Bersyukur dalam Kemerdekaan

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id —-Merenungi nikmatnya kemerdekaan sebuah negara dari perang dan penjajahan memang tidak harus pada malam hari kemerdekaan. Akan tetapi bagi siapa saja yang melakukan gelar perenungan mensyukuri kemerdekaan NKRI ke 73 di malam hari kemerdekaan 17 Agustus, mohon jangan pernah diguyoni, nanti jadi tidak fokus, dan salah-salah malah tak ada yang merenungi atau mensyukuri rahmat Allah berupa kemerdekaan sebuah negara.

Guyonan itu misalnya: “Harap Anda tahu saudara-saudara, kalau kita mensyukuri rahmat Allah berupa kemerdekaan itu ya setiap saat, setiap hari, setiap detik. Masak setiap hari kita ndak bersyukur bahwa andai negara ini dalam situasi perang dar der dor, maka kita tidak bisa santai-santai berkendaraan, pergi shopping dan kuliner seperti sekarang ini. Termasuk menikmati asyiknya diskusi, mengaji, dan ngopi-ngopi. Masak untuk merenungi gitu saja nunggu malam kemerdekaan…”

Sungguh pun boleh saja mengatakan hal tersebut, tapi sebaiknya dan hendaknya ditahan dalam hati saja, tidak perlu dikeluarkan lewat mulut. Cukup dalam internal pemikiran dan hatinya sendiri saja.

Seseorang dalam sebuah malam perenungan mensyukuri kemerdekaan 73 tahun NKRI membacakan ayat Al- Quran: ya ayyatuhannafsul muthmainnah. Irji’i ila Robbiki rodhiyatan mardhiyyah. Fad-huli fi ibadi. Wad-huli jannati.

“Semoga ruh para perjuang kemerdekaan NKRI ini khusnul khotimah. Tergolong mati syahid dan baik diakhir menjelang ajal wafatnya, serta termasuk para hamba muthmainnah yang dipanggil oleh Allah dalam fad-huli fi ibadi, wad-huli jannati. Masuklah kedalam golongan para hambaKu dan masuklah kedalam surgaKu. Amin ya Robbal alamin,” ucapnya.

“Orang yang telah ikhlas berjuang jiwa raga itu termasuk sudah muthmainnah hatinya. Dia sudah mengikhlaskan segalanya sehingga tenanglah hatinya sungguh pun kelak ia akan mengalami kematian dalam perjuangannya,” ia meneruskan ucapannya.

“Adapun saat ini perjuangan kita berbeda dengan perjuangan para pendahulu bangsa kita ini.” Sampai di kalimat ini, seseorang tersebut berhenti dan diam sebentar. Kemudian dilanjutkannya lagi.

“Marilah kita baca doa Khotmil Quran. Bahwa perjuangan bangsa kita hari ini telah khatam dan selesai. Telah merdeka. Dan besok kita berjuang lagi terus menerus menjaga kemerdekaan. Doa Khotmil Quran ini artinya bagus. Bisa dicari sendiri-sendiri artinya. Allahumarhana bil Quran. Ya Allah rahmatilah kami dengan sebab turunnya Al-Quran ini. Allahummaddzakkirna min huma nasina wa allimna min huma jahilna. Ya Allah dengan cinta kami kepada Al-Quran yang telah Engkau perkenankan untuk turun kemuka bumi ini, ingatkan kami jika kami lupa ya Allah, dan alimkan kami, pandai dan cerdaskan kami jika kami bodoh ya Allah. Karena selain Engkau, selain dengan hidayahMu dan caraMu sendiri dalam menasehati dan mengingatkan, tak satupun manusia hari ini yang bisa dan mau untuk diingatkan, apalagi dipandaikan dan dicerdaskan ya Allah. Dan itu termasuk diriku sendiri. Aku tak bisa diingatkan ya Allah. Hatiku kaku, gelap, bodoh, bebal dan senantiasa merasa paling hebat sendiri ya Allah…”

Kemudian semuanya diajak membacakan doa Khotmil Quran ini. Dengan khusuk dan sangat mengharapkan pertolongan Allah, seseorang ini menangis lahir batin membacakan doa Khotmil Quran ini.

“Mohon maaf saya nggak bisa panjang lebar karena keburu harus pulang terlebih dahulu karena ada acara tengah malam yang mengharuskan saya pulang terlebih dahulu. Jika ada yang kurang atau tak sesuai dengan kelengkapan ilmu dan wacana yang Panjenengan semua harapkan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya tidak bisa mengurai banyak hal. Saya tidak bisa apa-apa. Saya kosong-kosong saja. Mengalir. Hanya mengharapkan pertolongan Allah dan ridho Allah semata. Terimakasih dan saya mohon pamit.” Katanya seraya bersalaman dengan beberapa orang samping kanan kiri, sembari berjalan pulang.

Forum jadi tercengang dan bingung. Sang MC pun segera pegang kedali agar acara bertajuk bersyukur dalam kemerdekaan RI ke 73 ini berjalan normal, cair dan lancar kembali. Akhirul kalam, mohon jangan bertanya sembari ditertawakan: “Apakah ini reportase kemerdekaan karangan hayalan kamu sendiri? Apakah ini belum cukup bukti sebagai indikasi bahwa kamu sebenarnya sangat bernafsu untuk tampil di depan dan menceramahi? Rai-nya kamu itu. Ngopi sana, hahahaha…” (Banyuwangi, 17 Agustus 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.