Mensyukuri Kemerdekaan

Aang Fatihul Islam)*

MEPNews.id —- Waktu berjalan mengelinding begitu cepat hingga tidak terasa sudah tujuh puluh tiga (73) tahun Indonesia merdeka dan alhamdulillah sampai saat ini tetap utuh sebagai Bangsa dan Negara dalam bingkai NKRI. Meskipun masih terdapat kekurangan dalam berbagai bidang, baik pendidikan, ekonomi, politik, budaya dan sebagainya, namun tidak mengurangi rasa syukur kita sebagai Bangsa merdeka yang telah diperjuangkan oleh para pendiri Bangsa dan pejuang kemerdekaan dengan pikiran, tenaga, harta, darah dan bahkan nyawa.
Di Indonesia rasa syukur atas nikmat kemerdekaan diekspresikan dalam berbagai macam kegiatan positif dan unik yang bertemakan kemerdekaan. Mulai dari upacara bendera, do’a bersama, perlombaan dan lain sebagainya dan itu sudah rutin dilakukan dari masa ke masa di berbagai tempat penjuru tanah air. Yang menarik bahkan ada yang sampai melakukan upacara Bendera di beberapa tempat yang tidak lazim dan membentangkan bendera merah putih hinggga berkibar beitu gagah. Ini semua tidak lain adalah sebagi ekspresi rasa syukur rakyat Indonesia yang lahir dalam keadaan Negara sudah merdeka berkat perjuangan para pahlawan Bangsa.
Rasa syukur ini pula yang dicontohkan oleh The Founding Fathers, para pahlawan dan ulama di masa awal-awal kemerdekaan, sebagaimana tercantum secara jelas dalam alenia ketiga Pembukaan UUD 1945: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”
Penggalan UUD Pembukaan UUD ’45 merekam secara jelas kesadaran para pendahulu Bangsa atas nikmat kemerdekaan. Sebab itu, sebagai generasi penerus tentu selayaknya meneladani sikap bijak mereka seiring pesan al-Qur’an dalam Surat Ibrahim ayat : 7:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan ketika Tuhan kalian memberi izin (memberi tahu): “Sungguh andaikan kalian bersyukur atas nikmat, niscaya akan Aku tambahkan kepada kalian; dan bila kalian mengingkarinya maka sungguh azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7)
Merujuk ayat di atas, Ibrahim bin ‘Umar al-Biqa’ (lihat: Ibrahim bin ‘Umar al Biqa’i, Nazm ad Durar fi Tanasub al Ayat wa as Suwar, Dar al Kutub al ‘Ilmiyyah, 1415 H, halaman 172), pakar tafsir asal Syiria, maksud nikmat yang disinggung dalam ayat adalah nikmat keamanan yang harus disyukuri agar semakian bertambah aman. Dalam Nazm ad-Durar (IV/172) terang-terangan al-Biqa’i menuturkan:
لما ذكربنعمة الامن رغبهم فيما يزيدهم ورهبهم مما يزيله
“Ketika Allah telah menyebutkan nikmat keamanan kepada bani Israil (kaum Nabi Musa As), maka Allah menganjurkan perbuatan-perbuatan yang dapat menambahkannya dan memperingatkan mereka dari melakukan hal-hal yang dapat menghilangkannya.”
Dari sini menjadi jelas, bahwa implementasi nyata pengamalan Islam, baik secara personal bagi inividu muslim maupun secara kolektif umat Islam sebagai bagian besar dari elemen Bangsa adalah dengan mensyukuri nikmat aman dan kemerdekaan Bangsa, melakukan berbagai aktifitas yang kontributif bagi kemajuan masyarakat dan Bangsa secara lebih luas sesuai bidangnya.
Terkait dengan nikmat aman, Allah juga telah menyinggungnya secara implisit dalam Surat At-Thin ayat: 3:
وهذا البلد الامين
“Demi kemanan sebuah Bagsa”
Dalam konteks ini makna ayat di atas adalah “Demi ketentraman dan keamanan sebuah Bangsa Indonesia” yang mengindikasikan bahwa para wali songo dan diteruskan oleh ulama pendiri Bangsa ini yang menjadi dasar dalam berjuang adalah menjaga keamanan dan ketentraman sebuah Bangsa dan Negara. Wujudnya adalah dengan cara menjaga Indonesia dari rongrongan penjajahan dan merebut kemerdekaan sehingga menjadi Bangsa yang merdeka. Indonesia yang ‘gemah ripah loh jinawe’ yang karena kesuburan dan keindahannya dibanding Bangsa lain di dunia samapi disebut sebagai ‘penggalan surga’. Surga seakan pernah bocor dan mencipratkan kebocorannya bernama Indonesia. Maka tidak heran ketika sejak dulu hinggga sekarang Indonesia masih menjadi incaran Bangsa-Bangsa. Mulai dari penjajah fisik hingga penjajahan dalam bentuk yang lain di era sekarang.
Konsepsi Negara yang aman (‘baladil amiin’) ini harus terus kita jaga karena itu merupakan konsepsi keberlangsungan NKRI. NKRI merupakan sesuatu yang sudah final dan tidak bisa diganggu gugat, sehingga muncullah slogan ‘NKRI harga mati’.dan Pancasila dari berbagai pihak yang berupaya sekuat tenaga ingin mengganti Pancasila dan UUD 1945 adalah suatu keharusan. Ingat Indonesia dengan dasar Negara Pancasila dan UUD 1945 merupakan kesepakatan para pendiri Bangsa ini yang di dalamnya melindungi semua warna dan keberagaman di Indonesia. Karenanya menjaga pancasila dan NKRI hukumnya adalah wajib. Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk selalu bersyukur menjaga anugerah yang telah diperjuangakn oleh pejuang kemerdekaan dengan cara menjaga Indonesia, NKRI, pancasila dan UUD 1945 dari guncangan berbagai pihak yang mengepung Indonesia dari berbagai sisi. Aamiin.
Penulis merupakan Ketua Lingkar Studi Santri (LISSAN) dan Dosen STKIP PGRI Jombang*

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.