Kenapa Bersikukuh pada Keyakinan Keliru?

MEPNews.id – Ada guyonan kecil yang tersebar di jagad medsos. Ada tiga golongan orang yang paling susah dinasihati. Pertama, orang yang jatuh cinta. Kedua, orang gila. Ketiga, pendukung capres. Apa lagi yang sudah masuk fase diehard.

Anda tentu bertanya-tanya mengapa orang-orang tertentu tetap bersikukuh pada keyakinan mereka meski sudah ditunjukkan bukti-bukti nyata bahwa apa yang mereka yakini itu keliru? Nah, ada temuan ilmiah baru yang menunjukkan umpan balik ternyata lebih berpengaruh daripada bukti nyata terhadap kepekaan orang tentang keliru dan benar.

Science Daily 4 edisi September 2018 mengabarkan, para psikolog perkembangan dari University of California, Berkeley, di Amerika Serikat, menemukan bahwa keyakinan seseorang lebih mungkin diperkuat oleh reaksi positif atau negatif yang mereka terima sebagai tanggapan terhadap pendapat, tugas atau interaksi. Ini efeknya lebih besar daripada logika, penalaran hingga data ilmiah.

Temuan mereka, yang diterbitkan dalam jurnal Open Mind dengan judul ‘Certainty Is Primarily Determined by Past Performance During Concept Learning’, memberi pendalaman baru tentang bagaimana orang menangani informasi baru yang menantang pandangan dan keyakinan mereka terhadap jagad luar. Temuan ini juga bisa menjelaskan bagaimana kebiasaan belajar tertentu dapat membatasi cakrawala intelektual seseorang.

“Jika Anda yakin tahu banyak tentang sesuatu, meskipun sebenarnya tidak tahu sama sekali, maka Anda cenderung tidak ingin menjelajahi topik itu lebih jauh dan akan gagal memahami betapa sedikit yang Anda ketahui,” kata Louis Marti, kandidat PhD bidang psikologi UC Berkeley, yang jadi penulis utama penelitian.

Dinamika kognitif ini dapat bermain di semua perjalanan kehidupan nyata maupun virtual, termasuk media sosial dan media berita. Ini dapat menjelaskan mengapa beberapa orang dapat dengan mudah ditipu oleh penebar kabar bohong.

“Jika Anda menggunakan ‘teori gila’ untuk membuat prediksi benar beberapa kali, maka Anda bisa terjebak dalam keyakinan tentang itu. Setelah itu, mungkin Anda tidak akan lagi tertarik mengumpulkan lebih banyak informasi,” kata penulis senior Celeste Kidd, asisten profesor psikologi di UC Berkeley.

Secara khusus, penelitian ini meneliti apa yang mempengaruhi perasaan kepastian seseorang saat belajar. Dalam eksperimen dilakukan di University of Rochester, ditemukan bahwa kepercayaan peserta penelitian lebih didasarkan pada kinerja terbaru mereka daripada hasil kumulatif jangka panjang.

Untuk eksperimen ini, lebih dari 500 orang dewasa direkrut secara online melalui platform crowdsourcing Mechanical Turk dari Amazon. Para peserta penelitian melihat berbagai kombinasi bentuk berwarna pada layar komputer. Mereka diminta mengidentifikasi bentuk-bentuk berwarna mana yang memenuhi syarat sebagai ‘Daxxy’ yakni objek make-believe yang diciptakan peneliti untuk tujuan eksperimen.

Dengan tidak ada petunjuk yang mendefinisikan karakteristik Daxxy, peserta eksperimen harus menebak membabi buta item-item mana yang merupakan Daxxy. Setelah melihat 24 bentuk warna, mereka menerima umpan balik tentang apakah mereka telah menebak benar atau salah. Setelah setiap tebakan, mereka melaporkan apakah yakin atau tidak akan jawaban mereka sendiri.

Hasil akhir menunjukkan, para peserta secara konsisten mendasarkan keyakinan mereka tentang apakah telah mengidentifikasi Daxxy dengan benar hanya dalam empat atau lima tebakan terakhir. Mereka tidak mendasarkan pada semua informasi yang telah mereka kumpulkan di seluruh sesi eksperimen.

“Yang kami temukan menarik adalah, mereka bisa melakukan 19 tebakan pertama dalam satu deretan kekeliruan. Tapi, jika mereka mendapat lima tebakan terakhir benar, mereka jadi merasa sangat yakin,” kata Marti. “Itu bukan karena mereka tidak memperhatikan. Mereka sebenarnya sedang mempelajari apa itu Daxxy. Tapi mereka tidak menggunakan sebagian besar dari apa yang mereka pelajari untuk menginformasikan kepastian mereka.”

Kepastian ideal dari seorang pembelajar tentu akan didasarkan pada observasi yang dikumpulkan dari waktu ke waktu serta umpan balik, kata Marti. “Jika tujuan Anda mencapai kebenaran, maka strategi hanya menggunakan umpan balik terbaru bukanlah hal yang bagus. Yang lebih bagus adalah menggunakan semua data yang telah Anda kumpulkan.” (*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.