Membedah Sumber Kreativitas dari Imajinasi

MEPNews.id – Apakah Anda terpesona oleh lukisan The Starry Night karya Vincent Van Gogh atau teori Ruang dan Waktu dari Albert Einstein? Anda mungkin setuju bahwa kedua karya itu adalah produk kreativitas yang memicu pikiran. Imajinasi pikiran mendorong kita maju sebagai spesies; memperluas cakrawala dunia kita dan membawa ide-ide baru dari penemuan ke penemuan baru.

Valerie van Mulukom

Valerie van Mulukom

Tetapi mengapa di antara kita tampak sangat berbeda dalam kemampuan berimajinasi? Bisakah Anda melatih diri untuk menjadi lebih imajinatif? Sains memberikan beberapa jawaban berdasarkan tiga jenis imajinasi berbeda tetapi saling terkait. Valerie van Mulukom, research associate di Fakultas Psikologi, Coventry University, di Inggris Raya, mengungkapkannya di The Conversation.

Imajinasi kreatif
Imajinasi kreatif adalah apa yang biasanya kita anggap kreativitas dengan huruk besar. Contohnya, berhasil menemukan sesuatu yang baru atau inovatif, menjadi sutradara utama pesta upacara pembukaan Asian Games. Ini berbeda dari kreativitas sehari-hari, contohnya menghasilkan solusi imajinatif untuk masalah rumah tangga atau membuat kerajinan yang rutin.

Inspirasi kreatif ini sangat sulit dipahami. Karena itu, mampu untuk melatih kreativitas atau menginduksi keadaan kreativitas semacam ini telah lama menjadi tujuan banyak seniman dan ilmuwan.

Tetapi apakah itu mungkin? Tentu mungkin, karena ada beberapa individu yang memiliki kepribadian lebih kreatif daripada yang lain. Lebih jauh, penelitian ilmiah mengisyaratkan, imajinasi kreatif juga dapat didorong melalui lingkungan atau banyak kerja keras. Misalnya, ada penelitian eksperimental yang menunjukkan, ketika anak-anak terlibat dengan konten kreatif atau menyaksikan orang lain yang sangat kreatif, mereka bisa menjadi lebih kreatif.

Ada dua fase untuk imajinasi kreatif. Pertama-tama, ‘pemikiran divergen.’ Ini adalah kemampuan untuk memikirkan berbagai macam ide, yang entah bagaimana caranya bisa terhubung dengan satu masalah atau topik utama. Ini cenderung didukung pemikiran intuitif yang cepat dan otomatis. Selanjutnya, Anda membutuhkan ‘pemikiran konvergen’ untuk membantu mengevaluasi ide-ide apakah ada manfaatnya bagi masalah atau topik utama, atau tidak. Proses ini didukung ‘pemikiran analitis’ yang biasanya lebih lambat dan disengaja. Dua fase ini memungkinkan Anda memilih ide yang tepat untuk masalah atau topik utama yang Anda hadapi.

Jadi, jika Anda ingin membikin karya besar, silakan mengadakan banyak sesi brainstorming dengan teman-teman atau ambil kursus berpikir kreatif atau kursus menulis, sehingga dapat membantu Anda menemukan ide-ide baru.

Setelah mendapatkan banyak ide, itu saja tidak selalu bisa membantu Anda memilih suatu ide yang bagus. Sejumkah penelitian ilmiah menunjukkan, persyaratan utama yang sebenarnya adalah paparan dan pengalaman. Semakin lama Anda bekerja dan berpikir tentang suatu hal, semakin banyak Anda mendapatkan pembelajaran, dan –yang terpenting– berani membuat banyak kesalahan, maka semakin baik Anda secara intuitif dalam menghasilkan ide dan semakin baik secara analitis memilih mana yang tepat.

Karena itu, keberhasilan kreatif tidak begitu banyak bergantung pada ‘merenung’ saja tapi harus banyak bertindak. Sebagaimana dikatakan ahli mikrobiologi Louis Pasteur, “Keberuntungan itu lebih mendukung pikiran yang telah disiapkan.” Bukan hanya untuk sains, ini juga berlaku untuk seni. Pablo Picasso menasihatkan, “Pelajari aturannya seperti seorang profesional, sehingga Anda dapat mematahkannya seperti seniman.”

