Kekerasan Pranatal Bikin Balita Jadi Agresif

MEPNews.id – Bunda, jaga diri dan lingkungan baik-baik saat hamil. Usahakan jangan sampai terjadi atau terlibat kekerasan antarpribadi selama kehamilan. Dampaknya bisa panjang terhadap anak. Setidaknya, balita yang ibunya terekspos kekerasan saat kehamilan cenderung menunjukkan sifat agresif dan membangkang.

Sudah banyak penelitian ilmiah berfokus pada dampak negatif dari kekerasan pada masa kehamilan hingga persalinan. Yang terbaru, sebagaimana dikabarkan Janice Wood dalam PsychCentral edisi 20 Agustus 2018, peneliti University of Notre Dame di Amerika Serikat, meneliti dampak jangka pendek dan panjang dari kekerasan prenatal terhadap hasil penyesuaian diri anak di kemudian hari.

Dr. Laura Miller-Graff

Dr. Laura Miller-Graff

“Kami ingin memetakan bagaimana dampak kekerasan mengalir dari waktu ke waktu,” kata Dr. Laura Miller-Graff, asisten profesor psikologi dan studi perdamaian. “Kekerasan pada masa kehamilan bisa terutama menyerang anak-anak melalui pengaruhnya pada ibu.”

“Sejumlah penelitian menunjukkan banyak ibu yang hidup dalam kekerasan rumah tangga memiliki keterampilan mengasuh yang cukup kuat. Tapi, ketika kekerasan mempengaruhi kesehatan mental mereka, keadaannya jadi lebih sulit. Padahal, masa bayi dan balita adalah waktu kunci bagi anak untuk mempelajari beberapa keterampilan pengendalian emosi. Jadi, jika ibu berjuang, anak-anak juga berjuang,” begitu laporan penelitian yang diterbitkan dalam The International Journal of Behavioral Development.

Dampak kekerasan berbahaya selama masa kehamilan sangat besar dan lama, dengan efek yang dapat dilihat pada anak hingga dua tahun. “Kami mengukur perilaku agresif balita di lingkungan rumah. Antara lain menendang dan membangkang, sebagaimana dilaporkan oleh ibu mereka masing-masing,” kata peneliti.

Temuan ini selaras dengan prediksi para peneliti. Namun, yang mengejutkan, peneliti menemukan kekerasan antarpribadi saat kehamilan itu tidak bisa memprediksi perilaku agresif balita terhadap rekan-rekan mereka. Ini menunjukkan banyak anak mampu menunjukkan ketahanan dalam hubungan sosial di luar rumah, kata peneliti.

Ketika Miller-Graff kuliah di pascasarjana, penelitiannya berfokus pada dampak kekerasan pasangan intim (IPV) terhadap anak-anak prasekolah. Ia kemudian tertarik apakah mempelajari fase lebih awal akan lebih efektif; tidak hanya dengan intervensi, tetapi juga dengan pencegahan siklus kekerasan antargenerasi.

“Meski mendukung anak-anak prasekolah korban IPV sangat penting, saya sering merasa sepertinya kita tiba di tempat itu terlalu lambat,” katanya. “Periode kehamilan merupakan titik optimal untuk intervensi. Bukan hanya karena melakukan intervensi sejak dini, tetapi juga karena wanita sering kali terlibat dalam sistem perawatan kesehatan dengan keteraturan terbanyak dalam hidup mereka. Ini memberikan ruang unik di mana risiko yang diemban wanita bertepatan dengan akses mereka ke sistem pendukung. Peluang ini langka.”

Ketika ada kesempatan untuk menempatkan dukungan di tempat bagi wanita hamil yang berisiko, dampak negatif pada anak-anak kemungkinan akan menurun secara signifikan, menurut Miller-Graff. Dia mencatat bahwa salah satu dari banyak aplikasi potensial dari penelitian ini adalah standar skrining yang lebih baik untuk kekerasan selama ujian pranatal.

“Ketika kita dapat melakukan penelitian ini dan melakukannya dengan baik, kita berdiri untuk membuat dampak besar bagi kesehatan ibu dan anak kecil,” katanya. (*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.