Ikom UMM Garap Warna-warni Discover Gresik

Kampung Warna-warni Jodipan di Malang menjadi contoh yang akan diproyeksikan di Discover Gresik.

MEPNews.id – Setelah sukses menyulap berbagai kawasan menjadi destinasi bernilai kemanfaatan sosial, Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (FISIP UMM) merancang program unggulan berbasis pemaksimalan potensi lokal. Program ini diintegrasikan dengan praktikum mahasiswa peminatan Public Relations (PR).

Melihat suksesnya proyek Kampung Warna-Warni Jodipan (KWJ) di Malang, rombongan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Kabupaten Gresik meminta Prodi Ilmu Komunikasi UMM menerapkan konsep serupa di sejumlah kawasan di Kabupaten Gresik. Setelah diskusi, kedua belah pihak mencetuskan program bertema ‘Discover Gresik’.

“Awalnya mereka ingin sejumlah kawasan dijadikan serupa Kampung Warna-Warni Jodipan. Kami menyampaikan, setiap daerah memiliki potensi masing-masing. Treatment akan berbeda antara satu kawasan dengan kawasan lain. Intinya, jangan latah,” ungkap Arum Martikasari, M.MedKom, Koordinator Praktikum Menejemen Strategi PR Prodi Ilmu Komunikasi UMM, dikutip situs resmi umm.ac.id 21 Agustus 2018.

Lima kawasan yang bakal jadi objek garapan mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM adalah Desa Kramat Inggil melaui konsep Eco Green Village, Kelurahan Kemuteran melalui konsep Night Market, Kelurahan Kroman melalui konsep Wisata Pelabuhan, Kelurahan Penelingan melalui konsep Cultural and Heritage, serta Kelurahan Sukodono melalui konsep Sentra Kuliner.

Kesempatan untuk menggarap klien khusus ini tidak didapat semua kelompok praktikum. Hanya yang lolos penilaian secara konsep yang akan benar-benar menindaklanjuti garapan lima kawasan ini. Termasuk mencari sumber pendanaan, mendampingi masyarakat, hingga menggarap proyek sampai selesai. Diperkirakan semua program mulai berjalan September.

“Kami berharap dengan skema praktikum seperti ini lulusan Prodi Ilmu Komunikasi dapat memiliki kompetensi atau skill yang bisa diujikan saat sertifikasi keprofesian. Sehingga ketika diuji, mereka tinggal menunjukan portofolio yang mereka miliki,” ungkap Arum. (can/sil)

Facebook Comments

POST A COMMENT.