Mengajar dari Hati Terdalam

tom kolom kecil
Oleh: Teguh W. Utomo
MEPNews.id
– Dalam suatu sesi pelatihan motivasional di Sidoarjo beberapa saat lalu, saya tersentuh dengan penuturan seorang guru yang akan pensiun. Ibu guru tersebut mengisahkan tentang masa awal beliau meniti karir menjadi guru.

Ibu guru mulia ini pernah ditempatkan di sisi timur agak ke utara di pulau Madura. Jangankan pertokoan indah, jalan aspal saja tidak terdapat di sepanjang jalan menuju sekolah dasar tempat mengajar. Di tempat-tempat tertentu, jalannya berobah jadi seperti kubangan kerbau jika musim hujan.

Beruntung, kala itu beliau punya sepeda yang dikirim keluarga dari Jawa. Dengan modal sepeda pancal, beliau menyusuri jalan sepi beralas tanah dan kerikil yang sering berisi genangan air. Sudah bukan hal baru, beliau tiba di sekolah dengan sepeda bergelibat lumpur dan sepatu tidak di kaki tapi dicangking di tangan.

Toh demikian, murid-murid selalu menyambut kedatangannya dengan ceria. Mereka berlarian menyambut gurunya bahkan sebelum sampai di pintu gerbang. Setelah mengucapkan salam, mereka mencium tangan guru lalu berebut membawakan tas ke ruang guru. Sepedanya pun segera mereka tuntun ke tempat parkiran.

Pemandangan semacam itu banyak dijumpai pada zaman dulu. Guru begitu dihormati meski gajinya atau honornya pas-pasan. Guru begitu berwibawa meski tidak mengendarai mobil mengkilat yang cicilannya dari TPP. Guru zaman dulu begitu disayangi karena mengajar dengan keikhlasan dari lubuk hati.

Zaman sekarang tentu beda. Guru tetap figur yang dihormati, namun kadarnya beda dengan zaman dulu. Guru tetap figur yang berwibawa, meski levelnya beda dengan zaman dulu. Guru tetap disayangi, meski bentuknya tidak harus sama seperti dulu.

Satu hal yang membuat kita sangat mengenang guru zaman dulu adalah keikhlasan mengajar dari hati terdalam. Guru tidak cukup hanya mengajar dari kepala, apa lagi hanya dari buku teks, tapi harus mengajar dari hati. Pengajaran terbaik itu tidak sekadar formulaik; tapi yang sangat personal.

Untuk menjadi guru terbaik, kita perlu mengeksplorasi perasaan identitas diri sendiri. Tanya dulu diri sendiri, apa niat terdalam untuk menjadi guru. Eksplorasi diri, apa kelemahan –dan, tentu, kelebihan diri– untuk menjadi guru. Jika tidak bisa memahami diri sendiri, akan susah memahami murid-murid sehingga susah juga untuk konek dengan mereka.

Mari kita belajar dari musisi jazz legendaris Charlie Parker. Mengapa saya pilih music jazz? Dengan tetap menghargai musik dangdut atau musik lainnya, saya ungkapkan musisi jazz itu bisa menyatu dengan alat musik yang dimainkannya. Penyatuan diri itu membuat musisi jazz sangat pintar melakukan improvisasi. Apa pun yang ia lakukan dengan alat musiknya bisa mengasilkan irama indah, enak didengar, dan nyaris tanpa cacat.

Charlie Parker pernah bilang, “If you don’t live it, it won’t come out of your horn.” Jika tidak betul-betul menghayati trumpetnya, itu tidak akan muncul dengan bagus dari suara tiupannya. Jika tidak betul-betul menghayati profesi guru, pengajaran yang baik tidak akan muncul saat kita sudah di depan kelas.

Harus sesempurna itu? Ya, tidak. Sebagai manusia normal, guru tentu sesekali pernah melakukan kekeliruan. Tapi, di situlah letak internalisasi ‘kekeliruan’ dan menyadari kelemahan. Maka, jika melakukan kekeliruan, jika yang dilakukan tidak sesuai yang diidealkan, ya jangan langsung putus asa. Salah satu kesuksesan menjadi guru adalah bisa mengambil hikmah dari kekeliruan itu. Dari dalam hati, perbaiki kesalahan itu untuk menuju diri yang lebih baik.

Penulis adalah:
* praktisi media, aktivis literasi, trainer motivasional
* bisa ditengok di cilukbha@gmail.com, Facebook.com/teguh.w.utomo, Instagram.com@teguh_w_utomo

Facebook Comments

POST A COMMENT.