Reportase Masa Lalu

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id —- Menurut Imam Ghazali ada empat jenis manusia. Yang pertama, manusia yang tahu bahwa dia tahu. Jadikanlah manusia yang pertama ini sebagai seorang guru. Lalu yang kedua, ada jenis manusia yang tidak tahu bahwa dia tahu. Ini jenis manusia yang sedang tidur, maka bangunkanlah. Lantas yang ketiga, manusia yang tahu bahwa dia tidak tahu. Ajarilah dia. Dan yang keempat, ada jenis manusia yang tidak tahu bahwa dia tidak tahu. Yang keempat ini menurut Al-Ghazali merupakan jenis manusia yang jahil murokkab, bodoh bertumpuk bodoh alias bodoh kuadrat, maka fatrukhum, tinggalkanlah jenis manusia yang keempat ini.

Saat seorang guru Agama menjelaskan empat jenis manusia ini, seorang siswa SMA angkat tangan bertanya: “Pak, kenapa untuk jenis manusia yang keempat itu justru ditinggalkan? Kenapa tidak kita bimbing?” Pak guru Agama tersenyum. Ia bangga dengan pertanyaan kritis dari siswanya tersebut.

“Begini anak-anak sekalian,” Pak guru Agama lantas mengurai, “mereka itu kita tinggalkan bukan dalam arti pergaulan sosial melainkan dalam konsep pemikiran belaka. Kita tetap bergaul dan berkawan dengan mereka apa adanya seperti biasa saja. Tidak lantas kita pindah sekolah atau pindah rumah gara-gara harus meninggalkan orang yang tidak tahu bahwa dia tidak tahu. Disinilah kita harus pandai berkomunikasi dan basa-basi sebagai metode adaptasi dalam pergaulan sehari-hari, karena pada prinsipnya segala sesuatunya tak bisa dipaksakan.”

“Maka, anak-anak sekalian,” lanjut Pak guru Agama, “kita shalat lima waktu, semaksimal mungkin untuk senantiasa berendah hati dan berlaku baik, belajar terus menerus untuk tidak sombong dan tidak merasa pandai, ngaji long live education, pokoknya seluruh laku baik yang kita kerjakan itu, harapan kita hanyalah supaya kita senantiasa dibantu Allah untuk jangan sampai menjadi manusia jenis keempat tadi. Kita berlindung dan memohon kepada Allah agar kita tidak termasuk golongan yang summun bukmun umyun fahum la yarjiun, yakni golongan orang-orang yang tuli, bisu, buta dan mereka ini sangat ngotot dan wangkot tidak mau kembali untuk tidak tuli, bisu, dan buta. Na’udzu billahi min dzalik.”

Suasana kelas hening sejenak. Pak guru Agama lantas menceritakan berbagai kisah para wali dan para nabi yang senantiasa bersabar bahwa dalam ri’il kenyataannya dan senyata-nyatanya: manusia memang sangat butuh sekali terhadap hidayah Allah. Terkadang manusia memang lupa bahwa dia bisa berbuat baik, karena Allah turut serta membantu ia untuk berbuat baik. Terkadang manusia terlalu gagah dan ge-er bahwa ia bisa berbuat baik atas usahanya sendiri. Sedangkan godaan hidup sedemikian dahsyatnya.

Seluruh rangkaian pelajaran Agama di pagi hari itu, diakhiri dengan harapan semoga semuanya senantiasa mendapatkan hidayah dan bimbingan Allah. Serta jangan lupa, pesan Pak guru Agama, senantiasalah selalu membaca shalawat untuk kekasihnya Allah Sang Nabi Cahaya Pilihan, yakni Muhammad SAW.

Pak guru Agama senyum-senyum sendiri menuliskan kembali sebuah reportase yang tanpa terasa sudah sekian tahun yang lalu. “Hidup ini terkadang tak terasa sangat begitu singkat,” batin Pak guru Agama. (Banyuwangi, 5 September 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.