Awas Serangan Pasukan Ulat Grayak dari Afrika

MEPNews.id – Belakangan ini, terjadi wabah fall armyworm (FAW alias ulat tentara atau popular disebut ular grayak) di berbagai penjuru dunia. Penelitian terbaru oleh tim gabungan dari University of Exeter di Inggris dan Center of Agriculture and Biosciences International (CABI) mengisyaratkan, sejumlah negara termasuk Cina, Indonesia dan Australia menghadapi ‘ancaman tinggi’ invasi ulat ini.

Spodoptera frugiperda, spesies ngengat (mirip kupu-kupu tapi sayapnya rebah sejajar tubuh) yang ulatnya sangat merusak tanaman, aslinya dari benua Amerika. Tapi telah lama menyebar ke benua Afrika. Baru-baru ini ditemukan di India. Selanjutnya, bisa menyebar ke kawasan benua Asia lainnya hingga benua Australia.

Studi baru University of Exeter dan CABI yang berjudul: “Forecasting the global extent of invasion of the cereal pest Spodoptera frugiperda, the fall armyworm” menunjukkan, kawasan Asia Selatan, Asia Tenggara dan Australia memiliki iklim yang memungkinkan ulat grayak menyerang. Rute perdagangan dan transportasi membuat Australia, Cina, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand menghadapi ancaman tinggi invasi Spodoptera frugiperda dari Afrika.

“Kami menggunakan data tentang bagaimana suhu dan curah hujan mempengaruhi siklus hidup Spodoptera frugiperda,” kata Dr Regan Early, dari Pusat Ekologi dan Konservasi di Kampus Penryn Exeter di Cornwall. “Spesies ini sudah menginvasi dan menyebar ke seluruh kawasan sub-Sahara di Afrika dalam waktu hanya dua tahun.”

“Kami ingin memahami ke mana lagi mereka dapat menginvasi wilayah. Sangat jelas bahwa mereka bisa hidup di Asia Selatan, Asia Tenggara dan sebagian Australia sepanjang tahun. Batas iklim terkuat pada distribusi sepanjang tahun adalah suhu tahunan terdingin dan jumlah hujan di musim hujan.

Ulat-ulat grayak diketahui bisa memakan lebih dari 180 spesies tanaman, termasuk banyak tanaman yang diandalkan manusia. Mereka biasa dalam jumlah besar memakan daun pada malam hari sehingga esoknya tanaman bisa langsung mati. Perkiraan terbaru, dari 20-50% hasil panen jagung di Afrika mengalami kerusakan parah akibat serangan ulat dari spesies ini.

Para ilmuwan meyakini spesies itu menyeberang dari benua Amerika ke enua Afrika lewat transportasi manusia dan barang tanpa sengaja. Maka, para peneliti menyerukan kewaspadaan untuk mencegah invasi ke depan.

“Pencegahan adalah lebih hemat dan lebih mudah daripada kontrol,” kata Dr Roger Day, pimpinan program Action on Invasives CABI. “Namun, pencegahan dan manajemen yang efektif membutuhkan kerjasama dan tindakan internasional.”

“Pemerintah masing-masing negara dapat membatasi pergerakan spesies invasif di kawasan lintas batas dengan cara peraturan dan pemeriksaan karantina yang tepat. Kjuga perlu dengan memastikan rantai pasokan makanan harus mengikuti langkah-langkah yang tepat.”

Facebook Comments

POST A COMMENT.