Makna Merdeka dalam Bahasa

Oleh : Dr. Djuwari, M.Hum

MEPNews.id —- Tepat pada Jumat 17 Agustus 2018, kita merayakan hari ulang tahun (HUT) kemerdekaan Republik Indonesia (RI) yang ke 73. Bangsa Indonesia, setelah lahir pada 17 Agustus 1945, kini sudah berusia 73 tahun. Jika rata-rata umur penduduk Indonesia diukur dari usia pensiun, maka untuk PNS Guru 60 tahun, untuk PNS lain 58 tahun. Ini berarti kita suah lahir dalam dua generasi. Generasi X ke generasi Y, dan menyongdong generasi Z.
Ukuran kemerdekan bisa bermacam-macam. Untuk tidak terlalu melebar, mari kita kaji dari definisi khusus kata merdeka dari kamus Cambridge (Cambridge dictionary.com). Kata kemerdekaan, di dalam kamus ini, ada dua makna. Pertama, freedom from being governed by another country. Kedua, the ability to live without being helped or influenced by other people.
Secara literal kemerdakan— arti yang pertama— berarti bangsa ini tidak diperintah/ diatur oleh bangsa lain. Adapun yang kedua, kemerdekaan berarti bangsa ini mampu hidup tanpa bantuan dan dipengaruhi oleh bangsa lain. Dua makna singkat ini— jika kita capai bersama—maka kita bisa dikatakan sebagai bangsa yang sudah merdeka dengan usia 73 tahun. Mantab seklai, jika dua makna itu benar-benar sudah tercapai.
Kita sebagai bangsa berusia 73 tahun, berarti kita sudah memiliki anak dan cucu. Dengan demikian, kita bisa dikatakan bangsa yang suah “maju’ dan “hebat” setelah merdeka di bumi yang sudah lama ini. Namun, merdeka dalam hal ini ada dua makna tadi.
Kalau kemerdekan bermakna tidak diperintah atau diatur bangsa lain (dijajah /penjajahan), maka kita sudah benar-benar merdeka. Kita sudah merdeka sejak 73 tahun lalu. Sebuah perjalanan yang lama dan panjang dalam proses hidup medeka. Selama 73 tahun hidup merdeka dengan program-program kebijakannya. Ini tentunya kita sudah menjadi bangsa hebat.
Namun, benarkah kta sudah tidak diatur oleh bangsa lain? Ini suatu pertanyaan yang memerlukan jawaban jujur. Kita, tidak perlu emosional agar kita sama-sama merenungkan untuk bergerak menuju bangsa yang benar-benar merdeka demi rakyat semua.
Kedua, kemerdekaan yang berarti bangsa ini mampu hidup tanpa bantuan dan dipengaruhi oleh bangsa lain. Makna yang kedua ini erat hubungannya dengan cita-cita Bung Karno, berdiri di atas kaki sendiri. Dalam merenungi makna kemerdekaan yang kedua ini, kita harus jujur pula. Kita harus menepuk dada pelan-pelan sambil merenungkan dalam batin yang dalam. Kemudian, kita berdialog dengan jiwa dan batin kita sendiri, sambil tanya jawab sendiri. Benarkah bangsa ini selama merdeka dari penajajah, sudah mampu hidup tanpa bantuan dan dipengaruhi bangsa lain?
Pada hari ini, Jumat 17 Agustus 2018, adalah HUT kemerdekaan RI yang ke-73 tahun. Tentunya semua rakyat, kaum tua, setengah tua, muda mudi atau remaja bisa merenung bersama-sama. Dengan hanya mengacu dua makna kemerdekaan di atas, kita harus jujur mau menjawab secara ikhlls jujur secara batiniah pula antara memberikan jawaban: Ya, sudah atau Tidak.
Kita tidak perlu emosional. Kita tidak perlu bertengkar. Kita tidak perlu memutar balik dan berargumen. Kita tidak perlu bercerai berai. Mari kita bersama-sama membangun negeri ini sesuai dengan bidang dan kemampuan kita masing-masing. Bukan gegeran. Bukan dengan clometan. Bukan pula dengan hoax-hoax-an. Karena itu semua— bagi kita— terlalu membuang energi dan pikiran. Mari kita bersatu padu, kencang menuju ke tujuan proklamasi kemerdekaan kita.
Artinya, mari kita bawa bangsa ini benar-benar merdeka dengan dua makna itu. Merdeka tidak dijajah. Merdeka tidak terlalu bergantung bantuan bangsa lain. Merdeka tidak mau dipengaruhi termasuk didikte bangsa lain. Berdikari. Berdiri di atas kaki sendiri.

 

Penulis adalah: Pengamat Pendidikan dan Sosial, President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER), dan dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya.

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.