Beginilah Cara Otak Melupakan dengan Sengaja

MEPNews.id –Solomon Veniaminovich Shereshevsky. Pria Rusia yang hidup 1886 – 1 Mei 1958 ini punya otak luar biasa. Meski intelejensinya biasa, otaknya mengingat hampir apa saja, kapan saja, dalam kondisi bagaimana saja, dalam rentang waktu bertahun-tahun. Misalnya, ia bisa mengingat detail omongan orang saat mengobrol santai atau kejadian biasa saja tiga tahun lalu. Sekitar 30 tahun ia jadi obyek penelitian perilaku oleh psikolog Alexander Luria hingga jadi buku The Mind of a Mnemonist (1968). Namun, meski hebat, ia juga merasa tak nyaman karena tidak bisa melupakan hal-hal sepele atau tak perlu diingat. Konon, menjelang akhir hayat, akhirnya ia bisa juga melupakan sesuatu dengan kehendak sadar untuk menghapusnya dari memori otak.

Ya,bisa melupakan dengan sengaja atau tanpa sengaja pada dasarnya adalah berkah. Ada begitu banyak hal di dalam hidup yang lebih baik tidak usah diingat karena lebih banyak negatifnya aripada positifnya. Nah, untuk bisa melupakan atau terlupa, ternyata ada bagian khusus wilayah otak yang memainkan peran penting.

Dikabarkan Science Daily edisi 7 September 2018, para peneliti dari Ruhr-Universität Bochum dan Universitätsklinikum Gießen und Marburg di Jerman, bekerja sama dengan rekan-rekan dari Bonn (Jerman), Belanda, dan Inggris, menganalisis apa yang terjadi di otak ketika manusia ingin secara sengaja melupakan sesuatu.

Mereka berhasil mengidentifikasi dua area dalam otak, yakni prefrontal cortex dan hippocampus, yang pola-pola aktivitasnya merupakan karakteristik dasar untuk proses melupakan. Untuk mendapatkan data, mereka mengukur aktivitas otak pasien epilepsi yang sudah tertanam elektroda untuk tujuan perencanaan bedah.

Tim yang dipimpin Carina Oehrn dan Profesor Nikolai Axmacher menjabarkan hasilnya dalam jurnal Current Biology yang diterbitkan online 6 September 2018 dengan judul ‘Direct Electrophysiological Evidence for Prefrontal Control of Hippocampal Processing during Voluntary Forgetting’.

“Pada abad lalu, penelitian tentang memori berfokus terutama pada pemahaman bagaimana informasi dapat berhasil diingat,” kata Nikolai Axmacher, Kepala Departemen Neuropsikologi di Bochum. “Namun, melupakan sebenarnya juga hal sangat penting untuk kesejahteraan emosional. Bisa melupakan sesuatu itu memungkinkan manusia untuk lebih fokus pada tugas yang harus dihadapi.”

Para peneliti mencatat aktivitas otak 22 pasien dengan implan elektroda di prefrontal cortex dan di struktur yang lebih dalam yakni hippocampus. Peneliti menyajikan sejumlah kata pada para pasien, lalu meminta mereka mengingat atau melupakannya. Kemudian, dilakukan tes mengingat dan melupakan. Hasilnya, para peserta mengingat kata-kata yang seharusnya mereka lupakan secara kurang baik daripada kata-kata yang seharusnya mereka ingat.

Ketika melakukan analisis, para peneliti juga mengamati aktivitas ritmik sinkron di hippocampus dan prefrontal cortex. Selama masa melupakan secara aktif, osilasi di kedua area otak itu menunjukkan perubahan karakteristik pada pita frekuensi tertentu. Dalam prefrontal cortex, osilasi antara 3 – 5 Hertz lebih menonjol, yaitu dalam rentang yang disebut theta. Mereka berpasangan dengan peningkatan osilasi pada frekuensi lebih tinggi, yaitu 6 – 18 Hertz, di hippocampus.

“Data menunjukkan, selama proses melupakan secara aktif, aktivitas di hippocampus (wilayah penting untuk memori) diatur oleh prefrontal cortex,” jelas Carina Oehrn, ahli saraf yang saat awal terlibat proyek penelitian bekerja di Bochum namun sekarang bekerja untuk Universitätsklinikum Gießen und Marburg. “Aktivitas di hippocampus tidak hanya ditekan, melainkan dialihkan ke frekuensi berbeda. Di situ, informasi yang diproses tidak lagi dikodekan.”

Tim itu mengatakan, penelitian tentang melupakan secara sengaja ini mungkin merupakan dasar dari terapi baru potensial untuk gangguan stres pasca-trauma. Saat trauma, pasien biasa menghidupkan kembali kenangan emosional negatif masa lalu. Ini harus dikikis dengan cara melupakan.

“Prefrontal cortex, yaitu daerah otak yang diberi kontrol aktif atas proses memori, dapat diaktifkan untuk tujuan terapi melalui stimulasi magnetik atau listrik non-invasif,” kata Oehrn menguraikan ide awal. “Namun, manfaat dari perawatan ini harus lebih dulu diuji dalam studi masa depan.” (*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.