Simak 8 Gejala Anak Kena Gangguan Bipolar

MEPNews.id – Marshanda, yang pernah aktif dalam sejumlah sinetron, mengaku butuh waktu tiga tahun untuk menerima kenyataan dirinya memiliki gangguan bipolar. Pada 2009, ia didiagnosis dokter memiliki gangguan bipolar. Tapi, sangat sulit bagi ia menerima diagnosis begitu saja karena merasa tidak memiliki masalah. Maka, setelah membuka diri dan belajar mengenali gejalanya dengan bantuan dokter, ia bisa sadar lalu bangkit lagi untuk meraih kesuksesan.

Gangguan bipolar ditandai dengan perubahan ekstrim suasana hati, pikiran, energi, dan perilaku. Gangguan ini juga dikenal sebagai ‘depresi-mania’ karena mood dapat bergantian antara dua kutub esktrim; mania (tinggi) dan depresi (rendah). Kadang tampak kalem, kadang meledak-ledak. Sekarang tampak baik, sesaat kemudian jadi sangat judes. Kadang tak mau berhenti, kadang diam saja sepanjang hari. Kira-kira seperti itu pergantiannya.

Marshanda berusia cukup dewasa saat mengalami itu. Kebanyakan penderita gangguan bipolar juga orang dewasa. Pertanyaannya, apakah mungkin gangguan bipolar pada anak-anak? Daniel K. Hall-Flavin, MD., dari Mayo Clinic di Amerika Serikat, menjawab, “Mungkin!”

“Lebih gampang didiagnosis pada anak besar hingga remaja daripada balita. Tapi, gangguan bipolar dapat terjadi pada anak segala usia. Seperti pada orang dewasa, gangguan bipolar pada anak dapat menyebabkan perubahan suasana hati dari mania ke depresi berat atau sebaliknya,” kata Hall-Flavin.

Untuk memastikan diagnosis bipolar, tentu psikiater atau dokter lebih punya kewenangan untuk menentukan. Namun, Anda bisa sekadar mengenali delapan tanda anak kemungkinan memiliki gangguan bipolar. Tim bp Magazine edisi 12 November 2016 mengungkap gejala-gejala itu;

1 Episode Mania
Beberapa tanda anak mengalami mania, menurut American Academy of Child & Adolescent Psychiatry (AACAP); merasa harga diri terlalu tinggi yang tidak masuk akal, termasuk perasaan memiliki kekuatan superhero; mengalami peningkatan energi dan menurunnya kebutuhan untuk tidur, mampu sedikit tidur selama berhari-hari tanpa merasa lelah; berpikir dan berbicara cepat serta mengulang perilaku berrisiko tinggi, antara lain ugal-ugalan, berani menggunakan alkohol dan obat terlarang.

2 Episode Depresif
AACAP juga menggambarkan, anak atau remaja yang mengalami kondisi abnormal ini memiliki energi sangat rendah, mudah lelah, konsentrasi buruk, tiba-tiba ogah melakukan kegiatan favorit, nafsu makan sangat menurun, merasa ada keluhan fisik antara lain sakit perut atau sakit kepala; bahkan ada pikiran tentang kematian atau bunuh diri.

3 Amat marah
Semua anak pernah marah sesekali. Tapi, anak dan remaja bipolar cenderung mengungkapkan kemarahan pada tingkat sangat intens. Ini dapat bermanifestasi menjadi kekerasan, antara lain menyerang orang lain atau menghancurkan mainan. Karena anak bipolar biasanya tidak mampu mengendalikan diri, emosi-emosi ini berubah menjadi kemarahan parah dan dapat berlangsung berjam-jam.

4 Fluktuasi suasana hati
Anak-anak bipolar lebih mungkin memiliki siklus cepat dan bolak-balik antara suasana hati depresi dan suasana hati mania selama periode waktu lebih pendek atau bahkan dalam hari yang sama. “Fluktuasi dalam suasana hati, energi, dan rutinitas, ini bisa menyebabkan anak bipolar mengalami kesulitan berfungsi di sekolah, saat bersama teman, atau di rumah,” kata Helena Verdeli, PhD, professor psikologi klinis di Columbia University.

5 Terlalu gembira
Ini gejala yang kurang umum daripada kemarahan. Namun, anak dan remaja bipolar juga bisa mengalami kegembiraan, kebesaran atau mania. “Padahal, ini juga bisa menjadi sinyal kunci dalam penilaian awal,” kata ahli bipolar Eric Youngstrom, PhD. “Para orang tua harus cermat jika anak mengalami kondisi terlalu konyol pada waktu tak terduga misalnya menjelang tidur atau pagi hari. Juga harus waspada jika anak mengalami kegembiraan terlalu sering, terlalu intens, atau terlalu lama.”

6 Hubungan keluarga
“Sebagian besar anak semacam itu memiliki riwayat keluarga dengan gangguan mood atau bipolar,” kata Dr Rosalie Greenberg psikiater anak di New Jersey dan penulis buku Bipolar Kids. “Peluang anak kena gangguan bipolar meningkat jika orangtua atau saudara kandungnya mengalami gangguan yang sama. Tetapi peran genetika tidak mutlak. Banyak juga anak dari keluarga dengan riwayat gangguan bipolar yang justru tidak pernah kena gangguan itu.”

7 Masalah di sekolah

National Alliance on Mental Illness, kelompok advokasi akar rumput yang mewakili suara gangguan mental di berbagai penjuru Amerika Serikat, menyebut gejala bipolar pada remaja juga merujuk pada masalah di sekolah. Anak atau remaja bipolar bisa mengalami penurunan nilai, mendadak keluar dari tim olahraga atau kegiatan lain, diskors atau ditangkap karena berkelahi atau narkoba, berbicara tentang kematian atau bahkan bunuh diri. Maka, sering-seringlah kontak dengan guru atau bimbingan konselor untuk mengetahui kondisi perilaku anak di sekolah.

8 Bedakan dengan gangguan serupa
Para profesional kesehatan mental membedakan gangguan bipolar dari gejala-gejala penyakit yang mirip. “Contoh, jika anak dengan gangguan perhatian (ADD) mengalami insomnia, ia akan lelah pada keesokan harinya. Jika anak dengan gangguan bipolar tidak tidur, ia tidak merasa perlu tidur karena tidak merasa lelah,” kata Benjamin Goldstein, MD, PhD, psikiater di Sunnybrook Research Institute di Toronto, Kanada.

Facebook Comments

POST A COMMENT.