Minum Susu Olahan dari Sapi; Ya atau Tidak?

MEPNews.id – Masih berfikir keras saat hendak mengkonsumsi susu olahan dari sapi? Ya, itu bisa dipahami. Banyak perdebatan terus-menerus dan temuan ilmiah baru yang saling bertentangan tentang mengapa kita butuh atau tidak butuh susu dari sapi. Meskipun sulit untuk memberikan garis bawah ilmiah yang konkret, Sadhana Bharanidharan dalam Medical Daily edisi 20 Agustus 2018, memberi tiga pandangan pro dan tiga pandangan kontra yang perlu Anda ketahui. Silakan pertimbangkan baik-baik.

PRO:

Dapat membantu menurunkan glukosa darah
B. Kung dan para mitra peneliti di Kanada melaporkan hasil riset berjudul ‘Effect of Milk Protein Intake and Casein-to-Whey Ratio in Breakfast Meals on Postprandial Glucose, Satiety ratings, and Subsequent Meal Intake’ di Journal of Dairy Science, susu sapi yang dikonsumsi dengan sarapan tinggi karbohidrat dapat membantu menurunkan kadar glukosa darah bahkan setelah makan siang. Efeknya sangat kuat dengan susu protein tinggi.

Susu sapi secara alami mengandung dua protein kualitas tinggi; whey (20 persen) dan kasein (80 persen). Pencernaan atas protein-protein ini mengarah pada pelepasan hormon lambung yang memperlambat pencernaan dan membantu meningkatkan rasa kenyang.

Menyediakan Kalsium, Vitamin D, dan B-12
“Susu sapi itu sendiri –yang tanpa fortifikasi– mengandung 300 miligram kalsium per gelas. Jumlah ini saja merupakan 30 persen dari asupan harian yang direkomendasikan untuk kebanyakan orang dewasa,” kata Dr. Amanda Powell, pakar endokrinologi, diabetes dan nutridi di Boston Medical Center.

Ketika diperkaya, susu sapi formula dapat memberikan tambahan dosis vitamin D sehat yang dibutuhkan tubuh untuk penyerapan kalsium. “Satu gelas susu juga mengandung setengah dari asupan harian vitamin B12 yang direkomendasikan,” tambah Powell.

Dianjurkan untuk anak-anak yang sedang tumbuh
Departemen Pertanian Amerika Serikat mencatat, asupan produk susu sapi sangat penting selama periode pertumbuhan anak-anak dan remaja. Alasan yang sering dikutip adalah kalsium bermanfaat bagi massa tulang yang masih dalam kondisi dibangun selama tahap itu.

Penelitian dari St. Michael’s Hospital di New Jersey juga menunjukkan, anak-anak yang minum susu sapi bisa tumbuh lebih tinggi daripada anak-anak yang minum minuman pengganti non-susu.

KONTRA:

Mengandung laktosa yang bisa berbahaya
Gula dari susu sapi, yang dikenal sebagai laktosa, tidak selalu dapat dicerna oleh tubuh manusia. Maka, ada orang-orang tertentu yang mengalami intoleransi laktosa. Jika minum susu sapi, mereka bisa mengalami gejala antara lain kembung, kentut, mual, diare, hingga kram perut.

Jika Anda rentan terhadap intoleransi laktosa, para ahli –termasuk dari Mayo Clinic di Amerika Serikat– menyarankan untuk mengeluarkan produk susu sapi dari daftar makanan Anda untuk mengetahui apakah gejalanya mereda. Untuk lebih memastikan, silakan temui dokter yang dapat mengkonfirmasi diagnosis dengan bantuan tes toleransi laktosa, tes napas hidrogen, atau tes keasaman tinja.

Mendatangkan malapetaka jerawat pada kulit
Jerawat adalah kondisi peradangan, kata dokter kulit Joshua Zeichner dari Rumah Sakit Mount Sinai di Amerika Serikat. Susu sapi bisa menyebabkan peradangan kulit yang menimbulkan jerawat itu. Susu sapi mengandung hormon IGF-1. Hormon ini dilepaskan protein whey dan kasein. Tidak hanya strukturnya mirip insulin, IGF-1 juga dapat meningkatkan pembentukan jerawat.

Lebih banyak kalori daripada yang dibutuhkan
Susu sapi memang bergizi tinggi, tapi nilai kalorinya juga tinggi. Hanya satu gelas susu 2 persen dikatakan mengandung sekitar 120 kalori. Jadi, mengonsumsi satu gelas per makan saja bisa menambah 360 kalori. Ini sudah 20 persen dari asupan kalori yang disarankan untuk satu hari.
Dr Gail Cresci dari Klinik Cleveland menyarankan untuk mengonsumsi cukup satu gelas susu sapi per hari. Untuk mengurangi kelebihan konsumsi susu sapi, pertimbangkan untuk meminum kopi atau teh tanpa susu.

Facebook Comments

POST A COMMENT.