Mereka yang Cuek pada Pendapat Orang Lain Cenderung Omong Politik Secara Online

Oleh: Nils Gustafsson

Oleh: Nils Gustafsson


MEPNews.id – Mengarungi debat politik secara online dapat membuat kita menjadi seperti masuk ke dalam ladang ranjau. Coba telusuri suatu bagian atau thread komentar apa pun di situs media sosial, maka Anda kemungkinan besar akan melihat beberapa ucapan cukup tajam dan bahkan kasar. Itu tidak selalu hanya sifat dari perdebatan politik yang kasar. Itu juga bisa mencerminkan jenis kepribadian mereka-mereka yang terlibat pada diskusi politik online itu.

Dalam penelitian, kami menemukan bahwa orang-orang yang tidak peduli pada apa yang dipikirkan orang lain cenderung lebih mungkin terlibat dalam debat politik di media sosial. Ini mungkin berpengaruh pada apa yang mereka katakan secara online dan berkontribusi pada nada semangat yang membuat begitu banyak orang jadi enggan terlibat dalam percakapan online publik. Itu mungkin juga menentukan dalam memilih konten politik yang orang temui di feed mereka.

Ketika media sosial pertama kali populer pada tahun 2000-an, orang-orang berpikir akan memungkinkan sekelompok orang yang lebih beragam untuk berpartisipasi dalam debat politik. Siapa pun dapat posting sesuatu. Siapa saja dapat melihat kata-kata mereka tersebar ke jutaan feed berita orang-orang lain.

Tetapi, bagi kebanyakan orang, politik adalah masalah sensitif, dan mereka amat peduli pada audiens mereka. Di media sosial, audiens itu tidak terlihat nyata kecuali jika mereka bereaksi dengan cara berkomentar, like atau share. Jadi, bahkan jika Anda tertarik dalam politik, kemungkinannya adalah bahwa jika Anda sensitif untuk ditolak secara social maka Anda akan menjaga diri dari posting, sharing atau mengomentari masalah politik. Kecuali jika Anda yakin bahwa komen atau posting Anda tidak kontroversial dalam jaringan sosial Anda.

Kami, yakni sekelompok cendekiawan ilmu politik, psikologi, dan studi komunikasi, memutuskan untuk mempelajari ciri-ciri kepribadian orang-orang yang memposting konten politik di media sosial dibandingkan dengan mereka yang tidak atau jarang. Kami mengukur beberapa sifat. Tapi, ada satu yang sangat menarik: rejection sensitivity (kepekaan terhadap penolakan).

Rejection sensitivityadalah pengukuran yang mapan dalam psikologi sosial yang menakar kecenderungan risiko sosial. Itu berarti melihat betapa takutnya Anda jika seseorang akan menolak Anda karena sesuatu yang telah Anda katakan atau lakukan. Ukurannya adalah menanyakan bagaimana Anda akan bereaksi terhadap sejumlah situasi yang masih bersifat hipotetis; Bagaimana perasaan Anda saat ditolak teman dekat, saat berjalan menuju sejumlah orang yang tidak Anda kenal di suatu pesta, dan sebagainya. Semua itu adalah bagian dari teka-teki. Dari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, kami sebagai peneliti dapat menghitung indeks rejection sensitivity setiap individu. Nilai yang rendah menunjukkan sensitivitas rendah terhadap penolakan; dan sebaliknya.

Kami kemudian mempelajari hubungan antara rejection sensitivity dengan aktivitas politik di media sosial dalam survei unik yang didistribusikan ke sekitar 2.000 penduduk Swedia. Kami kemudian mewawancarai 60 pemuda Swedia untuk mendapatkan pemahaman lebih mendalam tentang mengapa mereka ikut serta dalam debat politik online atau tidak ikut.

Analisis statistik menunjukkan, bahkan setelah kami mengontrol batasan usia, pendidikan, jenis kelamin dan minat politik, rejection sensitivity tetap memiliki pengaruh signifikan terhadap keterlibatan seseorang dalam debat politik secara online. Di atas segalanya, individu yang sangat takut ditolak bahkan enggan berbagi konten politik ke jaringan sosial mereka sendiri.

Misalnya: pria atau wanita berusia 30 tahun dengan pendidikan universitas dan berminat dalam politik namun memiliki tingkat cukup tinggi rejection sensitivity ternyata 40% lebih kecil kemungkinannya untuk sharing atau posting konten politik, daripada seseorang dengan karakteristik yang sama tetapi dengan tingkat lebih rendah dalam kepekaan ditolak secara sosial.

Meskipun kami menemukan bahwa sebagian besar responden dalam penelitian ini, yakni 37%, telah aktif dalam debat politik di media sosial dengan berbagai cara, jelas bahwa kelompok yang paling aktif memiliki karakteristik tertentu.

Dalam wawancara, menjadi jelas bahwa banyak orang menganggap masalah sensitif lebih baik dibicarakan dalam suasana lebih pribadi. Secara bertatap muka dengan teman atau kolega bisa lebih mudah untuk menyesuaikan sesuatu yang Anda ingin katakan jika Anda menyadari bahwa yang Anda katakan tadi bisa saja menyebabkan ketidaknyamanan pihak lain.

Di media sosial –setidaknya dengan nama asli Anda sendiri– Anda berisiko untuk disalahpahami, disalah-tafsirkan, atau setidaknya secara diam-diam dikecam habis. Karena Anda dikenal oleh teman-teman di jejaring media sosial, maka memiliki teman Facebook dengan punya pandangan kontroversial pun mungkin bisa menempatkan Anda dalam sorotan yang buruk.

Namun, ada beberapa orang tampaknya tidak peduli apakah orang lain akan tersinggung dengan apa yang mereka katakan. Orang-orang bermuka tebal itu tetap dengan senang hati berbagi pandangan mereka meski tidak menyenangkan orang lain. Akibatnya, konten yang sebenarnya diposkan dan dibagikan di feeds media sosial dalam tingkat lebih tinggi adalah dihasilkan oleh mereka-mereka yang tidak takut ditolak secara sosial ini.

Jadi apa artinya? Ini masih jadi pertanyaan terbuka. Satu-satunya hal yang kami ketahui adalah orang-orang yang aktif berkomentar atau posting politik itu tidak takut dengan sanksi sosial. Itu tidak berarti bahwa mereka sangat keras kepala atau secara politik sangat berat sebelah. Juga, itu tidak berarti bahwa mereka tahan terhadap fakta atau memiliki pandangan ekstrem. Bahkan mungkin orang-orang ini memiliki waktu lebih mudah untuk menjaga issue yang ditarget. Bahkan, mungkin saja lebih baik jika lebih banyak orang yang tidak takut ditolak, karena ketakutan seperti itu –sebagaimana ditunjukkan dalam penelitian sebelumnya– mengarahkan orang untuk beradaptasi dengan sikap yang lebih ekstrim dan menjadi semakin bersedia untuk terlibat dengan kelompok yang lebih ekstrim.

Namun, bisa juga terjadi bahwa bias kepribadian ini mengarah ke penciptaan lingkungan politik yang lebih terpolarisasi dengan nada konfrontatif yang memiliki efek membuat takut orang-orang berdiskusi politik secara online. Karena media sosial secara bertahap menjadi sumber paling penting untuk informasi politik, diskusi politik dan berita politik untuk warga, maka ini akan memiliki dampak besar bagi demokrasi di seluruh dunia.

* Tulisan ini dimuat dalam The Conversation edisi 8 September 2018
* Nils Gustafsson adalah dosen senior komunikasi strategis di Lund University

Facebook Comments

POST A COMMENT.