Risk Based Thinking Dalam Menyusun RKS (Rencana Kerja Sekolah)

By: Syaifulloh, Penikmat Pendidikan

MEPNews.id — Perubahan laksana perjalanan waktu yang mesti terjadi secara alami pada seluruh aspek manajemen sekolah. Perubahan yang cepat membutuhkan Pola pikir yang tepat agar ketercapaian Visi-Misi dan Tujuan sekolah dapat berjalan dengan maksimal melalui langkah-langkah terorganisir dan terpadu.

Pola pikir yang menjadi kekuatan sekolah/madrasah dalam menjalankan programnya tentunya selalu menghadapi resiko-resiko di tengah jalan. Resiko yang tidak diprediksi sebelumnya oleh sekolah.

Contohnya ada siswa yang mengalami kesulitan belajar dan Baru diketahui setelah anak belajar selama 1 tahun. Kesulitan belajar merupakan hal yang banyak dialami oleh oleh siswa. Siswa mengalami kesulitan dalam menerima pelajaran pada kurun waktu semester berjalan . Bagi sisw yang menghadapi hambatan dalam menggunakan proses belajar dan menerim informasi belajar yang diberikan guru. Kondisi ini akan berdampak kurang bagus terhadap kemajuan belajar anak.

Contoh seperti di atas merupakan kondisi nyata yang banyak dialami oleh sekolah/madrasah. Mereka tidak memperhitungkan hambatan belajar siswa secara menyeluruh. Hambatan belajar itu perlu diupayakan pemecahan masalahnya. Baik oleh guru di sekolah maupun orang tua di rumah. Ini sebagai salah satu wujud kepedulian dan kerja sama untuk meningkatkan kapasitas anak baik akademik dan non-akademik.

Resiko itu bisa diprediksi sejak awal apabila semua memiliki tingkat pemikiran yang sama dalam menghadapi resiko pada siswa. Untuk mengatasinya perlu diadakan personal assesment atau tes psikologi agar bisa diketahui secara spesifik kelebihan dan kekurangan anak serta pola asuh orang tua kepada anaknya.

Sebagai contoh dalam membuat RKS (Rencana Kerja Sekolah) ada yang membuatnya berdasarkan copy paste dari sekolah/madrasah lain sehingga tidak relevan dengan visi dari Sekolah/madrasah tersebut. Bahkan ada sekolah/madrasah dalam RKS/M lupa tidak mengganti nama sekolahnya yang diambil file RKS/M-nya. Pola berfikir dalam menghadapi resiko tidak terpikirkan oleh setiap tenaga pendidik dan kependidikan bisa menjadi masalah pada pelaksanaan program sekolah/madrasah. Pokoknya berjalan sesuai dengan operasional sekolah/madrasah.

Pada ISO 9001:2015 pemikiran berbasis resiko menjadi salah satu syarat penting dalam menjalankan sistem mutu pda satuan pendidikan. Pemikiran berbasis resiko meminimalkan hambatan Sekolah/madrasah dalam menjalankan program yang sudah dirancang oleh satuan pendidikan tersebut.

Kalimat Pemikiran berbasis risiko (risk-based thinking) yang digunakan untuk menggambarkan cara di mana ISO 9001: 2015 membahas pertanyaan terkait risiko. Konsep risiko selalu tersirat dalam ISO 9001, dengan mengharuskan satuan pendidikan untuk merencanakan proses dan mengelola pendidkan untuk menghindari hasil yang tidak diinginkan. Satuan pendidikan telah melakukan ini dengan menempatkan penekanan lebih besar pada perencanaan dan pengendalian proses (planning and controlling processes) yang memiliki dampak terbesar pada kualitas pendidikan dan layanan yang berikan.

Cara di mana satuan pendidikan mengelola risiko bervariasi tergantung pada konteks pendidikan (misalnya kekritisan dan layanan yang disediakan, kompleksitas proses, dan potensi konsekuensi dari kegagalan). Penggunaan pemikiran berbasis risiko (risk-based thinking) dimaksudkan untuk membuat jelas bahwa kesadaran risiko adalah penting, metodologi manajemen risiko formal dan penilaian risiko tidak selalu sesuai untuk semua situasi pendidikan dan Sekolah/madrasah.

Penyusunan RKS/M yang menggunakan risk based thinking (pemikiran berbasis resiko) bisa jadi akan memudahkan Sekolah/madrasah mencapai Visi-misi dan tujuan Sekolah secara elegan. Sekolah/madrasah tidak membuat program yang “GEDABRUS”. Ditulis programnya sangat banyak dan sangat tinggi tujuan yang ingin dicapai tapi tanpa didukung SDM dan Anggaran yang cukup untuk mencapainya.

Dengan memperhatikan dan mempertimbangkan segala resiko dalam setiap pengambilan keputusan. Apa resiko yang ada, misalnya, kalau Sekolah/madrasah akan membuat program baru, atau akan mengeksekusi capaian baru. Apa resikonya bila diinginkan penggunaan anggaran yang besar? Dari situ, sekolah/madrasah dapat memutuskan tindakan-tindakan yang diperlukan. Misalnnya, membiarkan RKAS apa adanya, memodifikasi RKAS atau mungkin membatalkan RKAS sesuai yang ada.

Wassalam

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.