Imajinasi fantastik
Bagi sejumlah orang, kemampuan untuk sepenuhnya terserap oleh ide adalah kunci untuk menyelesaikan proyek kreatif. Untuk itu, Anda membutuhkan apa yang disebut para ilmuwan sebagai ‘imajinasi fantastis’. Ini semacam khayalan fantasi dan imersi imajinatif. Ini menggambarkan kecenderungan Anda untuk memiliki fantasi yang sangat jelas dan realistis, serta tingkat penyerapan tinggi dalam dunia imajiner.

Namun, mengingat imajinasi fantastis itu bisa menambah waktu Anda untuk melamun dan bisa mengalihkan perhatian Anda dari kewajiban sehari-hari, itu mungkin tidak tampak seperti kemampuan yang diinginkan orang secara awam. Bahkan, ada sisi gelapnya. Imajinasi fantastik seseorang cenderung meningkat sebagai respons terhadap peristiwa traumatis; imaji fantastik bisa menjadi pelarian dari kenyataan. Bukannya jadi orang kreatif, bisa jadi orang lain menganggap Anda ‘gila.’

Tetapi ada juga manfaatnya. Keterlibatan fantasi pada anak-anak ternyata terkait dengan peningkatan imajinasi kreatif, kemampuan naratif, dan pengambilan perspektif. Untuk orang dewasa, ini dapat membantu meningkatkan konsolidasi memori, pemecahan masalah dan perencanaan kreatif.

Anda juga bisa metingkatkan kemampuan ini. Ada hasil penelitian yang menunjukkan, anak-anak yang didorong oleh orang tua untuk berpartisipasi dalam bermain peran atau bermain ‘menjadi diri yang lain’ memiliki tingkat kematangan fantasi lebih tinggi di kemudian hari.

Nah, sekarang tidak pernah terlalu terlambat untuk memulai. Banyak aktor amatir yang terkenal memiliki imajinasi fantastik lebih tinggi.

Imajinasi episodik
‘Imajinasi Episodik’ ini mirip ‘imajinasi fantastis’ tetapi lebih dominan menggunakan detail ingatan yang nyata (episodik) daripada detail imajinatif (semantik) ketika memvisualisasikan peristiwa di mata pikiran.

Ini membantu kita untuk lebih bisa membayangkan masa lalu alternatif dan menarik pelajaran dari situ, atau membayangkan masa depan futuristik dan mempersiapkan diri untuk kondisi itu. Sejumlah penelitian telah dilakukan, dan sejauh ini menunjukkan individu dengan kapasitas lebih tinggi untuk imajinasi visual bisa mengalami lebih banyak detail sensorik ketika membayangkan masa depan mereka.

Banyak buku perbaikan-diri menyarankan orang untuk, “Bayangkan itu, maka kelak itu akan terjadi.” Sebenarnya, kebalikan dari apa yang seharusnya Anda lakukan. Persiapan terbaik untuk masa depan adalah secara paradoks adalah mengimajinasikan proses –bukan hasil– dari peristiwa-peristiwa di masa depan yang Anda inginkan. Ada penelitian yang menunjukkan, ketika siswa membayangkan hasil yang dia inginkan (nilai bagus untuk tes akan datang) justru mengerjakan ujian dan mendapatkan hasil jauh lebih buruk daripada siswa yang membayangkan proses untuk mencapai hasil yang diinginkan (ia membayangkan belajar secara menyeluruh).

Kita semua memiliki kemampuan imajinatif hingga berbagai derajat berbeda. Sulit membayangkan kehidupan ini jika manusia tanpa kemampuan imajinatif. Jadi, meski Anda belum benar-benar memiliki karya besar, teruslah mencoba. Ada banyak rute untuk meningkatkan kreativitas. Bisa lewat bermain, bisa lewat berlatih, dan –jangan lupa– pengalaman menjadi sarana sangat penting, bahkan membuat Anda lebih pintar.

Seperti yang sering dikabarkan, Albert Einstein sendiri pernah berkata, “Tanda sejati bagi kecerdasan bukanlah pengetahuan tetapi imajinasi.”

Facebook Comments

POST A COMMENT.