J. Rosenberg dalam laporan penelitian berjudul ‘Flatulence on airplanes: just let it go’ yang terbit di New Zealand Medical Journal 2013, mengungkap hal itu. Kabin bertekanan di pesawat membuat orang lebih mungkin mengeluarkan flatus karena volume gas selalu mengembang saat tekanan kabin lebih rendah; jika dibandingkan dengan saat berada di darat. Tapi, dengan fitur pengurang kebisingan modern, penumpang sebelah Anda lebih mungkin tidak mendengar suara kentut Anda.

Nah, sekarang kembali ke masalah bagaimana bila kebelet kentut saat situasinya tidak memungkinkan untuk kentut sebebas-bebasnya? Apa yang harus Anda lakukan?

Kalau Anda merasakan volume gas usus besar sudah siap melakukan apa yang harus dilakukannya, maka cobalah pindah ke lokasi yang lebih nyaman atau lebih sopan. Apakah berhasil atau tidak, yang terbaik untuk kesehatan pencernaan adalah membiarkan sang kentut pergi dengan damai.

* Clare Collins adalah Profesor bisang Nutrisi dan Diet di Universitas Newcastle.
* Artikel ini sudah dipublikasikan di The Conversation 11 September 2018 dengan lisensi Creative Commons.

Facebook Comments

POST A COMMENT.