Terapi Gen Rhodopsin Berhasil Cegah Kebutaan

MEPNews.id – Lebih dari 150 mutasi berbeda pada rhodopsin (molekul penginderaan cahaya) dapat menyebabkan retinitis pigmentosa yakni kondisi hilangnya penglihatan malam dan penglihatan perifer (tepi). Kini, ada tim peneliti yang telah mengembangkan perawatan untuk kondisi tersebut. Hasil uji yang sukses pada anjing telah membuka jalan untuk pengujian pada manusia. Tunggu saja.

Lembaga pengatur obat dan makanan di Amerika Serikat (FDA) pada 2017 membuat tonggak sejarah dengan menyetujui teknik terapi gen untuk pengobatan kanker dan gangguan kebutaan heriditer. Belakangan ini, kebijakan itu menunjukkan hasil. Tim yang dipimpin ilmuwan dari University of Pennsylvania terbukti berhasil memasukkan terapi gen ke dalam uji klinis. Kali ini mereka berhasil mengobati retinitis pigmentosa sebelum menjadi kebutaan total.

Science Daily edisi 20 Agustus 2018 mengabarkan, para peneliti dari Pennsylvania School of Veterinary Medicine dan Perelman School of Medicine, bekerja sama dengan ilmuwan dari University of Florida, mengembangkan terapi yang secara efektif menghilangkan salinan abnormal dari rhodopsin (molekul penginderaan cahaya), dan kemudian mengembalikannya dengan salinan yang sehat dari protein. Pendekatan ‘bongkar pasang dan penggantian’ ini mempertahankan sel-sel fotoreseptor penangkap cahaya di retina pada anjing yang terkena masalah. Yang sebelumnya dihadapi anjing ini dapat mengembangkan penyakit sangat mirip dengan penyakit pada mata manusia.

Terlebih lagi, para peneliti menggunakan vektor virus tunggal untuk bersama-sama memberikan materi genetik yang diperlukan untuk mencapai ‘bongkar pasang dan penggantian’ ini. Meskipun lebih dari 150 mutasi berbeda pada rhodopsin telah teridentifikasi bisa menyebabkan retinitis pigmentosa, pendekatan ini dimaksudkan untuk tetap berhasil meski bagaimana pun mutasi atau mekanisme sel-sel fotoreseptor batang itu mati. Itu berarti sebagian besar pasien rhodopsin autosomal dominant retinitis pigmentosa dapat memperoleh manfaat jika kelak terapi ini dinyatakan aman dan efektif pada manusia.

Susunan gen rhodopsin

Susunan gen rhodopsin

“Ini pengobatan yang cocok untuk semua,” kata William A. Beltran, profesor oftalmologi dan direktur Divisi Terapi Retina Eksperimental di Pennsylvania School of Veterinary Medicine yang juga mitra penulis laporan penelitian yang terbit di Proceedings of the National Academy of Sciences, dengan judul Mutation-independent rhodopsin gene therapy by knockdown and replacement with a single AAV vector. “Perawatan ini membidik wilayah gen rhodopsin yang homolog pada manusia dan anjing, dan yang terpisah dari tempat mutasi berada. Itu memberi kita harapan besar untuk menjadikannya sebagai pengobatan translasional.”

“Sudah lama kami tahu molekul ini menyebabkan bentuk khas retinitis pigmentosa, tetapi pengembangan pengobatannya belum secara langsung,” kata Artur V. Cideciyan, profesor penelitian oftalmologi di Pennsylvania Medicine yang juga penulis hasil penelitian. “Sekarang, dengan hasil elegan berdasarkan penelitian bertahun-tahun pada anjing, kita dapat mulai bekerja mengobati mutasi ini dan mencegah kerusakan sel fotoreseptor pada manusia.”

Karya ilmiah ini hasil terbaru dalam kemitraan jangka panjang antara para ilmuwan penglihatan di Pennsylvania. Selain Beltran dan Cideciyan, tim itu juga melibatkan Raghavi Sudharsan mitra peneliti di laboratorium Beltran, Gustavo D. Aguirre profesor genetika medis dan oftalmologi, dan Samuel G. Jacobson profesor oftalmologi dan direktur Center for Inherited Retinal Degenerations.

Retinitis pigmentosa mengacu pada serangkaian gangguan retina bawaan yang progresif. Tiga dekade lalu, para peneliti mengidentifikasi mutasi pada gen yang mengkodekan rhodopsin sebagai penyebab genetik pertama yang diketahui dari kondisi ini. Sejak itu, diketahui ada gen lain yang terlibat. Tapi, mutasi rhodopsin tetap menjadi yang utama karena menyebabkan hingga 30 persen kasus autosomal dominant retinitis pigmentosa.

Sebagian besar mutasi rhodopsin ‘diwariskan’ melalui keluarga dengan cara dominan. Berarti, satu orang tua hanya perlu memberikan satu salinan mutasi pada anak yang akan terpengaruh. “Dalam penyelidikan, kami melihat orang pada 1990-an punya tipe genetik retinitis pigmentosa. Sekarang kami melihat cucu-cucu mereka juga terpengaruh,” kata Jacobson. “Ini penyakit multi generasi dan serius.”

Beberapa mutasi rhodopsin yang menyebabkan retinitis pigmentosa menghasilkan apa yang dikenal sebagai ‘toxic gain-of-function’, yang diduga menghasilkan protein berbahaya bagi sel-sel fotoreseptor. Dengan demikian, untuk mengatasi masalah yang timbul pada pasien ini, para peneliti telah menentukan strategi terbaiknya menghilangkan protein mutan.

“Dulu, kami telah mengembangkan terapi gen untuk kondisi lain di mana mutasi menyebabkan hilangnya fungsi,” kata Aguirre, “Dalam kasus ini, kami hanya perlu menambahkan kembali salinan normal gen agar fotoreseptor mendapatkan kembali struktur dan fungsi normal mereka. Ketika Anda memiliki penyakit dominan seperti ini, di mana produk gen merusak sel, maka Anda harus menyingkirkan produknya. ”

Upaya sebelumnya oleh tim ini hanya berusaha membongkar rhodopsin mutan dengan rhodopsin normal pada anjing. Ini bisa mencegah penyakit, tetapi menyebabkan hilangnya kompartemen seluler kunci fotoreseptor batang, yakni segmen luar, yang bisa memulai penglihatan. Maka, Beltran dan rekannya menetapkan bahwa menambahkan kembali salinan yang sehat akan menjadi strategi terbaik dan diperlukan agar sel-sel retina berfungsi sehat.

Facebook Comments

POST A COMMENT.