Diet Karbo Rendah atau Tinggi Sama Riskannya

MEPNews.id – Jangan gila-gilaan mengikuti trend advis diet karbohidrat sangat rendah agar lebih sehat. Penelitian terbaru membuktikan, diet rendah karbo dan tinggi karbo sama-sama mengandung risiko kesehatan yang mendekati kematian. Para ahli lebih menyarankan, konsumsi karbohidrat sedang-sedang saja sesuai kebutuhan.

“Diet rendah karbo, yang menggantikan karbohidrat dengan protein atau lemak, memang sangat populer sebagai strategi penurunan berat badan dan peningkatan kesehatan,” kata Dr Sara Seidelmann, peneliti klinis dalam kedokteran kardiovaskular dari Brigham and Women’s Hospital di Boston, pemimpin penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Lancet.

“Namun, data kami menunjukkan diet rendah karbo berbasis hewani, yang lazim di Amerika Utara dan Eropa, terkait dengan rentang hidup lebih pendek secara keseluruhan. Jika mengikuti diet rendah karbohidrat, maka tukarlah kekurangan karbohidrat itu dengan lebih banyak lemak dan protein nabati. Yang ini lebih mungkin meningkatkan kesehatan jangka panjang,” kata Seidelmann dikutip Sarah Boseley untuk The Guardian edisi 16 Agustus 2018.

Para peneliti, berdasarkan data dari delapan studi besar, menemukan makan karbohidrat dalam jumlah sedang adalah yang terbaik untuk masa hidup sehat. Kurang dari 40% atau lebih dari 70% kalori dari karbohidrat bisa membawa risiko kematian lebih tinggi.

Tidak semua diet rendah karbohidrat sama. Orang yang makan lebih banyak daging dan lemak hewani seperti dari domba, ayam, steak, mentega dan keju, memiliki risiko kematian lebih tinggi daripada yang mendapat protein dan lemak nabati seperti dari alpukat, kacang polong dan kacang-kacangan.

Seidelmann, pakar jantung dan gizi, mengatakan kepada Guardian, timnya menerbitkan kerangka kerja substansial untuk menjawab berbagai pertanyaan soal diet. “Nutrisi tinggi memang ada di pikiran semua orang. Tapi, orang juga kebingungan tentang apa yang harus dimakan. Suatu hari, ada penelitian yang menunjukkan karbohidrat tinggi lebih baik. Hari lain, ada penelitian memberi tahu kita bahwa karbohidrat rendah lebih baik.”

Dalam penelitiannya, Seidelmann mengakui eksperimen membandingkan secara langsung diet karbo rendah dan karbo tinggi adalah tidak mungkin karena harus dilakukan bertahun-tahun dan responden penelitian merasa sulit melakukan diet yang sama dalam jangka waktu lama. Maka, timnya melakukan penelitian observasional terhadap lebih dari 15.400 orang, berusia 45 hingga 64 tahun, dari beragam latar belakang sosio-ekonomi dari empat komunitas di Amerika Serikat yang terdaftar dalam risiko atherosclerosis. Para responden itu mengisi kuesioner tentang pola makan pada dua kesempatan dalam rentang enam tahun terpisah. Kondisi kesehatan mereka ditindaklanjuti selama 25 tahun. Faktor-faktor yang mungkin mengubah hasil, antara lain merokok, pendapatan dan diabetes, juga diperhitungkan. Hasil ini dikumpulkan dengan tujuh studi observasi lain di seluruh dunia, yang melibatkan total lebih dari 430.000 orang.

Para peneliti menemukan, orang berusia 50 tahun yang mengonsumsi diet karbo sedang, yakni dengan separo energi dari karbohidrat, memiliki harapan hidup lebih panjang hingga 33 tahun –atau empat tahun lebih lama dibandingkan yang menjalani diet rendah karbo dan satu tahun lebih lama daripada yang diet tinggi karbo.

Para peneliti memang tidak menunjukkan hubungan sebab dan akibat dalam penelitian ini. Namun, mereka menggambarkan, orang-orang yang mengikuti diet tipe Barat sangat membatasi karbohidrat dan sering makan lebih sedikit sayuran, buah, dan biji-bijian tapi lebih banyak protein dan lemak hewani. Padahal, beberapa produk hewani bisa merangsang peradangan, penuaan biologis dan stres oksidatif, yang menjadi faktor berkontribusi terhadap peningkatan risiko kematian. Sebaliknya, diet tinggi karbohidrat lebih umum di negara-negara Asia, di mana orang makan banyak karbohidrat olahan termasuk produk nasi. Karbohidrat olahan ini berkontribusi pada beban glikemik kronis dan hasil metabolisme lebih buruk.

“Temuan ini menemukan satu titik. Terlalu banyak dan terlalu sedikit karbohidrat memang bisa berbahaya. Tapi, yang tak kalah penting adalah jenis lemak, protein, dan karbohidrat yang kita konsumsi,” kata Walter Willett, profesor epidemiologi dan nutrisi di Harvard TH Chan School of Public Health, yang juga mitra penulis penelitian.

“Tidak ada aspek gizi yang begitu panas diperdebatkan di media sosial daripada karbohidrat vs lemak,” kata Catherine Collins, ahli diet di National Health Service jasa pelayanan kesehatan di Inggris Raya. “Kultus makan rendah karbo dan tinggi lemak lebih didasarkan pada gaya hidup dan sedikit bukti ilmiah. Para peminatnya menentang saran dari WHO dan badan kesehatan pemerintah termasuk Public Health England yang merekomendasikan asupan karbohidrat sekitar setengah dari kebutuhan kalori harian.”

Dia menambahkan, temuan tim Dr Seidelmann menimbulkan pertanyaan tentang diet rendah karbohidrat bagi penderita diabetes. “Promosi diet karbohidrat rendah untuk mengelola diabetes mendapatkan banyak perhatian media. Penelitian ini memberikan beberapa balasan untuk debat sepihak ini, dan menambahkan peringatan bagi diet karbohidrat rendah untuk diabetes jangka panjang.”

Dalam komentar di jurnal yang sama, Dr Andrew Mente dan Dr Salim Yusuf dari McMaster University di Kanada, mengatakan tidak mungkin menyisihkan sepenuhnya semua faktor yang bisa menyimpangkan hasil. Tapi yang lebih mendasar dari temuan itu adalah konsumsi logis dan moderat atas karbohidrat cenderung lebih baik daripada diet rendah karbo atau tinggi karbo.

“Nutrisi penting harus dikonsumsi di atas tingkat minimal untuk menghindari defisiensi dan di bawah tingkat maksimal untuk menghindari toksisitas. Pendekatan ini untuk mempertahankan proses fisiologis dan kesehatan. Meskipun karbohidrat secara teknis bukan nutrisi penting (tidak sepenting protein dan lemak), jumlah tertentu mungkin diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energi jangka pendek selama aktivitas fisik,” catat mereka. (*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.