Rahasia Pintu Rezeki

MEPNews. Id. Pernahkan anda merasakan kekurangan belanja makanan, biaya sekolah, bayar hutang dll, bahkan untuk beli bedak lipstikpun tidak bisa?? ..Saat itu di sebuah desa Baureno, Bojonegoro, Jatim. Jika musim paceklik, order sepi, petani gagal panin, semua kena efeknya.
Kalau saya terus terang pernah mengalami kekurangan belanja, mau masak nasi, ee beras habis, mau goreng telor, ee minyak habis, bahkan mau masak masih bingung cari elpiji dan uang di dompet tinggal sisa untuk uang jajan anak.

Pernah juga mau mandi, air sumur habis, sumurnya juga milik tetangga, kalau mau mandi harus ngangsu dulu, ambil pakai timba kecil dikasih tali tampar. Antri sedesa berjubel dari pagi sampai siang. Ambil air sumurnya di salah satu perangkat desa.Kalau sudah benar-benar habis air sumurnya, kita group emak-emak turun ke sendang. Yang airnya bau belerang, sambil bawa baju kotor untuk dicuci bersamaan mandi.

Apakah saat itu saya sedih, menyesal, bingung dan lari dari kenyataan, oh sama sekali tidak, semuanya kita nikmati dengan suka cita. Jika semua pekerjaan rumah beres baru ngumpul lagi dengan tetangga, sambil lihat permainan bola anak-anak desa di atas bukit di lapangan sekolah SMPN 3 Baureno. Sambil menggendong bayi, dengan membawa sepiring nasi, sayur lauk seadanya.. Menyuapi si kecil sambil keliling lihat bola. Rutinitas mengurus rumah tangga dengan segala kekurangan dan kelebihan sebagai hal yang biasa dijalani.
Namun terkadang kita lupa bahwa semua yang terkait dalam proses kehidupan ini tidak bisa lepas dari skenario Allah. Hidup di desa lebih bisa saling merasakan sedih bersama, senang juga bersama, sering sekali tetangga kanan kiri memberi sayur serta makanan cemilan untuk anak saya, begitu juga sebaliknya, saya tidak bisa makan makanan sendiri sebelum berbagi dengan tetangga. Kebiasaan saling ‘ater-ater’ ini ternyata menjadi perekat komunikasi antar sesama. Sampai suatu hari saya hamil besar dan sudah waktunya melahirkan, tetangga juga yang mengurus seluruh persalinan, karena suami tugas luar. Bisa dibayangkan kalau tetangga pada tidak peduli, bisa tidak tertolong saya dan jabang bayi. Karena dokter tidak ada, bidan juga jaraknya jauh.

Kontribusi moral yang sangat bagus terbina di pedesaan saat itu. Nah jika saya runut, ada kaitannya antara rezeki yang turun ke hambanya dengan sikap perilaku kita dengan sesama makhluk Allah. Rezeki itu bisa berwujud teman yang baik-baik, pekerjaan yang menyenangkan, tubuh yang bugar, hati yang selalu menggantungkan pada Allah serta bisa berupa pikiran yang selalu membuahkan kemanfaatan. Jadi dimanapun tempat kita singgah, pastinya ada rezeki yang menyertai diri kita. Maka sebaiknya menjemput rizki dengan kebaikan yang kita tabur dimanapun berada, menjadikan pintu-pintu rezeki terbuka dimana-mana. Semoga kita selalu sehat. (khusna)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.